Ereksi Suami Gak Tahan Lama, Tapi Susah Diajak Komunikasi? Ini Yang Harus Anda Lakukan! (2)
Nusantarapedia.net | JURNAL, KESEHATAN — Ereksi Suami Gak Tahan Lama, Tapi Susah Diajak Komunikasi? Ini Yang Harus Anda Lakukan! (2)
Benarkah komunikasi adalah solusi?
Apakah solusi dari semua kekacauan itu adalah dengan menyamakan persepsi yang salah satunya dengan mengkomunikasikan dengan pasangan? Wanita menyatakan maunya pada pria, bahwa dia ingin diperlakukan dengan sensasional, dipeluk, foreplay yang lama, menuntut pria bisa bereksi minimal 15 menit sepertinya, jangan ditinggal tidur, tapi membuat dirinya orgasme terlebih dahulu. Sementara pria juga menuntut wanita untuk mau bergantian, melayaninya dengan pwol, mau menuruti keinginannya dan fantasi liarnya. Apakah dengan berkomunikasi benar-benar bisa membangun hubungan seks yang luar biasa?
Mungkin dengan komunikasi pada beberapa orang akan bekerja, namun bagaimana jika yang terjadi justru sebaliknya. Dengan mengkomunikasikan justru pasangan anda merasa rendah diri, merasa gagal, karena merasa selama ini itulah hal terbaik yang bisa dilakukannya. Pria telah berusaha menjaga ereksinya selama mungkin, meski faktanya mereka sudah hebat dalam 3 menit, selebihnya mereka tahan gas pol untuk tidak cepat keluar. Dan dengan entengnya wanita bilang, tidak cukup puas dengan lama ereksi dan pelayanannya.
Begitupun sebaliknya, saat dikomunikasikan justru wanita merasa tersinggung karena suami menginginkan dia menjadi pelacur untuknya. Atau justru malah curiga, suami sering jajan di luar sehingga membandingkan dirinya dengan wanita-wanita jajanannya atau selingkuhannya.
Pria tercipta sebagai pemimpin, penanggungjawab dalam rumah tangganya. Jika suami anda berwatak damai atau plegmatis, tentu kemungkinan besar dia akan mengikuti anda untuk mendamaikan hubungan, namun jika suami anda koleris (tukang ngatur) atau melankolis (perfeksionis) tentu saja tidak mudah mengendalikan mereka. Justru suami akan merasa digurui atau diatur, menganggap kita tidak menghargai, tidak berusaha untuk memperbaiki, justru malah menjauhkan diri dan mengurangi kekerapan hubungan. Karena merasa gagal membahagiakan pasangan. Apalagi melankolis yang menuntut segalanya sempurna, sehingga lebih baik tidak melakukannya dari pada mendapatkan hasil yang tidak sesuai keinginan.
Bagaimana jika dengan mengkomunikasikan justru membuat hubungan menjadi hambar, kedua pasangan saling rendah diri, padahal gairah seksual salah satu pemicunya adalah kepercayaan diri yang tinggi, kehilangan kepercayaan diri, justru akan melemahkan minat seksualnya. Bisa jadi pria akan terlempar dalam jurang perselingkuhan atau jajan, mencari sosok yang bisa menerimnya, menghargainya tanpa banyak tuntutan. Mereka para penjajah seks memang dibayar untuk itu bukan? mau menerima apapun kondisi pasangan seksnya dan melayani gas pol tanpa mengharap imbal balik yang seimbang untuk kepuasannya sendiri kecuali timbal balik uang. Akhirnya posisi kita tergantikan oleh wanita yang kita anggap murahan.