Prabowo “The Special One” Gubernur DKI, Apakah Berlaku Baginya di 2024? (Selamat HUT Gerindra ke-15)

Gerindra oposisi dan Gerindra saat ini berbeda. Bila dahulu sebelum bergabung dengan pemerintah Gerindra/Prabowo selalu menyuarakan tagar "Kedaulatan". Salah satunya adalah "Net Outflow of National Wealth"

6 Februari 2023, 21:36 WIB

Nusantarapedia.net, Jurnal | Polhukam — PrabowoThe Special OneGubernur DKI, Apakah Berlaku Baginya di 2024? (Selamat HUT Gerindra ke-15)

“Artinya Prabowo bicara kedaulatan ekonomi Indonesia. Dan, saat ini yang tidak pernah digaungkan, karena Prabowo sadar bila itu digaungkan tentu kekuatan dunia akan tidak senang, dan Prabowo akan terus dijegal.”

SIAPA yang tak kenal dengan nama Letnan Jenderal TNI (Purn.) H. Prabowo Subianto Djojohadikusumo, pria kelahiran 17 Oktober 1951, adalah anak dari Soemitro Djojohadikusumo, sang begawan ekonomi Indonesia dan tokoh politik Indonesia yang dekat dengan Soekarno dan Soeharto, juga hubungannya yang putus nyambung dengan keduanya (aliran politik) akibat perbedaan cara pandang dalam kepentingan geo-politik dan strategi dalam negeri maupun luar negeri.

Prabowo berdinas aktif di militer selepas lulus AKABRI 1974 hingga 1998 diberhentikan dari kesatuan TNI akibat gejolak politik saat pergantian era Orde Baru ke Reformasi. Setelahnya, Prabowo berada di luar negeri untuk kegiatan bisnis, politik dan aktifitas strategis lainnya. Namun sebelumnya, Prabowo juga anggota dari partai Golongan Karya.

Kemudian, secara mengejutkan Prabowo “come back” dengan mendirikan Partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya) pada 6 Februari 2008 bersama (alm.) Profesor Suhardi, Fadli Zon, Ahmad Muzani, hingga Desmond Junaidi Mahesa yang dulu seteru Prabowo pada kasus penculikan aktivis 1997/1998, yang mana Prabowo dengan Tim Mawar-nya.

Prabowo tidak diragukan lagi akan integritas/nasionalisme-nya terhadap bangsa dan negara. Kecintaan dan loyalitas pada Tanah Air bagai jiwa-jiwa patriot sejati. Prabowo yang lahir di lingkungan yang “perfect” dari semua aspek, menjadikannya tokoh berkaliber internasional. Prabowo dekat dengan faksi kiri dan kanan, tentara merah, hijau juga putih, senafas dengan konsep Tri Sakti Soekarno, juga paham arah kepemimpinan Orde Baru. Artinya, Prabowo mampu berdiri di dua kutub yang berimbang, visioner, cerdas, tegas, penuh kasih, meski nampak gaya feodalnya, seperti khas pemimpin Indonesia lainnya. Gerindra atau Prabowo mewakili aliran nasionalis dan agamis.

Setelah Gerindra berdiri dengan bekal pengalaman Prabowo atas pemikiran dan kiprah politik ala manajemen era Orla-Orba dan Reformasi, juga sentuhan proyeksi pemikiran internasional ala Soemitro, hingga visi politiknya ditakuti oleh kelompok Sekutu (Amerika), pun kandasnya pernikahan Prabowo dengan Titik Soeharto harus terpisah akibat gejolak politik, meski nampaknya “cinta keduanya tak terpisahkan”, membuat Prabowo matang sematang-matangnya. Prabowo sudah merasakan bahagia dan derita perjalanan hidup dalam satu kesatuan sebagai tokoh bangsa atau negarawan yang kemudian (2008) mencoba diseriusi-diperjuangkan ke dalam manifesto partai Gerindra.

Hasilnya, Pemilu pertama Gerindra (2009) meraih 4,64 juta suara, atau 4,46% dari total suara sah nasional (104,05 juta suara), dengan menempatkan 26 wakil di DPR. Kemudian suara Gerindra meningkat tajam menjadi partai terbesar ketiga dan kedua setelah Golkar dan PDIP pada Pemilu 2014 dan 2019 dengan total suara 14,75 juta suara setara 11,81% dan 17,23 juta atau 12,31% dari 129,97 juta suara nasional, dengan perolehan 73 dan 78 kursi DPR. Pendek kata Gerindra termasuk partai yang berhasil dengan tren menanjak.

Terkait

Terkini