Jalan Menuju Pilpres 2024, Rumit-Pelik! Ruwet-Mbulet-Mbundet!

- sebagai ruh dari semangat demokrasi itu sendiri dengan tidak tersandera pada politik kepentingan atas dasar tiket 20% serta meminimalisir cukong (oligarki ekonomi-politik) bermain dalam patgulipat komposisi koalisi dan pasangan nama capres-cawapres, seyogyanya tetap dengan empat pasangan capres-cawapres. Disitulah kemerdekaan demokrasi dipertontonkan -

28 Januari 2023, 09:16 WIB

Dengan demikian jalan berliku menuju Pilpres 2024 masih menjadi tabir, masing-masing partai (ketua umum), tetap menghitung dalam kesatuan pandang bilamana nanti Pilpres 2024 hanya ada 2 koalisi besar. Nah, disitulah kalkulasinya, menghitung tukar tambahnya.

Namun harapan penulis, sebagai ruh dari semangat demokrasi itu sendiri dengan tidak tersandera pada politik kepentingan atas dasar tiket 20% serta meminimalisir cukong (oligarki ekonomi-politik) bermain dalam patgulipat komposisi koalisi dan pasangan nama capres-cawapres, seyogyanya tetap dengan empat pasangan capres-cawapres. Disitulah kemerdekaan demokrasi dipertontonkan.

Jadi, 4 pasang capres-cawapres lebih sehat bila dibandingkan dengan hanya ada 2 pasangan koalisi besar. Poros PDIP, poros koalisi Gerindra, Golkar dan Nasdem diharapkan berani mengusung capres-cawapres, bukan hanya terus khawatir akan potensi menang dan kalah meski itu disadari, tetapi yang lebih pokok tidak takut akan “posisi” yang kemudian menjadikan politik tukar tambah telah membutakan peta jalan menuju Indonesia yang adil dan makmur. Dan bagian itu bentuk kekawatiran terhadap oligarki ekonomi yang sudah menancap kuat di Indonesia terdepak dari jerat sistemnya. Lantas gigit jari!

B Ari Koeswanto ASM | pemerhati budaya Nusantara

Tolak! Jabatan Kades Skema 9X2 Bukan Pula 6X3, Dorong Revisi UU Desa 5X2
Demo Partai Buruh Tekankan 9 Poin hingga Kritik Pelegalan Perbudakan pada Perppu Ciptaker
YLBHI: Penerbitan Perpu Cipta Kerja Kudeta Atas Konstitusi
Bharada E “Pahlawan” Kejujuran di Tengah Tercabiknya Kepercayaan Publik Terhadap APH
2023, Dicari Cendekiawan yang Jujur dan Mendobrak, Menyentuh Wacana Publik Tujuan Indonesia

Terkait

Terkini