Kyai Raden Santri, Makam Para Aulia di Gunung Pring Magelang
Alkisah, Kyai Raden Santri adalah seorang muslim Champa dari nasab Azmathkan, ulama yang ditugaskan ke Jawa untuk menyebarkan agama Islam. Awalnya menetap di Majapahit selama setahun, kemudian memutuskan untuk kembali ke Champa.
Aulia Yang Dimakamkan
Para aulia tersebut adalah; Kyai Raden Santri, Kyai Krapayak III/Kamaludin, Kyai H. Harun, Nyai Hj. Harun, Anak-anak Kyai-Nyai Harun, Kyai Qowaid Abdullah Sajad, Kyai Gus Jogo Rekso, Nyai Hj. Suratinah Jogo Rekso, Kyai Kerto Jani, Kyai Abdurrachman, Kyai H. Dalhar, dan Kyai Chusain. Tokoh-tokoh tersebut menempati bangunan utama di sebelah timur pada posisi puncak bukit.
Masing-masing nisan para aulia di tutup dengan bangunan dari kayu atau cungkup, namun ada juga nisan yang tidak dicungkup.
Sedangkan di tepi-tepi puncak bukit, tersebar banyak nisan dari para sahabat, pengikut, dan masyarakat, yang mana telah digunakan untuk fungsi pemakaman dari masa ke masa.
Sejarah Pangeran Singasari atau Kyai Raden Santri
Versi Keraton Yogyakarta, Pangeran Singasari atau dikenal dengan Kyai Raden Santri ada sekitar tahun 1611 M. Adalah salah satu putra dari Ki Ageng Pemanahan, ayahanda dari Danang Sutawijaya atau Panembahan Senopati pendiri dinasti Mataram Islam. Mataram menganggap atau menghubungkan bahwa dinasti Mataram adalah keturunan dari Majapahit atau Brawijaya V. Begitu juga Kyai Raden Santri, bila keturunan dari Ki Ageng Pemanahan otomatis juga keturunan Brawijaya V dari jalur kenasaban Bondan Kejawan. Sumber ini perlu diverifikasi lebih lanjut.
Sumber lain yang juga telah melegenda, bahwa Kyai Raden Santri atau Pangeran Singosari nama mudanya, merupakan keturunan dari Prabu Brawijaya V.
Alkisah, Kyai Raden Santri adalah seorang muslim Champa dari nasab Azmathkan, ulama yang ditugaskan ke Jawa untuk menyebarkan agama Islam. Awalnya menetap di Majapahit selama setahun, kemudian memutuskan untuk kembali ke Champa.
Sesampainya di Champa, keadaan kerajaan sudah hancur lebur diambil alih oleh Raja Pelbegu dari Kerajaan Koci. Kemudian, atas saran dari Raja Kertajaya, Kyai Raden Santri agar menetap di Gresik, hingga wafat pada periode tahun 1317 - 1449 Masehi.
Muncul spekulasi, apakah Kyai Raden Santri yang kubur di sini adalah orang yang sama, yang diduga wafat hingga tahun 1449 M di Gresik, ataukah Raden Santri adalah benar keturunan dari Ki Ageng Pemanahan pada era tahun 1560 an era kerajaan Pajang Prabu Adiwijaya (Joko Tingkir). Ataukah Kyai Raden Santri yang dimaksud adalah kelanjutannya yang melakukan syiar dan dakwah Islam sampai di daerah pedalaman Kedu (Magelang). Kemudian, keturunannya atau utusan yang melanjutkan tersebut disebut sebagai Kyai Raden Santri.
Dari penghubungan periodesasi tersebut, wilayah Magelang atau Kedu sebagai basis penyebaran Islam yang salah satunya berada di Gunung Pring disinyalir adanya Pondok Pesantren Darussalam yang berada di Watucongol yang telah diinisiasi oleh tokoh “Kyai Raden Santri” tersebut pada era 1449 atau era Pajang Mataram 1560 an, seperti bukti permulaan bahwa Gunung Pring sudah digunakan untuk basis penyebaran Islam.
Dengan demikian, tidak diketahui secara persis siapa sebenarnya Kyai Raden Santri atau Pangeran Singasari. Yang jelas, setidaknya Pondok Pesantren Watucongol dan basis penyebaran Islam di Gunung Pring sudah dimulai pada periode politik global Islam yang pertama pada periode 1317 hingga 1449, kemudian berganti era hingga keruntuhan Majapahit tahun 1478. Setelahnya, wilayah Gunung Pring sebagai bagian syiar Islam di bawah kekuasaan Demak, Pajang, dan Mataram Islam, hingga kerajaan terakhir yang berkuasa, yaitu Kesultanan Yogyakarta mulai tahun 1756.
Saat ini, Keraton Yogyakarta sebagai kerajaan terakhir yang mengelola komplek makam aulia tersebut menjadi wajar, terlebih jarak antara istana Kesultanan dengan Muntilan Magelang dekat.
Memang minim bukti sejarah dari sumber primer dan sekunder. Rata-rata menjadi spekulasi dan ditetapkan sebagai sumber sejarah berdasarkan penghubungan periodesasi waktu atau masa dan pendapat para ahli.
Hal tersebut, seperti halnya mengungkap jejak sejarah tokoh aulia atau wali di Jawa di beberapa tempat. Seperti yang terjadi di komplek aulia Ki Ageng Gribig Jatinom Klaten, Kedatuan Bayat Klaten, dsb.
Saat ini, dalam konteks kultural, Kyai Raden Santri diyakini sebagai ulama pertama yang menyebarkan Islam di daerah Kedu, khususnya Magelang, hingga akhir hayatnya di makamkan di Gunung Pring. Adalah tokoh yang dihormati sebagai spirit atau panutan bagi masyarakat Jawa.
Datang, ya, Nuspedian, ke komplek makam aulia Gunung Pring untuk berziarah atau bedah sejarah. Dari atas bukit Gunung Pring, kita bisa meninjau kota Muntilan dan hamparan sawah dalam keindahan romantisme peradaban Syailendra, Syeikh Subakir Gunung Tidar hingga kekuasaan Panembahan Senopati Mataram. (Inh)
Foto: ©2022/Inh/Npj
36 Destinasi Wisata Populer di Magelang (1)
10 Fakta Menarik Tentang Magelang, Nomor 10 Semakin Bikin Viral Magelang, yaitu Huruf “S”
Kedatuan Bayat Klaten dalam Sejarah Geologi, Pusat Spiritual dan Inisiasi Industri, Bagian Metroplex Kuno (1)
Kedatuan Ki Ageng Gribig Jatinom Klaten dalam Historiografi Penyebaran Islam (1)
Fatahillah dalam Diskursus Sejarah Kelahiran Kota Jakarta (1)