Candi Barong, “Local Content” Bangsa Jawa

Candi Barong merupakan bagian penyangga pangan untuk memenuhi stok pangan nasional Mataram. Candi Barong bercirikan unsur jawa asli dalam konstruksi spiritnya. Hal tersebut dikuatkan dengan adanya sinkretisme Jawa-Hindu dengan lambang Dewi Sri.

28 Maret 2022, 10:25 WIB

Nusantarapedia.net, Galeri | Panorama — Candi Barong, local content bangsa Jawa | Yogyakarta (26/03/2022), foto: ©2022/Npj/asm.

Candi Barong terletak di Padukuhan Candisari, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Sleman, Yogyakarta.

Berdiri dengan megahnya di atas bukit dengan ketinggian 200 mdpl. Masih satu kesatuan dengan perbukitan Batur Agung yang merupakan bagian ceceran dari pegunungan Seribu.

Candi ini berada dalam kawasan candi-candi yang terletak di perbukitan Batur Agung. Di bawahnya terdapat Candi Banyunibo, di atasnya Candi Ijo, Candi Keraton Ratu Boko, juga situs candi lainnya di sekitar Candi Ijo, yakni; Candi Miri, Candi Dawangsari, Candi Sumberwatu dan Arca Ganesha.

“Pada prasasti Ratu Boko jelas disebutkan bahwa, Dewi Sri disejajarkan dengan Dewi Laksmi, yang mana jelas merupakan sinkretik perpaduan Jawa dan Hindu. Bahkan dua candi induknya yang disebut sebagai Dewa Wisnu dan Dewi Sri, diterjemahkan sebagai korelasi antara kesuburan atau kemakmuran dengan pemeliharaan atau perawatan. Wisnu jelas sebagai dewa pemelihara, Sri sebagai lambang kesejahteraan. Keduanya simbol eksistensi kehidupan manusia yang lestari”

Candi ini dinamakan Candi Barong karena pada bangunan inti terdapat hiasan kala dan makara disetiap relungnya. Kala makara yang dimaksud mirip dengan hewan dalam mitologi Jawa yang disebut “barongan” atau “barong.”

Candi ini bercorak Hindu, eksis pada era Medang periode Mataram. Ada dua bukti kuat menurut keterangan para ahli mengenai Candi Barong.

Pada prasasti Ratu Boko candi ini bernama Sari Suragedug, diceritakan mengenai pembangunan tiga buah lingga bernama Krttiwasalingga, Triyarbakalingga, dan Haralingga oleh raja Sri Kumbaya. Lingga tersebut secara spirit didampingi oleh Dewi Sri, Dewi Suralaksmi, dan Dewi Mahalaksmi. Dari keterangan prasasti tersebut yang dimaksud adalah Candi Barong.

Bukti ke dua didapatkan dalam inskripsi prasasti Pereng berangka tahun 863 M. Dikisahkan bahwa Rakai Walaing Pu Kumbhayoni memberikan sawah dan dua bukit di Tamwahurang. Pemberian tersebut terjadi pada tahun 860 Masehi atau 784 Saka. Candi Barong sebagai fungsi pemujaan diperlukan perawatan dan pembiayaan, maksud diberikannya dua bukit dan sawah tersebut untuk maintenance bangunan tersebut. Bangunan suci yang dimaksud bernama Bhadraloka. Bhadraloka merujuk pada Candi Barong, dugaan para ahli.

Posisi candi menghadap ke arah barat dengan landscape yang dibangun bertingkat atau desain punden berundak. Terdapat empat teras, teras utama dan tertinggi berada di sebelah timur dengan bangunan inti, teras ke tiga berupa tanah lapang yang tidak ada bangunannya, sedangkan teras ke dua dan pertama (satu kesatuan) paling bawah sudah tidak terdapati bangunan, hanya terdapat sisa umpak. Secara garis besar terdapat tiga teras undakan.

Pada teras pertama dan kedua umumnya berupa tangga dengan hiasan candi-candi kecil (perwara), pagar dan struktur dasar berupa pondasi, serta gerbang paduraksa yang fleksibel menurut kebutuhan ditempatkan sebagai gapura pintu gerbang atau gapura batas teras, juga menuju bangunan inti.

Bangunan inti Candi Barong terdapat dua candi sebagai fungsi pemujaan. Dua bangunan tersebut ditujukan kepada Dewa Wisnu dan Dewi Sri. Bangunan inti dengan ukuran sekitar 8,18 m × 8,18 m dengan tinggi 9,05 m. Tidak terdapat cukup space pada bangunan inti, dengan demikian pemujaan yang dilakukan secara berjama’ah (kolosal) dilakukan di teras ke tiga atau di bawah teras tertinggi yang amat luas.

Pada saat pemugaran tahun 1987, banyak ditemukan artefak. Dua arca Dewa Wisnu dan Dewi Sri, Arca Ganesha, peralatan rumah tangga seperti piring mangkuk dari keramik, sendok, guci juga mata panah. Juga beberapa Pripih yang didalamnya terdapat lembaran emas dan perak yang berinskripsi, namun telah rusak.

Candi Barong berbeda dengan umumnya candi di Jawa Tengah-an yang bercorak Hindu dengan sifat Syiwaistis yang memuja Dewa Syiwa melainkan memuja Wisnu. Bila diperhatikan dari denah candi, bangunan induk pada umumnya yang bersifat Syiwaistis berada tepat di tengah-tengah area. Tetapi bangunan inti candi ini terletak di bagian ujung timur pada teras paling atas.

Tradisi punden berundak merupakan ekspresi budaya asli Nusantara yang berlangsung sebelum era pra tulisan. Dengan demikian, landscape punden berundak pada Candi Barong bercirikan unsur jawa asli (local genius) dalam konstruksi spiritnya. Hal tersebut dikuatkan dengan adanya sinkretisme Jawa-Hindu dengan lambang Dewi Sri. Jelas, Dewi Sri merupakan dewi kesuburan dalam mitologi Jawa Nusantara.

Candi Barong sebagai pemujaan kepada Dewa Wisnu dan Dewi Sri, menunjukkan sebagai ekspresi asli Jawa benar adanya. Kesimpulan tersebut sangat logis dari penghubungan sumber-sumber yang ada, meskipun secara keseluruhan narasi bercorak Hindu tetap terlihat nyata, karena kekuasaan saat itu jelas dengan kefahaman Hindu dan Buddha secara institusi sebagai simbolisasi dan eksistensi bentuk Kedatuan (Kdatwan).

Berikut analisisnya, bahwa Candi Barong dengan local content Jawa;

1) Landscaping Candi Barong berikut denah dan struktur tata ruang berupa desain punden berundak. Sebagaimana disepakati bahwa, punden berundak merupakan ciri asli bangunan purbakala di Indonesia era Megalitkum-Neolitikum pra Hindu. Buktinya, posisi candi induk tidak berada di tengah denah.

2) Ditemukannya dan disebutkan nama Dewi Sri. Dewi Sri tidak ada dalam mitologi Hindu, merupakan dewi kesuburan atau dewi padi dalam mitologi Nusantara. Kebudayaan Nusantara mempercayai bahwa pembawa kemakmuran tersebut Dewi Sri. Dengan demikian, Dewi Sri erat dalam hubungannya dengan infrastruktur pertanian, seperti sawah, ladang dan air, juga tingkat kesuburan hingga kebutuhan pangan berupa hasil bumi atau padi. Terbukti, Rakai Walaing Pu Kumbhayoni memberikan sawah dan dua bukit, pada prasasti Pereng.

3) Pada prasasti Ratu Boko jelas disebutkan bahwa, Dewi Sri disejajarkan dengan Dewi Laksmi, yang mana jelas merupakan sinkretik perpaduan Jawa dan Hindu. Bahkan dua candi induknya yang disebut sebagai Dewa Wisnu dan Dewi Sri, diterjemahkan sebagai korelasi antara kesuburan atau kemakmuran dengan pemeliharaan atau perawatan. Wisnu jelas sebagai dewa pemelihara, Sri sebagai lambang kesejahteraan. Keduanya simbol eksistensi kehidupan manusia yang lestari.

4) Kawasan di sekitar Candi Barong merupakan kawasan yang subur, tak mengherankan bahwa kawasan Candi Barong merupakan bagian penyangga pangan untuk memenuhi stok pangan nasional Mataram. Hal ini senada dengan yang dilakukan Belanda ketika melakukan perluasan perkebunan di sekitar Candi Barong yang kemudian menemukan keberadaan situs tersebut.

5) Saat penelusuran tim Nusantarapedia.net di lokasi candi, drainase pada komplek candi memang tidak terlalu baik. Namun bukan karena teknik drainasenya yang tidak sempurna, melainkan di sekitar kawasan tersebut dengan kontur tanah yang berair, lembab dan becek. Ini berarti kawasan tersebut cukup adanya ketersediaan pasokan air yang menjadikan lahan subur. Benar saja di kawasan tersebut pada abad ke-8 berupa areal persawahan di atas bukit.

Bagaimana Nuspedian, tertarik mengunjungi Candi Barong? silahkan buktikan keindahannya, dan htm-nya gartis, loh, ya! (asm)

Candi Ijo, Kemegahan Peradaban dalam Eksotisme Bentang Alam
Candi Kedulan, 13 Kali Tertimbun Erupsi
Candi Merak, Jejak Peradaban Hindu di Klaten

Terkait

Terkini