Adakah Tayangan Sehat untuk Anak?
Apalagi temuan American Psychological Association pada 2005, bahwa hampir semua perilaku buruk anak bersumber dari tayangan tidak bermutu.
Nusantarapedia.net, Jurnal | Pendidikan — Adakah Tayangan Sehat untuk Anak?
“Dunia pertelevisian di Indonesia harus mencerdasan anak bangsa. Industri media hadir sebagai penyangga membangun peradaban anak.”
UNTUK anak, tayangan televisi makin memberikan dampak buruk. Tayangan yang disuguhkan alih-alih memberikan nalar edukatif, bahkan kontraproduktif dengan ide pencerdasan anak Indonesia. Banyak acara televisi yang menampilkan karakter dan kepribadian yang kurang sesuai dengan perkembangan kepribadian anak. Tidak sedikit mengajarkan karakter jahat untuk anak, seperti tawuran, balapan liar, geng-gengan, pacaran, dan kehidupan sesama jenis.
Hal tersebut dapat melahirkan berbagai penyimpangan perilaku anak. Anak-anak yang sering menonton televisi akan menganggap apa yang terjadi di dunia televisi itu dunia senyatanya. Mereka yang sering menonton tayangan film kekerasan akan melihat dunia seperti penuh kekerasan sehingga adanya beberapa sinetron yang menampilkan adegan kekerasan, membuat anak bukannya mencintai kedamaian dan persaudaraan, tetapi yang muncul dari perilaku mereka justru merupakan tindakan destruktif berupa kekerasan dan aksi anarkis yang tragis.
Proses menonton televisi pasti diringi proses imitasi oleh anak terhadap selebritas dalam film. Lalu, anak mencoba dalam pergaulan bebas. Akibatnya, tidak sedikit anak yang berani berpacaran, berbuat senonoh. Bahkan dengan kecanggihan teknologi, mereka dengan bangga mengunggah aksi yang kurang sesuai dengan norma di masyarakat itu ke media sosial.
Akibat lain, mereka terjebak gaya hidup yang berlebihan. Lihat saja sekarang ini banyak sekali anak yang mengikuti gaya hidup sangat mewah dengan pakaian yang wah, telefon pintar yang canggih, makanan yang serbaenak, serta aksesoris kehidupan yang warna-warni.
Apabila hal tersebut terus terjadi, kita prihatin dengan perkembangan kondisi anak yang cenderung menyimpang dari norma masyarakat. Apalagi temuan American Psychological Association pada 2005, bahwa hampir semua perilaku buruk anak bersumber dari tayangan tidak bermutu. Jadi, perlu adanya perlindungan terhadap anak atas tayangan televisi. Pertama, memilihkan acara televisi yang bagus ditonton oleh anak. Orang tua harus dapat memilah-milih tayangan televisi yang bisa membangun pendidikan untuk anak-anaknya. Yakni tayangan film yang mengisahkan semangat belajar tidak kenal lelah, yang menggerakkan perubahan kepribadian, yang menggugah etos persaudaraan, dan yang memberikan inspirasi kreatif dalam mencipta budaya serta karakter dalam diri imajinasi seorang anak.
Pemilihan tayangan yang sehat dan bermutu merupakan keniscayaan di tengah dahsyatnya kejar rating yang dilakukan pihak televisi. Tayangan yang baik adalah yang edukatif. Hal ini bisa dilihat dari bentuk durasinya tidak terlalu panjang, nyaman di telinga dan mata, memperhatikan tone atau tempo musik dari tayangan, dan mengusung nilai positif.
Orang tua harus mampu memberikan penjelasan yang menginterpretasikan kembali adegan yang ada di dalam televisi, mengajak dialog dan berdiskusi agar melatih sikap kritis anak dalam menonton, serta mematikan televisi kalau isi siarannya banyak mengandung unsur kekerasan, seksualitas, dan tidak pantas. Di samping itu, orang tua jangan pelit membelikan film bermutu sehingga anak tidak terjebak dalam tayangan televisi yang tidak menyehatkan.
Pihak sekolah juga harus mampu memberikan tayangan ”tandingan” sehingga anak mempunyai tambahan referensi yang bermutu. Sekolah juga harus mendorong anak membuat tayangan “tandingan” tersebut. Anak diajak menjadi produser, bukan konsumen yang pasif. Dorongan ini sangat penting sehingga anak justru sudah paham sejak dini untuk mengisi tayangan televisi yang tidak menyehatkan, dengan tayangan yang kreatif dan inovatif.
Kedua, dunia pertelevisian harus menyadari kepentingan pendidikan anak jauh lebih penting daripada mengejar setoran industri. Ini bukan berarti mematikan jalannya industri media, melainkan dunia pertelevisian seharusnya meningkatkan kualitas tayangannya sehingga layak ditonton dan dinikmati, khususnya memberikan nilai edukatif yang substantif terhadap dunia anak.
Televisi memiliki suatu potensi strategis dalam membentuk karakter bangsa. Daya jangkau yang sangat luas dengan penetrasi tertinggi (95%) jika dibandingkan dengan media lain membuatnya sangat efektif untuk menyebarkan informasi atau gagasan. Seyogianya tontonan yang ditayangkan harus mampu memberi nilai tambah untuk masyarakat. Televisi bisa berfungsi sebagai ”jendela” masyarakat untuk mengetahui lingkungan di luar dirinya dan mendasarkan informasi tersebut untuk meningkatkan kemakmuran.
Daya jangkau televisi yang dapat ditangkap di berbagai kota sampai pelosok jika siarannya tanpa tanggung jawab sosial, akan menjadi sesuatu yang kontraproduktif. Tanggung jawab sosial media televisi setidaknya harus muncul dalam konteks memberi kemanfaatan untuk masyarakat berupa siaran yang mendidik, kontrol sosial, dan agen pengubah. Utamanya dengan menyiarkan lebih banyak nilai positif yang menginspirasi masyarakat untuk lebih produktif dan berubah ke arah yang lebih baik serta mengembalikan
ruang publik yang nyaman untuk semua.
Ketiga, pemerintah dalam hal ini KPI harus tegas pada kebijakan dan regulasi yang membatasi tayangan yang merugikan anak di Indonesia. Bukan saja tayangan film domestik, melainkan juga film asing yang kerap menampilkan adegan yang tidak sesuai dengan karakter bangsa Indonesia harus dikenai sanksi. Televisi yang sudah membuat banyak pelanggaran, hak siarnya bisa diluruskan, bahkan kalau perlu ditutup sekalian. Pemerintah jangan sampai main mata karena masa depan bangsa adalah yang utama.
Akhir kata, dunia pertelevisian di Indonesia harus mencerdasan anak bangsa. Industri media hadir sebagai penyangga membangun peradaban anak. Jangan sampai media televisi ”memangkas” masa depan anak sebab masa depan bangsa ini ada pada tangan mereka. Semoga!
Tipe Pekerja
Nilai Kepahlawanan untuk Anak
Budaya Mundur Kian Kendur
Buku Iqra’ karya K.H. As’ad Humam, ”Pahlawan Pemberantas Buta Huruf Al-Qur’an”.
Jalan ke Surga