Mimetisme Media

18 Februari 2022, 08:27 WIB

Nusantarapedia.net

Kemunculan banyak artis tak lepas dari media online yang membesarkannya, youtube. Regulasi Youtube yang berkutat pada pelarangan konten kekerasan dan pornografi terkesan belum mengcover hingar bingar dampak buruk dari penyiaran konten itu sendiri.

Pemaknaan pornografi dan kekerasan sendiri memiliki makna subyektif. Bisa jadi konten seronok adegan sensual untuk orang tertentu berdampak biasa saja, tetapi bisa jadi joged biasa ala tiktok sudah menimbulkan efek merangsang bagi viewers.

Begitu juga dengan kekerasan. Tayangan berdarah-darah dirasa biasa saja untuk seseorang, namun kasus penganiayaan bisa membuat orang lain pingsan. Untuk itu aspek-aspek penting yang menjadi unsur sensoring media sosial harus memiliki standar baku yang disepakati. Lebih urgent dari itu ternyata nilai edukasi menjadi aspek penting yang harus menjadi perhatian bagi para kreator.

Miris, dewasa ini kemudahan dan kebebasan berekonomi menggunakan platform digital serta merta membuat masyarakat kemudian mengkomersilkan banyak hal, bahkan segala hal. Bagaimana setiap pekerjaan itu menghasilkan nominal, sehingga akhirnya tanggung jawab edukasi ditinggalkan.

Konten-konten murahan, mengumbar aib, mengumbar kemesraan, sensualitas, mistis tak ayal menjadi komoditas yang menjanjikan. Coba simak, konten-konten di atas menghiasi media sosial dengan penikmat yang luar biasa. Siapa yang diuntungkan? Jelas para kapitalis digital. Masyarakat mendapat hiburan semu. Bisa ditebak bagaimana karakter masyarakat bentukan dari kebiasaan menyaksikan konten-konten sampah.

Pendidikan (harus bisa) berperan mengembalikan anak-anak bangsa pada fitrahnya. Amanah kurikulum 2013 tentang getolnya pembahasan pencapaian banyak karakter hendaknya tak hanya menjadi jargon semata. Sekolah yang dipercaya menjadi kawah candradimuka sepertinya harus segera merumuskan kebijakan dalam hal apa saja instrumen digital benar-benar digunakan untuk menunjang aktivitas belajar, tidak untuk lainnya.

Keluarga juga merupakan entitas kecil dan awal tempat bertumbuh dan kembangnya generasi. Awal sebuah pendidikan bermula dari sini, bagaimana kebiasaan dan pola asuh orang tua, model transfer attitude yang diajarkan orang tua mempengaruhi kecakapannya dalam bersosial. Generasi yang tumbuh normal dengan pendidikan etika dan moral yang cukup dari keluarga, ia akan auto lebih selektif memilih lingkungan dan media aktualisasinya.

Euforia Media

Ambil contoh fenomena tentang Atta Halilintar dengan segala konten di akun media sosialnya, ia adalah kreator Youtube dengan pengikut terbanyak di Asia Tenggara. Selain itu, ia juga termasuk youtuber terkaya peringkat ke-8 dunia.

Banyaknya pengikut, tidak serta merta konten yang diikuti sekian ratus juta subcriber bisa menjadi referensi tontonan ummat. Kehidupan pribadi yang hanya menyuguhkan hingar bingar kemewahan dunia dengan pernak pernik kemesraan dan miskin hikmah, nilai edukasi juga menanggalkan etika penyiaran. Ratusan juta pasang mata masyarakat Indonesia terutama kaum remaja belia menikmati tayangan itu.

Bagaimana dengan media? Ya, media berperan besar terhadap penyiaran konten-konten absurd serupa ini. Yuk, ingat kembali saat KPI melayangkan teguran kepada salah satu stasiun televisi swasta perihal agenda penayangan prosesi lamaran hingga pernikahan Atta Halilintar - Aurel Hermansyah empat hari berturut-turut tanpa jeda.

Sebelumnya, salah satu penolakan keras soal acara lamaran hingga nikahan artis datang dari Koalisi Nasional Reformasi Penyiaran atau KNRP. Secara umum, KNRP menilai bahwa penyiaran lamaran artis tidak memiliki kepentingan publik, oleh karenanya tidak memiliki manfaat. KNRP juga menyentil KPI menyoal penayangan lamaran Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah, karena dianggap telah melanggar Undang-undang penyiaran.

KPI mengakui memang terdapat masalah dalam penyiaran akhir-akhir ini mengenai acara-acara yang kurang mendidik bangsa. Hal itu lah yang menjadi konsen utama KPI, karena penyiaran acara-acara di televisi merupakan agen perubahan dan produk peradaban bahkan media penyiaran sangat menentukan kualitas generasi penerus bangsa.

Diakui atau tidak, adalah momok dan pencapaian yang memang digadang-gadang oleh media. Demi pula kemudian muncul istilah . Istilah tersebut mengacu pada gairah yang tiba-tiba menghinggapi media dan mendorongnya, seperti sangat urgen, bergegas meliput kejadian karena media lain, terutama yang menjadi acuan, menganggapnya penting.(Haryatmoko, 2003).

Kesadaran Diri

Di era globalisasi yang mengarah pada tata laksana digital ini, menjadikan transformasi digital seolah menjadi keharusan yang akhirnya membumi pada semua aspek kehidupan, transformasi nilai-nilai tersaji melalui platform digital yang bisa diakses oleh siapapun.

Kuasa dari pembentukan tata laksana hidup sangat dipengaruhi oleh arus informasi. Bagaimana informasi telah menguasai sendi-sendi kehidupan oleh banyak kalangan, mulai dari organisasi hingga individu, tua muda, bahkan anak-anak sekalipun.

Perlawanan informasi atas kegairahan mimetisme kemediaan sungguh berat untuk dilawan, akhirnya hampir semuanya larut dalam hingar bingar kemediaan dengan aneka kontennya, seolah menjadi afdol bahwa kegairahan media bisa digunakan untuk mendapatkan uang dan ajang eksistensi yang tak berujung dan bias.

Bagaimana tanggung jawab edukasi dan transformasi nilai-nilai kepada masyarakat, tentu saja ini yang harus dibenahi kembali. KPI dan masyarakat sebagai alat kontrol tentu memiliki tugas berat untuk ini mengingat media penyiaran adalah salah satu alat pembentuk karakter anak bangsa.

Perlu kiranya kesadaran diri kita masing-masing, bahwa bebasnya internet dengan platform media sosialnya dan bentuk kemediaan lainnya, secara tidak disadari telah menjadi bagian dari produksi , yang mana setiap orang bertindak sebagai bagian dari kehumasan.

Idealnya, kesadaran tentang arti penting kehumasan dalam produksi penyiaran dengan bentuk dan konten apapun, hendaknya kembali pada ruh tujuan sebagai fungsi informasi dan komunikasi yang bertanggung jawab pada tujuan berbangsa dan bernegara, yaitu turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa, tidak turut serta dalam pembodohan massal.

(disampaikan pada forum Ari Ks Center, 18 April 2021)

Internet Positif, Korelasi Netizen Journalism dan Pengaruh Buruk Medsos
5 Dampak Negatif Kemajuan Teknologi di Bidang Pendidikan dan Kehidupan Sehari-hari

Terkait

Rekomendasi

Terkini