Mengenal Sosok ”Oga Ngole” Raja Kerajaan Nage di Masa Pemerintahan Hindia Belanda
Setelah berhasil mempersatukan Keo menjadi sebuah kerajaan, Kapten Cristofel meluaskan ekspansinya ke arah wilayah Nage termasuk daerah kekuasaan Oga Ngole
Nusantarapedia.net, Jurnal | Sejarah — Mengenal Sosok ”Oga Ngole” Raja Kerajaan Nage di Masa Pemerintahan Hindia Belanda
“Dengan demikian, pada tahun 1917 Kerajaan Nage terkenal sebagai kerajaan yang berbentuk Zelfbestuur Landschap. Kerajaan Nage di bawah pemimpin Raja Oga Ngole sendiri mendapat legalitas dari pemerintah Hindia Belanda pada 28 November 1917 yang tertuang dalam dokumen Korte Verklaring, No.57.”
OGA Ngole, Raja Kerajaan Nage yang sangat berpengaruh pada masa pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia. Kini kerajaan Nage masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Nagekeo (Boawae), Nusa Tenggara Timur (NTT).
Meski belum diketahui pasti tentang riwayat kelahirannya, akan tetapi berdasarkan cerita keluarga secara turun temurun, Oga Ngole diperkirakan lahir sekitar akhir tahun 1800-an.
Ayahnya bernama Dapa Gu dari Suku Deu dan Ibu bernama Ngole Mola dari Kampung Wudu.
Oga Ngole sendiri memiliki tiga orang saudari yaitu Ine Awi Ngole, Ine To Ngole, dan Ine Doa Ngole.
Selain di Wajo Oja Atu yang saat ini dikenal sebagai kampung Boawae, suku Deu ada di berbagai wilayah seperti Nunukae, Suralaja, Bena, Jerebu’u, Bela dan Mangulewa.
Ia bersama ibu dan ketiga saudarinya ditinggal pergi oleh ayahnya saat usianya masih sangat muda, sehingga Oga Ngole kecil diriwayatkan sebagai seorang anak yatim. Ibunda kemudian menikah lagi dengan seorang laki-laki bernama Teda Sada dan dibesarkan oleh ayah tirinya tersebut di Kampung Jo Wolo yang berada di kaki gunung Ebu Lobo.
Hidup sebagai anak yatim, Oga Ngole kecil tumbuh dewasa sebagai pribadi yang memiliki prinsip hidup yang kuat serta pekerja keras.
Di masa mudanya Oga Ngole menghabiskan waktu sebagai sebagai seorang penjual sirih pinang dan penjual ayam yang kerap keliling kampung. Konon katanya, Oga Ngole dikenal keahliannya sebagai tukang kebiri ayam.
Oga Ngole diriwayatkan sebagai seorang yang sangat lihai berburu di hutan sehingga tidak mengherankan untuk segala taktik gerilyanya. Peperangan antar suku guna memperebutkan tanah dan kekuasaan seringkali terjadi saat itu. Bermodalkan fisik yang kuat dalam bertarung dan pengalaman sebagai seorang prajurit, Oga Ngole muda kerapkali dipergunakan jasanya untuk sewa perang oleh beberapa bangsawan kala itu, khusunya di daerah Mauponggo apabila terjadi perang antar suku.
Akan tetapi berbeda dengan jasa sewa perang seperti orang kebanyakan yang biasanya dihadiahi bidang tanah ketika sudah berhasil menang perang, Oga Ngole justru memilih dihadiahi emas dan orang (manusia).
Dari hasil sebagai tenaga sewa perang, ia memiliki banyak harta dan dikenal akan kebijakannya. Oga Ngole dianggap sebagai orang terpandang baik di Kampung Boawae maupun di mata para koleganya kala itu. Ia memiliki kekuasaan di wilayah Nage. Bermodalkan harta dan kekayaan, Oga Ngole kemudian melakukan ekspansi kekuasaan wilayah ke beberapa tempat.
Meski begitu, dalam usaha melebarkan sayap kekuasaannya, Oga Ngole selalu beraliansi dengan para bangsawan dari berbagai wilayah seperti di Kelewae, ia beraliansi dengan bangsawan Wae, Jata Wulu, kemudian dengan Oga Wona yang masih sanaknya di Nunukae, bangsawan Rowa Rore Jere, bangsawan Wogo Jaja Rade, bangsawan Mangulewa Ngebu Lodo. Kemudian ke arah timur beraliansi dengan bangsawan di Kampung Pautola.
Selanjutnya di wilayah Ndora dengan Mengi Wio hingga bangsawan Toto Ondorea beraliansi dengan bangsawan Toto, Bai Yewa. Oga Ngole juga menjalin hubungan baik dengan bangsawan dari Munde, daerah pantai utara hingga ke wilayah Rendu.
Singkat cerita, sebelum penjajah Belanda datang, Oga Ngole merupakan bangsawan yang memiliki harta melimpah dan kekuasaan mutlak di zamannya.