Pengging, Kerajaan Berselubung Misteri, Begini Penjelasannya (2)

23 Desember 2022, 12:51 WIB

4) Periode Mataram Islam, Solo-Yogya/Hindia Belanda
• Mataram Islam 1586-1755
• Solo-Yogya/Hindia Belanda 1755-1949

Keberlangsungan kerajaan Pajang hanya sekejap, Prabu Adiwijaya memerintah Pajang tak lebih dari 18 tahun. Setelahnya, Pajang digantikan oleh kerajaan Mataram Islam yang diinisiasi oleh Ki Ageng Pemanahan dan putranya Danang Sutawijaya atau disebut Panembahan Senopati.

Mataram Islam jatuh bangun, dari pusat kerajaannya di Kota Gede dipindahkan ke Kerta, Pleret dan Kartasura, hingga akhirnya Mataram Islam menjadi Surakarta dan Yogyakarta melalui perjanjian Giyanti 1755.

Pada era ini, Pengging kembali muncul, pada awal perpindahan Keraton Kartasura ke Surakarta. Titik baliknya adalah, terhubung oleh pujangga pertama keraton Kasunanan Surakarta, yaitu Yosodipuro I.

Pada era Kartasura, Pengging telah berdiri Pondok Pesantren yang diasuh oleh Kyai Kalifah Syarif dari Bagelen, mempunyai murid bernama Zainal Abidin. Selanjutnya Zainal Abidin diangkat menjadi bupati jaksa di Kartasura pada masa pemerintahan Pakubuwana I (1704-1719) dengan gelar Raden Tumenggung Arya Padmanegara.

Versi lain menyebutkan bahwa Raden Tumenggung Arya Padmanegara adalah Bupati Pekalongan.

Yasadipura I atau Raden Ngabei Yasadipura Tus Pajang, lahir pada 1729, wafat 1803. Yasadipura secara genealogis merupakan keturunan dari Sultan Adiwijaya, pendiri Kerajaan Pajang. Yasadipura adalah anak dari Raden Tumenggung Arya Padmanegara tersebut di atas.

Dengan demikian, meskipun secara institusi Pengging sudah tidak ada lagi, namun banyak tokoh-tokoh yang lahir dari trah Pengging atau berada di Pengging, selain itu, baik oleh kerajaan maupun VOC/Hindia Belanda, Pengging tetap diberikan sedikit kewenangan/kuasa di beberapa bagian tertentu, baik hal budaya maupun pemerintahan.

Karena alur kenasaban berasal dari Pengging, maka Raden Tumenggung Arya Padmanegara dan Yasadipura dimakamkan di Pengging. Padmanegara dimakamkan di sebelah Umbul Kendat, sedangkan Yasadipura I dimakamkan di belakang masjid Ciptomulyo sebelah Umbul Sungsang, begitu juga Yasadipura II juga dimakamkan di pemakaman yang sama.

Selanjutnya, pada masa Raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Sri Paduka Susuhunan Pakubuwono X membangun taman dan pemandian di Pengging. Pakubuwana X berkuasa pada tahun 1893 - 1939. Pada tahun 1893-1905-an Pengging dijadikan tempat peristirahatan raja sebagai kawasan.

Komplek peristirahatan tersebut yang saat ini berupa kompleks Umbul Pengging terdiri dari Umbul Dudo/Jolotundo, Umbul Nganten dan Umbul Ngabean. Kompleks kedua di luar kompleks Umbul Pengging terdiri dari makam Yosodipuro I dan II, masjid Ciptomulyo, Umbul Sungsang dan Alun-alun Pengging. Alun-alun ini sebelum dibuka kembali pada sekitar lima tahun yang lalu, berupa pasar Pengging.

Masjid Ciptomulyo dibangun pada Selasa, 24 Jumadil Akhir 1838 Hijriah atau tepatnya tahun 1905 Masehi.

Nama Ciptomulyo, yang berarti menciptakan kemuliaan di dunia dan akhirat. Bangunan masjid ini menampilkan desain Jawa Mataraman yaitu berbentuk limasan dan menyerupai pendapa.

Selain itu, di Pengging masih terdapat situs makam yang cukup disakralkan, yaitu makam Empu Supo. Empu Supo adalah suami dari Dewi Rasawulan adik Sunan Kalijaga. Bernama empu karena ahli membuat keris. Sejumlah karyanya yaitu, Keris Kiai Nagasasra, Kiai Sengkelat, dan Kiai Carubuk. Empu Supo hidup pada era akhir Majapahit hingga periode awal Demak.

Jelas sudah alurnya, bahwa Pengging adalah kerajaan yang secara institusi tidak berlangsung lama, tetapi Pengging adalah tempat para pembesar kerajaan dilahirkan, dibesarkan dan dikebumikan. Meskipun Pengging bukan poros kekuasaan, namun Pengging telah dimuliakan sebagai poros spiritual oleh kekuasaan dari masa ke masa.

Terkait

Terkini