Tawid Di Malam Takbiran

Si Tawid, di pojok Terminal, pada senja dalam alunan gema takbir yang sayup-sayup mulai terdengar, kan berkumandang hingga esok tiba

1 Mei 2022, 23:13 WIB

Nusantarapedia.net — Tawid Di Malam Takbir

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar. Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar. Allāhu akbar wa lillāhil hamdu.

“Allah maha besar, Allah maha besar, Allah maha besar. Tiada tuhan selain Allah. Allah maha besar. Segala puji bagi-Nya.”

“Si Tawid tertegun dalam hati, sedang delapan anaknya di rumah sudah mengantri, berharap ayahnya pulang membawa rejeki.”

Malam takbir (takbiran) suatu tanda berakhirnya ibadah puasa selama satu bulan penuh. bergantinya bulan dari Ramadan ke Syawal. Sungguh malam penuh keberkahan dan kebahagiaan, karena esok hari pergi ke tanah lapang untuk melaksanakan salat idul fitri.

Allah berfirman:
“… hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (puasa) dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.” (Qs. Al Baqarah: 185). Penjelasan dari ayat ini bahwa, ketika orang sudah selesai menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan maka disyariatkan untuk mengagungkan Allah dengan bertakbir.

Riwayat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, oleh Ibn Abi Syaibah: “Nabi keluar rumah menuju lapangan, kemudian beliau bertakbir hingga tiba di lapangan. Beliau tetap bertakbir sampai salat selesai. Setelah menyelesaikan salat, beliau menghentikan takbir. (HR. Ibn Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 5621)

Dari Nafi: “Dulu Ibn Umar bertakbir pada hari id (ketika keluar rumah) sampai beliau tiba di lapangan. Beliau tetap melanjutkan takbir hingga imam datang.” (HR. Al Faryabi dalam Ahkam al Idain)

Dari Muhammad bin Ibrahim (seorang tabi’in), beliau mengatakan: “Dulu Abu Qotadah berangkat menuju lapangan pada hari raya kemudian bertakbir. Beliau terus bertakbir sampai tiba di lapangan.” (Al Faryabi dalam Ahkam al Idain)

Hari kemenangan ini telah tiba, setelah sebulan lamanya umat muslim berhasil menahan hawa nafsu dengan berpuasa dan ikut menyabarkan seluruh anggota tubuhnya dari terbit matahari hingga terbenam.

Sebelumnya, umat muslim menang dalam pertempuran pada Perang Badar yang terjadi pada bulan Ramadan, yang mana jumlah pasukan kaum muslimin jauh lebih sedikit daripada kaum kafir. Namun dengan kuasa Allah SWT, kaum muslimin mampu memenangkan perang tersebut.

Allah pun memberikan hadiah kepada kaum muslimin berupa Idul Fitri. Oleh karena itu, Idul Fitri sebagai momen kemenangan umat muslim dalam Perang Badar melawan kaum kafir.

Makna kemenangan Idul Fitri telah berubah, bukan lagi “berperang” untuk mengalahkan “musuh” suatu kaum, melainkan “berperang” mengalahkan hawa nafsu sendiri.

Idul fitri berasal dari dua kata “id” dan “al-fitri”. Id secara etimologi berasal dari kata aada – ya’uudu, yang artinya kembali. Sedangkan kata ‘id berarti hari raya.

Hari raya terjadi secara berulang-ulang, pada waktu yang sama. kata id merupakan turunan dari kata Al-Adah, yang artinya kebiasaan. sedangkan kata fitri memiliki dua makna yang berbeda menurut beberapa pendapat. Kata fitri bisa berarti “berbuka puasa” dan “suci”.

Kata Fitri yang berarti suci, bersih dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, keburukan berdasarkan dari akar kata fathoro-yafthiru.

Dengan penjelasan etimologi (kata) Idul Fitri di atas, makna Idul Fitri dapat diartikan sebagai hari raya kemenangan, di mana umat muslim merayakannya dengan kembali “buka puasa” atau makan.

Idul Fitri momentum yang baik penuh kemenangan, semakin lengkap dengan melakukan silaturahmi dengan saling memaafkan sesama umat muslim atas kesalahan selama ini yang telah diperbuat.

Lantas kemenangan yang mana lagi, ketika mereka merayakannya dengan aneka kesenangan. punya duit, melimpahnya stok makanan dan jajanan, membeli baju baru, dan pergi berlibur hingga merenovasi rumah. bahkan momen idul fitri sebagai ajang pamer (riya’). Nampaknya, idul fitri dalam pengertian lebaran adalah sebuah tradisi kebudayaan, yang mana berbarengan (dibarengkan) dengan hari besar islam.

Tahukah anda? di pojok senja, saat gema takbir lebaran mulai lamat-lamat menggema, Si Tawid seorang penarik becak, hatinya ketar-ketir di malam takbir?

Delapan anaknya menanti di rumah, berharap banyak bisa merayakan lebaran darinya. seperti kebanyakan anak-anak lainnya, bisa merayakan hari kemenangan berlebaran dengan fasilitas baju baru, android baru, bahkan motor baru. juga setumpuk uang warna biru. Hati Si Tawid haru, menderu sendu.

Tawid, seorang warga kampung Mijen, desa Cibelok kecamatan Taman, Pemalang, menuturkan, jika lebaran kali ini sama seperti lebaran tahun sebelumnya, hanya kata orang di terminal ramai banyak pemudik buat cari tarikan penumpang. tapi kenyataannya, untuk mendapatkan uang 50 ribu saja, Tawid berangkat dari rumahnya jam 7 pagi sampai jam 5 sore, selebihnya masih sangat sepi penumpang.

Si Tawid tertegun dalam hati, sedang delapan anaknya di rumah sudah mengantri, berharap ayahnya pulang membawa rejeki.

Begitulah, Si Tawid, dan mungkin Tawid Tawid yang lain di seluruh Indonesia. Namun demikian, Si Tawid tetaplah sosok yang tegar dan ikhlas, bahwa hidup terus berjalan, harus terus dijalani dengan ikhlas dan kepasrahan, sembari memberikan semangat dan harapan kepada delapan anaknya.

Si Tawid, di pojok Terminal, pada senja dalam alunan gema takbir yang sayup-sayup mulai terdengar, kan berkumandang hingga esok tiba. (Ragil74)

Nafsu Buka Puasa hingga Ajang Pencitraan Amal
Apakah Mereka Berlebaran?
Menjaga Nyala dalam Kerentaan
Rangkaian Spiritual Budaya Jawa, dari Bulan Rejeb hingga Sawal (1)
50+ Tradisi Nusantara di Bulan Sya’ban dan Ramadan (1)

Terkait

Terkini