Budaya “Katuranggan” para Pria Jawa
Katuranggan adalah ilmu budaya Jawa yang lebih spesifik mengenai sifat kebendaan, baik yang ada pada manusia atau hewan berdasarkan ciri fisiknya.
Lima hal yang wajib dimiliki pria Jawa, dan subur pada era feodalisme;
(1) Wisma (tempat tinggal)
Rumah sebagai tempat berlindung dari ancaman eksternal. Kondisi alam yang berubah-ubah mengharuskan manusia membangun tempat berlindung. Rumah berfungsi sebagai tempat berkumpulnya individu dalam kelompok sosial yang kecil. Seiring kemajuan peradaban, rumah diekspresikan sebagai lambang status sosial. Laki-laki jawa harus mempunyai rumah sebagai bukti kemapanan.
Gairah pria Jawa menempatkan rumah sebagai basis kekuasaan awal bak istana, lengkap sebagai fungsi sosial yang tak lagi privat. Denah dan bagian rumah yang terdiri dari pelataran, pendapa, ndhalem, sampai gedogan (kandang kuda) dan gamelan juga tempat ibadah, bukti kemapanan dan kekuasaan seorang pria Jawa.
(2) Wanita
Salah satu ciri alami dari makhluk hidup bereproduksi. Kebutuhan sexual (biologis) dalam balutan cinta (asmara) adalah hak dari manusia. Ketentraman individu dapat dicari salah satunya dengan hidup berumah tangga. Kodrat manusia yang hidup berpasang-pasangan perlu ikhtiar untuk mewujudkannya agar mengandung cita-cita kebaikan.
Perkawinan oleh dua individu laki-laki dan perempuan mengandung kecocokan sebagai pasangan. Bagaimana strategi didalamnya agar menemukan pasangan hidup yang benar-benar cocog. Para pria Jawa perlu mengetahui sifat watak dan karakter wanita sebelum dipinangnya, hal ini sebagai kiat agar terjadi keselarasan dan keseimbangan dikemudian.
Salah satu untuk mengetahui sifat dan watak wanita dalam interaksi sosial (sesrawungan/kekadangan), dengan mengenali ciri fisiknya sebagai representasi katuranggannya. Dalam hal ini budaya Jawa mendefinisikan sifat dan watak wanita Jawa berdasarkan ciri fisiknya dan tanggal lahirnya, misalnya, karena banyak view untuk mengukur itu.
Kedua hal ini sebagai upaya preventif adanya potensi ancaman alami yang dimaksud dari watak seseorang, sebagai kelebihan dan kekurangan.

Contoh katuranggan wanita;
A. Katuranggan “Kunci Kencana” (kunci emas)
Muka dan dahinya kecil, rambutnya tebal dan lebat. Tubuhnya besar dan panjang, akan tetapi kakinya agak pendek, kulitannya hitam dan tebal. Wanita tipe ini memiliki watak yang baik, piawai urusan ranjang.
B. Katuranggan “Padmasari Leledhang” (bunga seroja bergoyang).
Bentuk wajahnya bulat dan membenam ke dalam, berdahi sempit, mulutnya mungil dan mempunyai bibir tebal. Alis relatif tebal, rona kulitnya kuning kebasah-basahan, payudaranya padat. Pinggul lebar dan kakinya meruncing ke bawah. Wanita bermodel seperti ini cintanya menggelora, banyak membawa rejeki bagi suami.
Menurut kitab primbon Betaljemur Adammakna, sifat watak dan karakter wanita bisa dilihat dari tanggal lahirnya (weton kelahiran lan neptu dino pasaran), misalnya;
A. Minggu (Ahad) Legi
Jujur, baik hati, tidak mudah dipengaruhi orang lain, pandai bergaul dengan teman dan lingkungan, seorang pemberani.
Pandai mencari pekerjaan, banyak godaannya, sering menyimpang atas hasil kerja kerasnya sendiri. Jika mampu mengkontrol segala godaannya, akan mempunyai kehidupan yang mulia dan tidak kekurangan.
B. Kamis Pon
Wataknya keras, berani pada lelakinya, mudah tersinggung namun lebih suka mengalah. Pandai urusan papan dan pangan, pintar mencarinya. Banyak godaan yang menguras financial, perlu belajar manajemen keuangan.
Selain itu, perkawinan yang dilangsungkan berdasarkan ukuran “Bobot-Bibit-Bebet“, bukan dalam upaya menciptakan kekastaan, yang mengkotakkan individu dalam sekat sosial, namun konsep yang dimaksud sebagai kesadaran guna mencari keseimbangan, agar keduabelahpihak tidak ada yang tersakiti, tidak ada perasaan yang “aji-rikuh pekewuh,” dan segala potensi ketidaknyamanan lainnya yang menciptakan masalah dikemudian akibat banyak keperbedaan.
Namun, ada motivasi lain bagi pria Jawa zaman dahulu juga sekarang, meski intensitasnya drastis menurun. Kesempurnaan seorang pria apabila mempunyai banyak wanita dianggap sebagai lambang keperkasaan dan kemakmuran. Tak jarang banyak laki-laki jaman dahulu yang punya istri lebih dari satu, bukan hanya kalangan priyayi, rakyat biasapun banyak yang berpoligami, tak lain sebagai status sosial.