Belajar Tak Oleng Dari Boger si “Penari Oleng”
Sudah hukum alam, akan muncul pro-kontra di setiap keadaan apapun. Begitu juga kehadiran Boger bersama tariannya. Awal kemunculannya kerap jadi bahan olokan warganet sejagat maya.
Nusantarapedia.net — Belajar Tak Oleng Dari Boger si “Penari Oleng”
Muncul dengan tarian unik dan model rambut eksentrik. Nama Boger viral di medsos. Goyangannya mengundang perhatian ribuan pasang mata warganet. Seakan kobra di hadapan pawang main seruling. Gerakan tariannya bebas tak beraturan. Boger meliuk gemulai. Sesekali ia menopang tubuhnya dengan bertumpu satu kaki, mirip gaya bangau yang galau menunggu ikan santapannya. Tapi Boger tidak seperti itu, justru ia hura dengan gayanya.
“Dari Boger dapat belajar bahwa hukum semesta tak buta. Keberhasilan hanya dapat diraih dengan semangat yang orisinal (baca murni), tak gerah karena dikritik dan tak terbuai sebab dipuja. Hasil tak akan mengkhianati usaha.”
Soal percaya diri jangan ditanya. Ia tetap santai meski tak semua penontonnya memberi sambutan mengenakkan. Tak sedikit orang menyebutnya alay, lebay, norak, kampungan, atau apalah yang bau nyinyir. Tapi si pemilik rambut pencakar langit ini tak alergi dengan kritikan dan celaan orang. Ia tetap santuy beraksi dengan gerakan bebasnya.
Boger makin eksis menampilkan tayangan videonya di medsos. Namanya kian kesohor-menggaung seantero jagad maya. Tak ayal industri hiburan pun mulai penasaran dengan tari kocaknya. Boger menyebut aksinya “Tarian Oleng,” nama yang tak kalah lucu daripada tampilan rambutnya yang mirip-mirip gaya rambut anak punk, tapi Boger tidak sama. Karena sebagian rambut ditata sedemikian rupa menjulang menantang langit. Sebagian lain di sisi telinga dibiarkan menjuntai menunjuk bumi.


Sekarang remaja asal Pamekasan, Madura ini berhasil menjejakan kakinya di panggung studio tivi. Ia tampil disejumlah acara di televisi swasta nasional. Karuan saja wajahnya nongol di layar kaca. Cerita kemunculannya di tv tak lalu hilang. Tarian olengnya masih bisa ditonton kembali di youtube.
Mungkin saja Boger tak memerlukan latihan khusus untuk bisa membawakan tarian yang sekarang menjadi cirinya. Diperhatikan dari gerakannya hanyalah gerakan tak beraturan. Walaupun begitu bukan sesuatu yang gampang memperkenalkan tarian hasil kreasinya di tengah sinisme netizen.
Sebelum memanen ketenaran, ia membayarnya dengan keyakinan yang mantap tentang segala apa yang diberikan orang pada dirinya, cibiran, cela, dan rundungan. Ada banyak pengalaman yang menyertai perjalanannya hingga menggoda acara televisi untuk mengundangnya.
Selain tampilan rambut dan gaya tariannya. Ternyata ada hal menarik dari Boger yang tak dapat dilewatkan begitu saja. Boger menjadi ikonik berhasil dikenal banyak orang bukan karena sertifikat, promosi dan testimoni palsu. Melainkan karena dirinya sanggup bertahan dari hantaman ribuan rundungan yang menghajar dirinya.
Sudah hukum alam, akan muncul pro-kontra di setiap keadaan apapun. Begitu juga kehadiran Boger bersama tariannya. Awal kemunculannya kerap jadi bahan olokan warganet sejagat maya. Bahkan tak sedikit orang mencibir aksinya. Ia menjadi sasaran rundungan netizen. Hebatnya! Boger tak oleng, ia tak geming terus saja melanjutkan aksi tarian olengnya. Boger tidak muntaber lantaran dihujani celaan dan kritikan. Ia juga tak keranjingan berburu sanjungan dan pengakuan.
Baginya menari tetap harus dimainkan sekalipun tak ada orang yang memberi sertifikat sebagai penari. Boger juga tak ambil pusing meskipun tak ada teman yang mempromosikan aksinya. Ia tetap tampil apa adanya, tidak dikemas berlebihan.
Dari Boger dapat belajar bahwa hukum semesta tak buta. Keberhasilan hanya dapat diraih dengan semangat yang orisinal (baca murni), tak gerah karena dikritik dan tak terbuai sebab dipuja. Hasil tak akan mengkhianati usaha.

Bangkalan, Madura 17 April 2022
Hasan Hasir
Dua Pisang, Uang, dan Topeng
The Mask “Orang Baik” Dari Dunia Sampah
Sanjungan Batu Sandungan
Menuju Indonesia Maju dengan Merubah Kultur
Perempuan, Sosok Penanggung Hutang
Rekomendasi
-
Perempuan dalam Interaksi Sosial (Maraknya Budaya Seks Bebas di Era Globalisasi)
30 Maret 2022, 18:30 WIB -
Mengapa Hanya Sehari?
4 April 2022, 13:29 WIB -
Rangkaian Spiritual Budaya Jawa, dari Bulan Rejeb hingga Sawal (1)
1 Maret 2022, 23:43 WIB -
Macapat dalam Medium Garap Penyajian Karawitan
17 November 2021, 12:55 WIB -
Mbah Iko, Penjaga Literasi Kuno
9 Februari 2022, 02:38 WIB