Candi Sambisari, Jejak Peradaban yang Terkubur
Oleh dahsyatnya muntahan Gunung Merapi diperkirakan abad ke-11 (tahun 1006) yang lalu, akhirnya candi ini terkubur sedalam 6,5 meter. Untuk itulah proses ekskavasi memerlukan waktu yang begitu lama. Dan tidak mengherankan, inilah yang menyebabkan posisi candi menjorok ke bawah dari permukaan tanah di atasnya.
Nusantarapedia.net, Galeri | Panorama, Yogyakarta — Candi Sambisari, jejak peradaban yang terkubur - 12 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta, Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta menyimpan kisah eksotis peradaban Hindu pada masanya dibangun.
Terkubur selama berabad-abad tahun, akhirnya tahun 1966 sebuah candi ditemukan oleh Kartowinangun di tengah persawahan miliknya.
Tak sengaja saat mata cangkulnya mematuk sebuah batu keras. Hingga ia sadar batu tersebut bercorak. Berita sampai ke telinga pemangku kepentingan. Setelah dilakukan penelitian ditemukan bahwa potongan batu bercorak tersebut merupakan bagian dari komponen candi. Dinas Kepurbakalaan Yogyakarta akhirnya melakukan ekskavasi lanjut.

Ya, candi itu bernama Candi Sambisari. Penamaan candi sesuai dengan tempat ditemukannya. Perlu waktu yang tak singkat untuk melakukan ekskavasi hingga merekonstruksi bangunan candi. Kurang lebih 24 tahun, kegagahan Candi Sambisari akhirnya terpampang nyata.
Oleh dahsyatnya muntahan Gunung Merapi diperkirakan abad ke-11 (tahun 1006) yang lalu, akhirnya candi ini terkubur sedalam 6,5 meter. Untuk itulah proses ekskavasi memerlukan waktu yang begitu lama. Dan tidak mengherankan, inilah yang menyebabkan posisi candi menjorok ke bawah dari permukaan tanah di atasnya.
Di kompleks Candi Sambisari bertenggerlah satu candi utama dan tiga candi perwara (pendamping) serta delapan lingga patok yang membentuk arah mata angin. Terdapat arca Dewi Durga dengan delapan tangan menggenggam senjata, arca Ganesha dan arca Agastya. Di sebelah barat terdapat sebuah patung dewa penjaga pintu yaitu Mahakala dan Nandiswara.
Belum diketahui secara pasti kapan candi ini dibangun. Namun, melihat adanya kesamaan corak batu candi, diduga Candi Sambisari dibangun pada 812 - 838 M semasa Candi Prambanan, Sojiwan dan Plaosan. Ini juga didukung penemuan isian candi menggunakan batu padas. Jenis batu ini banyak terdapat di bukit Ratu Boko, Prambanan. Di area itu terlihat bekas-bekas galian batu padas pada masa dulu.
Tentang status kehinduan, sebenarnya candi ini tidak terdapat arca Siwa Mahadewa. Namun, banyaknya lingga dan yoni menggambarkan wujud Dewa Siwa. Kesatuan lingga dan yoni merupakan kesatuan Siwa dan Caktinya.
Di samping lingga terdapat patung Dewi Durga, Ganesha dan Agastya yang merupakan pantheon Hindu. Kesatuan arca-arca tersebut merupakan lambang Siwaistis (Hindu).

Raja yang Membangun Candi Sambisari
Untuk memperkirakan tentang siapa raja yang membangun candi Sambisari harus dicari raja dari dinasti Sailendra yang menganut agama Siwa. Di dalam prasati Wnua Tengah III tahun 908 M, terdapat nama-nama raja dari dinasti Mataram yaitu:
• Rahyang I Hara adik Rahyang ri Mdang (Rakai Mataram sang Ratu Sanjaya) 717-784 M.
• Cri Maharaja Rakai Panangkaran 746-784 M
• Cri Maharaja Rakai Panaraban (panuggalan), 784-803 M
• Cri Maharaja Rakai Warak Dyah Manara, 803-827 M
• Cri Maharaja Rakai Gula, 827-828 M
• Cri Maharaja Rakai Garung, 828-846 M
• Cri Maharaja Rakai Pikatan, 846-855 M
• Cri Maharaja Dyah Tagwas 885 M (Ia yang memerintah selama 8 bulan)
• Cri Maharaja Rakai Panumwangan Dyah Dawendra, 855-887 M
• Cri Maharaja Rakai Garunwangi Dyah Badra, 887 M (ia memerintah selama satu bulan, kemudian meninggalkan kerajaan, selama 8 tahun tidak ada raja yang memerintah, sampai raja berikutnya naik tahta)
• Cri Maharaja Rakai Wungkalmalang Dyah Jbang, 894-898 M – Cri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung, 898 M.
Dari daftar nama-nama raja dalam prasati Wnua Tengah III tersebut di atas yang paling mendekati tahun pendirian candi Sambisari, yaitu Rakai Garung, 828-846 M. Suatu hal yang perlu di ketahui bahwa tidak semua candi dibangun oleh raja yang memerintah.
Penemuan situs candi dan upaya konservasinya bertujuan menyelamatkan asset sejarah dan pengetahuan untuk anak cucu. Sehingga tak mengherankan jika anak mudalah yang kemudian paling wajib melek terhadap hal ini. Dipercayakan melalui institusi pendidikan, pengetahuan sejarah ini disampaikan.
Menjadi anak muda yang kritis dan mencintai riset menjadi keniscayaan di tengah fenomena keterlepasan pengetahuan sejarah yang belakangan kita sadari bak konspirasi.
Demikianlah, tentang Candi Sambisari yang penulis sarikan dari beberapa sumber. Kita bisa mengakses jalan menujunya dengan menuruni ratusan anak tangga yang lumayan curam, tetapi Nuspedian tidak perlu khawatir. Aman., kok.
Untuk menikmati kegagahan candi ini pengunjung cukup membayar tiket masuk sebesar enam ribu rupiah per orang. Murah, bukan?
Candi Banyunibo, Simbol Sakralitas Keheningan
Rumah Domes, Kenangan Gempa Yogyakarta
Candi Sojiwan, How Beautiful Klaten’s Herritage!
Sejarah Klaten
Istana Maimoon, Ikon Kejayaan Medan di Masa Silam