Mural, Kajian Semiotik dan Sosiologis
Nusantarapedia.net-Mural, Kajian Semiotik dan Sosiologis
Negeri ini sudah cukup banyak menyajikan pertunjukan humor yang begitu menggelikan. Belakangan, juga tak kalah lucunya. Para aparat penegak hukum yang tiba-tiba disibukkan oleh ulah para kreator mural yang menggambar sudut-sudut kota dengan afirmasi berkonten satiris.
Satire-satire tersebut diduga ditujukan untuk para penguasa yang dinilai tak mampu menangani berbagai persoalan negara.
Apa, sih, mural itu? Mural merupakan hasil karya seni berbentuk gambar atau lukisan dengan media dinding atau tembok, dimana lukisan tersebut mengandung pesan tertentu yang ingin disampaikan.
Menengok sejarah, mural sudah muncul sejak tiga puluhan tahun yang lalu sebelum Masehi. Awal kemunculannya adalah karya lukisan menyerupai gua di daerah Lascaux daerah selatan Perancis. Lukisan tersebut dipoles dengan air buah karena belum ada cat.
Perancis memang Negara yang melahirkan karya lukis mural. Pablo Picasso seorang pelukis mural yang paling terkenal saat itu. Mural Pablo menceritakan sebuah peringatan terjadinya peristiwa pengeboman oleh tentara Jerman di sebuah kota kecil.
Mural dan graffiti sama-sama memuat pesan sosial, yang memebedakan, graffiti adalah karya lukis dinding yang hanya berupa huruf yang kreasikan. Sementara mural memuat gambar-gambar obyek dan tulisan. Tak dipungkiri, lukisan pada dinding ini memiliki pengaruh luar biasa dalam memainkan dan mengoreksi kepentingan-kepentingan; sebagai sarana propaganda yang efektif, memobilisasi masyarakat, mengartikulasi harapan-harapan, mengungkapkan kefrustasian, dan mengekspresikan diri.
Mural merupakan metode berkomunikasi visual melalui tanda dan gambar. Analisis semiotika Charles S. Pierce mengungkapkan bahwa tanda atau representamen adalah sesuatu yang bagi seseorang mewakili sesuatu yang lain dalam beberapa hal atau kapasitas. Sesuatu yang lain itu oleh Pierce disebut interpretant. Pierce mengemukakan sebuah tanda atau representamen memiliki “triadik” langsung dengan interpretant dan obyeknya.
Pierce mengatakan penalaran manusia senantiasa dilakukan melalui tanda yang artinya manusia hanya dapat bernalar melalui tanda. Menurut Pierce, semiotic terdiri dari tiga elemen, yakni: tanda (sign), acuan tanda (object), dan penggunaan tanda.
Tanda adalah sesuatu yang yang berbentuk fisik yang dapat ditangkap oleh panca indra manusia dan merupakan sesuatu yang merujuk (merepresentasikan) hal lain di luar tanda itu sendiri.
Squid Game dan Fakta Kemiskinan di Indonesia
Mural adalah tanda yang mengandung pesan mendalam yang merepresentasi sesuatu yang begitu urgen. Sedangkan acuan tanda adalah obyek, yakni isi mural atau pesan itu sendiri. Interpretant atau pengguna tanda adalah konsep pemikiran dari orang yang menggunakan tanda, yakni masyarakat dan sasaran mural dengan berbagai interpretasi, pemahaman dan asumsi tentang mural tersebut.
Nah, mengapa kemudian mural akhir-akhir ini diberedel bahkan kreatornya sampai dicari-cari? Dalam teori sosiologi komunikasi, pembahasan tentang dampak dari komunikasi itu sendiri mmenjadi kajian yang paling utama. Dampak komunikasi simbolik mural ini sangat berpengaruh kuat pada sebagian masyarakat, terlebih bagi pemangku kepentingan. Reaksi tajam berupa penolakan karena (konon katanya) meresahkan.
Kajian sosiologi komunikasi menyoroti melalui teori hypodermic needle atau disebut juga teori peluru. Ibaratnya tembok atau dinding adalah media massa, diibaratkan pula, isi senapan (pesan) langsung mengenai sasaran tanpa perantara. Artinya, pesan yang dikirimkan akan langsung mengenai sasaran. Artinya lagi, mural adalah alat control yang efektif. Ketika asspirasi dibungkam, seni bisa menyampaikan lewat karya yang sarat pesan.
Penghapusan mural dengan dalih mengganggu kenyamanan semakin memperjelas efektivitas karya ini dalam rangka turut serta melakukan upaya kontrol sosial. Tindakan negasif dari para punggawa juga semakin menegaskan bahwa pesan yang disampaikan membawa efek untuk masyarakat. Baik itu berupa efek penerimaan dan penyadaran maupun penolakan dan konflik.
Studi budaya memang lebih menekankan kajian tanda (semiotic) karena tanda memiliki interpretant dengan pemikiran yang kompleks dan berpengaruh dalam dinamika perkembangan cultural study itu sendiri.
Teori interaksionalisme simbolik dengan tokohnya Herbert Blumer memandang bahwa tanggapan dan respon seseorang tidak serta merta muncul kecuali ada proses pemahaman tentang “makna” dari symbol-simbol. Ini yang disebut interpretasi. Jadi dalam proses interaksi manusia stimulus tidak langsung menimbulkan respon. Namun diantarai oleh interprestasi. Proses interpretasi yang menjadi penengah antara stimulus dan respon menempati posisi kunci dalam teori ini.
Digital Virtual, antara Utopia Libertarian dan Evolusi Kapitalisme
Mural adalah stimulus yang diciptakan dengan tujuan mendapat respon atau tanggapan dari pemangku kepentingan. Hal ini diupayakan oleh sebab sudah tidak efektifnya komunikasi verbal rakyat kepada penguasanya. Proses interpretasi terjadi. Banyak pihak yang kemudian baper menganggap mural-mural tersebut meresahkan dan menganggu kenyamanan.
Benar adanya, bagi sebagian kalangan memang mural meresahkan. Resah karena merekapun menyadari rusaknya sistem dan tak mampunya mereka bekerja dengan baik sehingga bisa jadi benar adanya bahwa rakyat sedang kelaparan, rakyat sedang mengharap penegakan hokum yang adil, rakyat sedang menjerit karena kebijakan PPKM, rakyat sedang menderita karena banyaknya pemutusan hubungan kerja, dan sebagainya.
Sebagian kalangan ini tak lain tak bukan adalah para stake holder, decision maker, dan para pemangku kepentingan yang bersentuhan langsung dengan hajat rakyat. Menyadari bahwa rakyat melakukan gerakan, secara psikologis keadaan mental manusia memang secara alamiah akan bereaksi untuk menghindar (run).
Menghindar dari tuduhan dengan cara menghapus mural dan mencari-cari sang creator untuk mendapatkan tindakan teguran. Namun, tak ayal tindakan penghapusan itu justru memantik semangat para seniman untuk membuat mural lebih masif dan berani.
Mural tak bisa serta merta menjamin keberhasilan upaya penyadaran sosial, setidaknya reaksi yang ditimbulkan diharapkan bisa memantik keberanian masyarakat untuk bersuara dengan media apapun. Ayo mural!
(Oleh: Ika Nidaul Haq, disampaikan di forum Ari Ks Center, 1 September 2021)
Rekomendasi
-
Kedatuan Ki Ageng Gribig Jatinom Klaten dalam Historiografi Penyebaran Islam - bag 4
25 Desember 2021, 13:06 WIB -
Squid Game dan Fakta Kemiskinan di Indonesia
15 November 2021, 01:04 WIB -
Tsunami Alat Legitimasi, Ungkap Peristiwa berbasis Geo-Mitologi
15 November 2021, 12:10 WIB -
Masjid Agung Keraton Surakarta
11 Januari 2022, 11:34 WIB -
Pertempuran Surabaya dalam Peristiwa 10 November, Mempengaruhi Opini Dunia
8 November 2021, 13:01 WIB


