Menunggu Bunda Pulang
Nusantarapedia.net | SASTRA — Menunggu Bunda Pulang
Oleh : Hasan Hasir
HUJAN deras yang mengguyur sejak sore tadi baru saja reda. Udara dingin menusuk tulang, sisa-sisa air hujan masih menetes dari atap rumah sederhana Shanaz dan Linda. Jalan aspal depan rumah mereka masih terendam genangan air setinggi mata kaki orang dewasa. Angin berhembus membawa aroma tanah basah dan daun-daun kering yang terbawa arus air.
Malam semakin kelam. Di bawah kolong langit, bumi manusia mulai senyap. Yang ada hanyalah kegaduhan suara jangkrik, katak, dan hewan malam lainnya. Seakan simfoni nyanyian alam. Gemintang hanya beberapa saja yang tampak dari balik awan.
Di dalam rumah, Shanaz dan Linda duduk termenung di teras. Dua bocah perempuan itu saling berpelukan. Sudah seminggu berlalu sejak Aryati, sang bunda, tak kunjung pulang. Mereka mengawasi setiap jalan yang terhubung ke rumahnya, berharap sosok bunda malam ini datang dan bisa tidur bersama bertiga.
“Kak, kapan bunda pulang? Aku kangen bunda,” bisik Linda, suaranya sedikit bergetar. Pipinya basah oleh air mata.
Shanaz mengusap lembut pipi adiknya, berusaha menyembunyikan rasa sedihnya. “Sabar ya, Dek. Bunda pasti pulang. Kita tunggu saja di sini.”
Hati Shanaz berdesir. Kenapa hidup mereka harus seperti ini? Sudah lama mereka merasakan penderitaan ini. Mereka tak punya kesempatan untuk merasakan hangatnya pelukan bunda dan bapaknya.
Samar-samar Shanaz iri melihat teman sebayanya yang bisa tertawa dalam canda dan diam dalam lelap bersama dekapan orang tua mereka. Sementara Shanaz dan Linda, setiap hari mereka hanya ditemani rasa hampa dan kekhawatiran.
Shanaz teringat pesan bunda yang seringkali terngiang di telinganya. “Kalian harus kuat, ya. Jangan pernah mengeluh. Bunda melakukan ini semua demi masa depan kalian. Percayalah, bunda selalu mencintai kalian.”
Shanaz menelan ludah, air mata yang terbendung akhirnya tumpah. Bagaimana mungkin mereka bisa kuat? Bagaimana mungkin mereka bisa bahagia? Bunda tak pernah cerita apa yang sebenarnya terjadi.
Hanya senyum dan air mata yang selalu menghiasi wajah bunda ketika mereka bertanya ke mana setiap hari bunda pergi, pulang larut malam atau seringkali beberapa hari tak pulang.
Mereka hanya berdua, di rumah kecil yang penuh kenangan. Kebahagiaan masa kecil yang terukir dalam ingatan mereka, kini perlahan memudar. Sejak kecil keduanya dituntut mandiri.