Budaya “Katuranggan” para Pria Jawa

Katuranggan adalah ilmu budaya Jawa yang lebih spesifik mengenai sifat kebendaan, baik yang ada pada manusia atau hewan berdasarkan ciri fisiknya.

18 November 2021, 08:23 WIB

(3) Turangga (Kuda)

Rumah bak istana, istri dimana-mana, belum sempurna bila pria Jawa tidak mempunyai kuda. Kuda tunggangan yang dimaksud sebagai kesempurnaan pria Jawa, selain sebagai alat transportasi guna mobilitas.

Bila mempunyai kuda, seseorang akan dapat menjangkau dunia yang luas, banyak manfaat dari interaksi yang didapat selama bermobilitas dengan kuda. Akibatnya, melahirkan pengalaman yang luas menjadikannya berwawasan.

llmu katuranggan kuda adalah: ilmu yang menyangkut tentang perkudaan, dari hal pemeliharaan, pengobatan, penunggangan dengan ciri-cirinya, serta firasat atau makna daripada tanda-tanda tertentu pada kuda peliharaan.

Ilmu ini dirumuskan menjadi baku berdasarkan literasi;
A. Serat Aswatali (1684), berupa naskah berbentuk tembang/macapat mengenai mantra dan jamu. Mantra yang dimaksud seperti teknik mengendalikan kuda, untuk kuda yang nakal, ketakutan, kuda yang masih muda, mogok, dan lainnya.

B. Kitab-kitab Primbon, tentang perhitungan hari bagi kuda yang berpindah tempat, juga berisi penjelasan tentang hitungan membuat rumah menurut panjangnya, hitungan jumlah usuk, tiang pagar, longkangan, kandang, gedhongan, juga mantra untuk menjinakkan hewan.

C. Katuranggan Kawi Miring (1756), teks yang ditulis dalam tembang gedhe, berisi mengenai penjelasan tentang cara aturan dalam menunggang kuda.

D. Gancaran, terdiri dari banyak gancaran yang pada baris tertentu mengetengahkan tentang ilmu perkudaan.

(4) Kukila (Burung)

Memiliki rumah, wanita dan kuda tunggangan, hampir sempurna bagi pria Jawa sejati. Rasanya belum lengkap tanpa kehadiran burung perkutut yang suaranya sangat menentramkan hati. Aneka burung dalam sangkar yang digantang diseputaran pendapa, sebegitu meningkatkan daya magis si pemilik rumah menjadi semakin agung dan berwibawa.

Sifat dan perilaku burung perkutut yang baik dapat dilihat katuranggannya dengan “ciri mathi” berupa ciri fisik, seperti; bentuk tubuh, warna bulu, paruh, kaki dan juga perfoma saat manggung.

Beberapa ciri mathi pada burung perkutut ;
A. Labuh Geni, perkutut ules bulu kuning kemerahan, condronya; kurang baik dipelihara, pemiliknya sering mendapat rintangan dan menjauhkan rezeki.

B. Bromo Kolo, perkutut dengan kuku jari putih, condronya; kurang baik dipelihara menjauhkan rezeki. Dan masih banyak lagi.

(5) Curiga (Keris/Pusaka)

Masyarakat Jawa terutama para laki-laki, harus mempunyai “piandel” yang diwujudkan dalam keberadaan tosan aji berupa keris, tombak dan senjata lainnya. Kepemilikan senjata, bahkan gamelan, wayang dan properti yang digelar di pendapa sebagai tanda keluhuran status sosial si pemilik rumah.

Piandel yang berarti manifestasi dari kepercayaan dan keyakinan yang diwujudkan dalam benda pusaka. Piandel dalam wujudnya sebagai benda pusaka, sebagai wahana atau simbolisasi yang berisi harapan, doa-doa sebagai tuntunan hidup. Kepercayaan yang dimaksud bukan sebagai kultus yang wajib disembah.

Senjata atau keris yang dimaksud digunakan sebagai spirit tuntunan kehidupan. Keris yang bermaterial padat dan keras terus ditempa dan diasah terus menerus, agar menjadikan pusaka yang bertuah tinggi, demikian juga dengan manusia, perlu mengasah otak sebagai bagian dari kecerdasan spiritual, intelektual dan emosionalnya.

Kesimpulannya, lima hal standart ukuran kesempurnaan pria Jawa harus bertransformasi dalam penafsiran yang dinamis saat ini. Status sosial sebagai kebutuhan penghargaan tetap melekat sebagai ciri alami individu, hanya saja zaman memaksanya untuk lebih efektif dan efisien sebagai kebutuhan pokok, selebihnya dalam batas yang lebih sempit.

Terkait

Terkini