Candikala dan Lingkaran Mitosnya
Senjakala, biasa simbah putri saya menyebutnya candik ala. Ingat benar bagaimana titahnya mengurai panjang jika para cucunya belum terlihat, sementara candik ala mulai mengintai dari ufuk jauh.
Nusantarapedia.net, Jurnal, Iptek — Candikala dan Lingkaran Mitosnya
“Candik ala, wujudnya tidak seburuk namanya. Justru sebaliknya. Siluet kuning, oren kehitaman di langit seperti arak-arakan pasukan senja. Indah sekali meski agak menyilaukan jika dipandang lekat.”
“Mereka meyakini candikala adalah momen atau waktu yang ala atau buruk. Menurut kepercayaan mereka, waktu candikala itu waktunya setan keluar dari peraduannya.”

Senjakala telah berpendar, mengganti arak-arakan awan sesiang dalam tenggernya yang sahaja. Waktunya pulang. Dalam peluk temaram yang kian mengelam. Membunuh peluh dan lelah yang membuncah.
Senjakala, biasa simbah putri saya menyebutnya candik ala. Ingat benar bagaimana titahnya mengurai panjang jika para cucunya belum terlihat, sementara candik ala mulai mengintai dari ufuk jauh. Candik ala, wujudnya tidak seburuk namanya. Justru sebaliknya. Siluet kuning, oren kehitaman di langit seperti arak-arakan pasukan senja. Indah sekali meski agak menyilaukan jika dipandang lekat.
Ya, candik ala atau senjakala atau candikala adalah kondisi matahari menjelang tenggelam di ufuk barat. Paduan warna kuning, jingga dan kehitaman berarak menghias langit. Sangat indah namun terkesan mistis. Suasana waktu senjakala ini udara berubah menjadi dingin dan lembab.
“Jika masuk awal malam atau memasuki waktu sore maka tahanlah anak-anak kalian karena setan sedang berkeliaran pada saat itu.”
Dalam bukunya dijelaskan bahwa ketika waktu Maghrib tiba, terjadi perubahan spektrum warna alam selaras dengan frekuensi jin dan iblis, yakni spektrum warna merah. Pada waktu ini, jin dan iblis amat bertenaga karena memiliki resonansi bersamaan dengan warna alam. Pada waktu Maghrib, banyak interfernsi atau tumpang tindihnya dua atau lebih gelombang yang berfrekuensi sama. Sehingga penglihatan terkadang kurang tajam oleh adanya fatamorgana.
Untuk itulah, berdasar beberapa hal di atas, ada baiknya kita mengingat waktu ketika beraktivitas. Ada waktu-waktu produktif ada pula waktu-waktu kritis yang mengharuskan kita berhenti sejenak. Terlebih waktu senja adalah waktu pulang dan beristirahat dari banyaknya pekerjaan.

Foto: ©Npj/doc
Episentrum Mataraman dalam Sumbu Imajiner
Primbon Komprehensif, 4 Tingkatan Hari Naas dan Cara Menghitungnya
Budaya Katuranggan para Pria Jawa
Posisi Bercinta Yang Dilarang dan Diperbolehkan, dari Tafsir Agama ke Medis (1)
Candi Barong, Local Content Bangsa Jawa
Kronik Kali Opak, dalam Romantisme, Manajemen Air dan Gempa (1)
Resepsi Budaya Bhairawa Tantra dan Sadranan, hingga Slametan Kendurenan (1)
Rekomendasi
-
32 Daftar Timnas Piala Dunia 2022 Qatar, Grup E dan H Bagai Neraka
16 Juni 2022, 09:35 WIB -
Per-Tahunnya Tersedia 400 Ribu Lapangan Pekerjaan, Sementara 1,2 Juta Lulusan Perguruan Tinggi
10 Juni 2022, 12:30 WIB -
Mobil Listrik, Kelebihan dan Kekurangan Menyambut Transformasi Energi
4 Juni 2022, 10:12 WIB -
Kemunduran Attitude, di Tengah Masifnya Pendidikan Karakter
8 Mei 2022, 14:37 WIB -
Integrasi Pembangunan Kepariwisataan dengan Strategi Kebudayaan (1)
5 Januari 2022, 01:16 WIB -
Kinerja Perhutani Soal Pengelolaan Hutan Di Jawa, Dipertanyakan Slamet
25 Mei 2022, 10:35 WIB -
Masjid Agung Keraton Surakarta
11 Januari 2022, 11:34 WIB -
Wow! Harga Tiket Masuk Candi Borobudur Bakal Naik Untuk Wisdom Rp.750 Ribu
5 Juni 2022, 09:43 WIB -
Lagi-lagi Penimbunan Minyak Goreng di Tolitoli, Sulawesi Tengah.
17 Maret 2022, 21:59 WIB