Candi Ijo, Kemegahan Peradaban dalam Eksotisme Bentang Alam
Kerja paksa kah? Di gaji kah? para tukang batu tersebut, hingga tenaga ahli ukirnya. Satu pertanyaan yang kemudian kita berfikir, adakah korelasi kekuasaan dengan kemanusiaan pada jaman Mataram Medang. Ini perlu, agar kita membuka tabir yang sebenarnya, tidak terjebak pada narasi romantisme sejarah dengan kehebatan peradaban masa lalunya.
Nusantarapedia.net, Sleman, Yogyakarta — Candi Ijo, kemegahan peradaban dalam eksotisme bentang alam | Yogyakarta (26/03/2022), foto: ©2022/Npj/asm.
Candi Ijo telah disebut dalam prasasti Poh berangka tahun 906 M. Diperkirakan tahun 850 an candi ini di bangun. Inskripsi dalam prasasti tersebut menyebutkan mengenai anak desa atau orang ijo. Ijo yang dimaksud merujuk pada punggung atau bukit yang bernama Ijo. “… anak wanua i wuang hijo …” Penghubungan kata Ijo tersebut juga merujuk pada bangunan suci, yaitu keberadaan candi tersebut.
“Apakah kemegahan dan keindahan didalamnya seindah harmonisasi tatanan hidup rakyat dalam tata kelola pemerintahan kerajaan. Jangan-jangan, eksploitasi tenaga kerja manusia yang dilakukan oleh kekuasan pada waktu itu telah digunakan untuk ambisi pembangunannya. Ataukah, jalan perang agar menjadikan hegemoni kuasa dengan mengambil manfaat dan keuntungan sumber daya manusianya di semua daerah kerajaan jajahan massiv dilakukan. Ataukah memang sudah dilakukan dengan bentuk tatanan hidup yang ideal.”
Candi ini masih satu kesatuan berada di poros Mataram-Dieng, bersama dengan Candi Barong, Kraton Ratu Boko, Banyunibo dan candi-candi di bawah bukit seperti; Kalasan, Prambanan, Plaosan, Sari, Sambisari, dsb. Berada di periode Mataram zaman Kerajaan Medang.
Terletak di Dukuh Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Berdiri di perbukitan Batur Agung yang merupakan bagian dari pegunungan seribu yang tercecer. Gumuk Ijo tempat berdirinya candi ini berada di ketinggian 425 mdpl.
Situs percandian Ijo seluas 0,8 hektar yang sudah teridentifikasi, namun luasnya lebih dari itu hingga 1,5 ha dengan banyak ditemukannya batu percandian (artefak) oleh warga setempat.
Komplek candi merupakan teras berundak yang mengikuti kontur bukit, saat ini terdapat dua bagian teras yang sudah di petakan. Teras bagian bawah berada di sebelah barat, dengan beberapa candi perwara yang saat ini masih dalam proses pemugaran. Sedangkan candi induk berada di undakan teras atas sebelah timur.
Candi Ijo menghadap ke barat sebagai fungsi candi peribadatan. Merupakan candi bercorak Hindu. Di teras utama berdiri megah candi induk, di depannya terdapat tiga candi perwara yang berhadapan dengan candi induk. Ketiga candi perwara tersebut sebagai perwujudan Tri Murti, untuk memuja Dewa Brahma, Syiwa dan Wisnu. Candi perwara dengan bentuk khas dengan jendela kerawangan berbentuk belah ketupat. Didalamnya terdapat patung Nandi atau lembu Andini sebagai kendaraan Syiwa, berada di candi perwara bagian tengah.
Bangunan induk berdenah persegi empat. Pada pintu utama di barat/depan di apit oleh dua jendela, sedangkan di sisi utara, timur dan selatan terdapat masing-masing tiga jendela. Namun kesemua jendela tersebut merupakan jendela palsu dengan bentuk relung gawang. Palsu yang dimaksud karena tidak tembus, berupa hiasan berbentuk jendela. Masing-masing jendela ditempatkan arca, namun arca sudah tidak diketemukan.
Candi ini sangat kental dengan gaya arsitektur candi hindu. Ragam hias atau langgamnya senafas dengan candi hindu gaya jawa tengahan lainnya. Susunan kala makara yang bertingkat, bentuk kepala kala, kala tanpa rahang bawah, sepasang apsara terbang, motif dan relung dengan bentuk tumbuhan, gambar ular sendok, burung bayan kecil, dsb. Kesemua ragam hiasnya berkaitan dengan makhluk mitologi dan simbol-simbol yang lazim di pakai dalam candi hindu.
Struktur atap candi terdiri dari tiga undakan dengan bentuk semakin ke atas semakin meruncing. Masing-masing undakan berderet bentuk tiga ratna. Antara badan dan atap dengan pahatan hiasan sulur dan makhluk gana dengan pola selang seling dan bentuk dewa setengah badan dengan berbagai posisi tangan.
Candi Ijo, benar-benar megah, megah candinya dengan latar belakang perbukitan Batur Agung yang indah.
Eksotisnya alam yang bercampur dengan megahnya peradaban, seolah membangkitkan kembali angan kita menuju masa lalu.
Apakah kemegahan dan keindahan didalamnya seindah harmonisasi tatanan hidup rakyat dalam tata kelola pemerintahan kerajaan. Jangan-jangan, eksploitasi tenaga kerja manusia yang dilakukan oleh kekuasan pada waktu itu telah digunakan untuk ambisi pembangunannya. Ataukah, jalan perang agar menjadikan hegemoni kuasa dengan mengambil manfaat dan keuntungan sumber daya manusianya di semua daerah kerajaan jajahan massiv dilakukan. Ataukah memang sudah dilakukan dengan bentuk tatanan hidup yang ideal.
Kadang kita tertegun, pada abad ke-8 berapa demografi Mataram Medang hingga mampu membangun bangunan spektakuler tersebut. Dugaannya, banyak rakyat dilibatkan dalam setiap pembangunan candi yang di datangkan dari tenaga impor kerajaan vassal. Tidak mungkin candi tersebut dibangun oleh puluhan orang, setidaknya 1000 orang telah dilibatkan.
Kerja paksa kah? Di gaji kah? para tukang batu tersebut, hingga tenaga ahli ukirnya. Satu pertanyaan yang kemudian kita berfikir, adakah korelasi kekuasaan dengan kemanusiaan pada jaman Mataram Medang. Ini perlu, agar kita membuka tabir yang sebenarnya, tidak terjebak pada narasi romantisme sejarah dengan kehebatan peradaban masa lalunya, tetapi abstrak dalam benang merah pewarisan saat ini.
Ataukah, karena orang dahulu sakti-sakti, cukup meminta bantuan jin untuk membangunnya. Disinilah kadang, kita ditakar kewarasan nalarnya. Kewarasan sosial versus masyarakat ilmiah. Sebesar apapun peradaban manusia, proses dinamikanya tetap dengan pergulatan yang panjang. Itulah manusia.
Nuspedian yang budiman, mari jalan-jalan ke Candi Ijo ya? Nikmati keindahan bentang alam dari atas bukit Ijo sembari terus berfikir, bagaimana batu-batu kali tersebut di bawa ke atas bukit.
Salam Nusantara (asm)
Candi Kalasan, Wujud Toleransi Masa Mataram Kuno
Candi Banyunibo, Simbol Sakralitas Keheningan
Candi Sambisari, Jejak Peradaban yang Terkubur











