Study Tour, Jangan (Hanya) Jadi Ajang Piknik Gratisan!

Jika tujuannya meningkatkan kemampuan riset siswa, dengan mengharuskan siswa menyusun laporan penelitian setelah study tour, tentu perjalanan dekat dengan mengunjungi spot-spot lokal sudah sangat mewakili dan lebih dari cukup.

23 Juni 2022, 20:36 WIB

Nusantarapedia.net, Jurnal | Pendidikan — Study Tour, Jangan (Hanya) Jadi Ajang Piknik Gratisan!

“Berkenaan dengan mendukung terlaksananya kegiatan konstruktivisme sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Piaget, maka Pembelajaran Kontekstual berbasis Outing Class dirasa tepat untuk diterapkan.”

“Tak mengherankan jika pada kasus tertentu, kegiatan study tour yang akan diadakan sebuah satuan pendidikan justru menuai polemik dari pihak wali murid. Keterbatasan ekonomi menjadi sebab yang tak bisa disepelekan.”

Kegiatan berbasis outing class tahunan yang dilaksanakan satuan pendidikan di tingkat menengah pertama atau menengah atas adalah Study Tour. Lazimnya pengertian study tour adalah sebuah kegiatan perjalanan yang bertujuan menambah wawasan dan pengetahuan peserta didik. Setelah perjalanan study tour, anak didik diwajibkan membuat laporan atas perjalanan yang sudah dilaksanakan.

Study tour diharapkan menjadi sarana meningkatkan kemampuan riset bagi peserta didik. Juga mengasah kepekaan akan lingkungan sosial yang tak biasa mereka hadapi di lingkungan baru. Dalam pencapaian pendidikan berkarakter, study tour sangat mendukung. Pentingnya belajar di luar kelas adalah melihat kejadian aktual yang bisa menjadi jembatan antara praktik dan teori yang selama ini diajarkan di kelas.

Selain itu tujuan praktisnya adalah menghindari kejenuhan. Selama sepekan belajar di kelas, bertemu orang yang sama, lingkungan yang sama dan mungkin menerima pelajaran yang hampir sama setiap hari akan mengakibatkan kejenuhan.

Keuntungan lain yang bisa didapat dari outing class adalah menumbuhkan jiwa kebersamaan dan solidaritas. Kegiatan outing class biasanya didesain berbasis kerja tim atau kelompok sehingga menuntut kekompakan. Untuk mewujudkan itu diperlukan kesadaran untuk rela berkorban, semangat bergotong royong, dan saling mendukung. Inilah embrio pendidikan berkarakter.

Selain itu outing class juga dapat meningkatkan kemampuan sosial siswa, karena siswa diajak mengunjungi berbagai tempat yang berbeda sehingga akan memberi pengalaman kepada siswa untuk bersosialisasi dengan dunia luar terutama lingkungan luar sekolah, menghargai sejarah dan mengasah kritisisme anak didik.

Di atas adalah beberapa tujuan ideal dari outing class yang dikemas dalam kegiatan kewisataan sekolah atau study tour.

Setiap satuan pendidikan memiliki target pencapaian masing-masing tentang kegiatan yang diadakan. Yang kemudian dikhawatirkan adalah sifat keharusan untuk mengadakan kegiatan study tour ini. Sementara tidak ada aturan baku atau keharusan sekolah mengadakan kegiatan luar sekolah, terlebih dengan jarak yang relatif jauh dan biaya yang mahal.

Jika tujuannya meningkatkan kemampuan riset siswa, dengan mengharuskan siswa menyusun laporan penelitian setelah study tour, tentu perjalanan dekat dengan mengunjungi spot-spot lokal sudah sangat mewakili dan lebih dari cukup.

Keuntungannya adalah menghemat energi, waktu dan biaya. Namun, tak dapat dipungkiri, study tour yang dipahami kini identik dengan perjalanan jauh keluar kota dengan biaya yang tidak sedikit.

Tak mengherankan jika pada kasus tertentu, kegiatan study tour yang akan diadakan sebuah satuan pendidikan justru menuai polemik dari pihak wali murid. Keterbatasan ekonomi menjadi sebab yang tak bisa disepelekan. Kendati siswa diwajibkan menabung, kebutuhan uang saku menjadi bahan pemikiran yang serius oleh sebagian wali murid. Tentu, kondisi semacam ini banyak yang dialami oleh orang tua, terlebih di masa paska pandemi di mana banyak perekonomian masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

Ini perlu menjadi perhatian serius bagi para pendidik dan dinas terkait agar memberi batasan yang tegas bagaimana study tour tetap terlaksana dengan baik, sesuai tujuan idealnya dan tidak memberatkan pihak orang tua. Alih-alih ingin mencerdaskan anak didik, jangan sampai hanya menjadi ajang piknik gratis untuk para tenaga pendidiknya. Tentu ini hal yang sangat tidak etis, mengingat pendidikan adalah institusi resmi yang diamanahkan untuk membentuk generasi anti korupsi. Betul, bukan?

Kurikulum 2013 mengamanahkan pembelajaran pada banyaknya praktik dan outing class. Artinya, outing class adalah metode pembelajaran yang memang harus lazim dan masif digunakan oleh guru. Pada penerapan kurikulum ini, belajar di luar kelas adalah sebuah keniscayaan.

Metode atau pendekatan pembelajaran memegang peranan penting dalam pencapaian tujuan pendidikan. Dalam pembelajaran harus dapat menumbuhkan interaksi antara guru dengan murid sehingga dapat mengembangkan peserta didik yang kritis, kreatif, serta responsive.

Karena itu perlu adanya suatu inovasi pembelajaran yang membawa siswa pada tingkat pemahaman yang lebih, dengan waktu yang cukup, sesuai dengan waktu yang telah dialokasikan untuk satu konsep pembahasan dengan mengimplementasikan suatu pembelajaran yang membantu siswa dalam penanaman konteks atau makna dari materi yang mereka pelajari.

Kemendikbud menyatakan bahwa Pembelajaran Kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkanya dengan situasi dunia nyata siswa yang mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapanya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

Pembelajaran konstektual dirancang dan dilaksanakan berdasarkan landasan filosofis kontruktivisme yakni, bahwa belajar akan lebih bermakna dengan cara mengalami, menemukan, dan membangun sendiri (mengkonstruksi) pengetahuan dan keterampilan barunya. Menurut Piaget, kontruktivisme mengandung beberapa kegiatan diantaranya yakni, mengandung pengalaman nyata, adanya interaksi sosial, dan terbentuknya kepekaan terhadap lingkungan. (Mulyadi dan Risminawati, 2012:27).

Berkenaan dengan mendukung terlaksananya kegiatan konstruktivisme sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Piaget, maka Pembelajaran Kontekstual berbasis Outing Class dirasa tepat untuk diterapkan.

Metode Outing Class penting untuk diterapkan dalam pembelajaran sebagai upaya mengembangkan tiga komponen pendidikan yakni afektif, kognitif, dan psikomotor.Karena ketiga aspek tersebut digunakan secara integral dan berkesinambungan. Melalui pembelajaran kontekstual berbasis Outing Class, guru dapat memanfaatkan materi dan media pembelajaran konkret di luar kelas.

Outing class memberikan suasana belajar yang lebih kondusif dan inovatif sehingga pembelajaran tidak monoton dan dapat membawa dampak pada peningkatan kemampuan pemahaman terhadap pengetahuan baru melalui kegiatan pembelajaran yang menerapkan metode sesuai dengan kemampuan, kebutuhanya, juga sesuai karakteristiknya.

Pentingnya metode belajar kontekstual ini, seharusnya lebih dipahami oleh tenaga pendidik sebagai metode belajar yang efektif jika diterapkan sesuai dengan tujuan awal. Artinya, study tour hendaknya tak lagi sekadar dimaknai kegiatan kewisataan yang tidak adding knowledge. Pergantian kurikulum sebanyak puluhan kali tidak ada artinya, jika study tour masih saja identik kegiatan wisata dengan jarak jauh dan menghabiskan banyak dana.

Rapor Pendidikan, Terobosan Baru Model Evaluasi Belajar
Bullying, Pengertian dan Dampaknya (1)
Museum, Mengembalikan Jati Diri Melalui Sejarah
Zinidin Zidan, Kena Mental dan Dramaturgi
Kemunduran Attitude, di Tengah Masifnya Pendidikan Karakter
Arah Pendidikan Nasional
Merdeka Belajar, Antara Idealisme dan Angan-angan

Terkait

Rekomendasi

Terkini