Apa Itu Almanak atau Penanggalan Sultan Agungan?
Sultan Agung menginginkan perayaan itu selaras, antara perayaan adat keraton dengan perayaan hari besar Islam. Akhirnya diciptakanlah sistem penanggalan baru yang merupakan perpaduan antara penanggalan Jawa dengan penanggalan Islam.

Nusantarapedia.net, Jurnal | Sejarah - Apa Itu Almanak atau Penanggalan Sultan Agungan?
“Meski demikian, masih ada perbedaan perhitungan antara tahun Jawa dan tahun Hijiriyah. Tiap 120 tahun sekali, akan ada perbedaan satu hari pada kedua sistem penanggalan tersebut. Maka pada saat itu tahun Jawa diberi tambahan satu hari.”
Sultan Agung, raja ke tiga dari kerajaan Mataram Islam. Memerintah dari tahun 1613 hingga 1645. Pada masa itu masyarakat Jawa menggunakan sistem penanggalan saka yang berasal dari India yang perhitungannya berdasar perputaran matahari (solar).
Sementara kalender Hijriyah atau Islam menggunakan perhitungan berdasar perputaran bulan (lunar). Oleh karena itu, perayaan-perayaan adat yang diselenggarakan oleh keraton tidak pernah sejalan/bersamaan dengan perayaan hari-hari besar Islam.
Sultan Agung menginginkan perayaan itu selaras, antara perayaan adat keraton dengan perayaan hari besar Islam. Akhirnya diciptakanlah sistem penanggalan baru yang merupakan perpaduan antara penanggalan Saka dengan penanggalan Islam.
Penanggalan baru hasil perpaduan ini kemudian disebut Penanggalan Jawa atau Penanggalan Sultan Agungan atau Almanak Sultan Agungan. Perhitungan pada kalender baru ini tidak mengubah atau memutus kalender yang lama, hanya meneruskan dan menyesuaikan saja sehingga tidak menimbulkan kekacauan pada masyarakat keraton.

Siklus atau Perhitungan pada Penanggalan Jawa
1. Siklus Harian Tahun Jawa
Siklus harian yang masih dipake hingga saat ini adalah saptawara (siklus tujuh hari) dan pancawara (siklus lima hari). Saptawara atau padinan, terdiri dari Ngahad (Dite), Senen (Soma), Selasa (Anggara), Rebo (Buda), Kemis (Respati), Jemuwah (Sukra), dan Setu (Tumpak).
Siklus tujuh hari ini sewaktu dengan siklus mingguan pada kalender Masehi; Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat,dan Sabtu. Pancawara terdiri dari Kliwon (Kasih), Legi (Manis), Pahing (Jenar), Pon (Palguna), dan Wage (Cemengan).
Pancawara juga biasa disebut sebagai pasaran. Siklus ini dahulu digunakan oleh pedagang untuk membuka pasar sesuai hari pasaran yang ada. Karena itu kini banyak dikenal nama-nama pasar yang menggunakan nama pasaran tersebut, seperti Pasar Kliwon, Pasar Legi, Pasar Pahing, Pasar Pon, dan Pasar Wage.
Selain pancawara dan saptawara, masih ada siklus 6 hari yang disebut sadwara atau paringkelan. Walau kadang masih digunakan dalam pencatatan waktu, paringkelan tidak digunakan dalam menghitung jatuhnya waktu upaca-upacara adat di keraton. Paringkelan terdiri dari Tungle, Aryang, Warungkung, Paningron, Uwas, dan Mawulu.
2. Siklus Bulan Tahun Jawa
kalender Jawa memiliki dua belas bulan. Bulan-bulan tersebut memiliki nama serapan dari bahasa Arab yang disesuaikan dengan lidah Jawa; Sura, Sapar, Mulud,& Bakdamulud, Jumadilawal, Jumadilakhir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Dulkangidah, dan Besar. Umur tiap bulan berselang-seling antara 30 dan 29 hari.
3. Siklus Tahunan Tahun Jawa
Satu tahun dalam kalender Jawa memiliki umur 354 3/8 hari. Untuk itu terdapat siklus delapan tahun yang disebut sebagai windu. Dalam satu windu terdapat delapan tahun yang masing-masing memiliki nama tersendiri; Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir. Tahun Ehe, Dal, dan Jimakir memiliki umur 355 hari dan dikenal sebagai tahun panjang (Taun Wuntu), sedang sisanya 354 hari dikenal sebagai tahun pendek (Taun Wastu). Pada tahun panjang tersebut, bulan Besar sebagai bulan terakhir memiliki umur 30 hari.
Selain itu, terdapat siklus empat windu berumur 32 tahun di mana nama hari, pasaran, tanggal, dan bulan akan tepat berulang atau disebut tumbuk. Keempat windu dalam siklus itu diberi nama Kuntara, Sangara, Sancaya, dan Adi. Tiap windu tersebut memiliki lambang sendiri, Kulawu dan Langkir. Masing-masing lambang berumur 8 tahun, sehingga siklus total dari lambang berumur 16 tahun.
Meski demikian, masih ada perbedaan perhitungan antara tahun Jawa dan tahun Hijiriyah. Tiap 120 tahun sekali, akan ada perbedaan satu hari pada kedua sistem penanggalan tersebut. Maka pada saat itu tahun Jawa diberi tambahan satu hari.
Periode 120 tahun ini disebut dengan khurup. Sampai awal abad 21 ini, telah terdapat empat khurup; Khurup Jumuwah Legi/Amahgi (1555 J - 1627 J/1633 M - 1703 M), Khurup Kemis Kliwon/Amiswon (1627 J - 1747 J/1703 M - 1819 M), Khurup Rebo Wage/Aboge (1867 J - 1987 J/1819 M - 1963 M), dan Khurup Selasa Pon/Asapon (1867 J - 1987 J/1936 M - 2053 M).
Nama khurup yang berlangsung mengacu pada jatuhnya hari pada tanggal 1 bulan Sura tahun Alip. Pada Khurup Asapon, tanggal 1 bulan Sura tahun Alip akan selalu jatuh pada hari Selasa Pon selama kurun waktu 120 tahun.

Berkaitan dengan penanggalan Jawa juga dikenal Wuku, Neptu, Weton, dan primbon.
Wuku adalah bagian dari suatu siklus dalam penanggalan Jawa dan Bali yang berumur tujuh hari (satu pekan). Siklus wuku berumur 30 pekan (210 hari), dan masing-masing wuku memiliki nama tersendiri. Perhitungan wuku (bahasa Jawa: pawukon) masih digunakan di Bali dan Jawa, terutama untuk menentukan “hari baik” dan “hari buruk” serta terkait dengan weton. Wuku juga dibutuhkan untuk menghitung perwatakan seseorang.
Ide dasar perhitungan menurut wuku adalah bertemunya dua hari dalam sistem pancawara (pasaran) dan saptawara (pekan) menjadi satu. Sistem pancawara atau pasaran terdiri dari lima hari, sedangkan sistem saptawara terdiri dari tujuh hari. Dalam satu wuku, pertemuan antara hari pasaran dan hari pekan sudah pasti, misalkan hari Sabtu Pon terjadi dalam wuku Wugu. Menurut kepercayaan tradisional orang Bali dan Jawa, semua hari-hari ini memiliki makna khusus.
Neptu digunakan untuk melihat nilai dari suatu hari. Ada dua macam Neptu, Neptu Dina dan Neptu Pasaran. Neptu Dina adalah angka yang digunakan untuk menandai nilai hari-hari pada saptawara, sedang Neptu Pasaran digunakan untuk menandai nilai hari-hari pada pancawara. Nilai-nilai ini digunakan untuk menghitung baik buruknya hari terkait kegiatan tertentu juga perwatakan seseorang yang lahir pada hari tersebut.
Primbon adalah kitab warisan leluhur Jawa yang berorientasi pada relasi antara kehidupan manusia dan alam semesta. Primbon berfungsi sebagai pedoman untuk menentukan sikap dalam suatu tindakan dalam kehidupan. kitab primbon masih disimpan oleh pemerintah Indonesia dengan pengelolaan koleksi melalui Perpustakaan Nasional. Jenis primbon yang dikoleksi oleh perpustakaan nasional di antaranya Kitab Ta’bir, Primbon Padhukunan Pal-Palan, Mantra Siwastra Raja, dan Lontarak Bola.
Isi primbon jawa sebagian besar berisi bahasan mengenai perhitungan, perkiraan, peramalan nasib, meramal watak manusia, dan yang lainnya. Perhitungan serta ramalan yang beragama itu menggunakan penanggalan atau kalender sebagai dasarnya yang terdiri dari gabungan sedemikian rupa dari hari dan weton. Sejak zaman dahulu, perhitungan waktu dengan menggunakan kalender Jawa sudah digunakan untuk berbagai keperluan, misalnya untuk menentukan waktu bercocok tanam atau acara peringatan.
Weton adalah hari kelahiran. Dalam bahasa Jawa, Wetu bermakna keluar atau lahir, kemudian mendapat akhiran-an yang membentuknya menjadi kata benda. Yang disebut dengan weton adalah gabungan antara hari dan pasaran saat bayi dilahirkan ke dunia. Weton merupakan penggabungan, penyatuan, penghimpunan, dan penjumlahan hari lahir seseorang, yaitu Kliwon, legi, Pahing, Pon, Wage.
Referensi:
KRT Rintaiswara. 2015. Tahun Jawa Islam Sultan Agungan. Yogyakarta: KHP Widyabudaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Lombard, Denys. 2008. Nusa Jawa: Silang Budaya, Bagian II: Jaringan Asia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Geopolitik dan Strategi Sultan Agung Menuju Kejayaan Nusantara di Pentas Dunia (1)
Wangsa Mataram, Cabang Ningrat Baru
Episentrum Mataraman dalam Sumbu Imajiner
Tsunami Alat Legitimasi, Ungkap Peristiwa berbasis Geo-Mitologi
Gunung Sewu dalam Literasi Bumi dan Budaya Mataraman (1)