Menolong Penderitaan Anak
Anak akan sering melakukan kebohongan dalam mewujudkan segala keinginan orang tuanya.
Nusantarapedia.net, Jurnal | Kemanusiaan — Menolong Penderitaan Anak
ANAK-anak merupakan perhiasan hidup di dunia, bahkan mereka merupakan kesenangan hidup yang paling manis dan indah. Mereka adalah gambaran kita, bahkan mereka adalah serpihan hati, penyedap pandangan, dan permata nurani kita.
Namun dalam kenyataannya, harapan itu kerap tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Walaupun orang tua sudah bekerja keras dan mengeluarkan banyak biaya, masih banyak anak yang nakal atau tidak berhasil. Kita masih banyak menyaksikan kenakalan yang dilakukan anak-anak sebagai gambaran penderitaan anak-anak kita dewasa ini. Bersihadapan dengan kenyatan tersebut, orang tua perlu memawas diri terhadap cara mendidik anak-anaknya.
Penderitaan anak-anak dalam keluarga tidak hanya disebabkan faktor kemiskinan, tetapi kerap penyebab penderitaan anak itu adalah cara orang tua dalam mendidik anak-anaknya yang kurang tepat. Cara pendidikan dalam keluarga yang tidak tepat itu bisa mempengaruhi perilaku dan ketenangan hidup bagi anak-anaknya. Nakalnya anak-anak itu dapat berupa kenakalan melawan orang tua, malas bersekolah, menyelewengkan uang, atau melakukan tindakan kejahatan. Inilah yang dimaksud dengan penderitaan anak.
Anak menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya sehingga mempengaruhi ketenangan jiwa sang anak. Jika pertengkaran orang tua itu berujung dengan perpisahan, anak berada pada wilayah yang sulit; harus ikut siapa? Akhirnya, anak-anak memilih bersikap apatis (masa bodoh) dan hilang sikap hormatnya kepada orang tua. Anak akan mencari kebebasan di luar rumah dan bergaul tanpa kontrol. Jiwanya makin terguncang.Tempat untuk mencurahkan cinta kepada orang tua telah hilang. Rasa hormat dan wibawa orang tuanya telah hilang dalam pandangan anak.
Jika anak dalam hidupnya mengalami berbagai masalah dan keguncangan jiwa yang disebabkan proses perkembangan dan pertumbuhan itu, kehadiran orang tua sebagai tempat mengadu dan bertukar pikiran merupakan suatu hal yang sangat penting. Kehangatan kasih sayang dan perhatian orang tua dapat membuat anak tidak mengalami keguoncangan jiwa.
Namun pada umumnya dalam masyarakat, masih berkembang anggapan bahwa orang tua telah merasa cukup memberi anak perhatian dengan materi dan melupakan faktor kejiwaan yang juga sangat diperlukan untuk ketenangan jiwanya. Kadang-kadang orang tua menganggap bahwa komunikasi dengan anak sudah tidak dianggap suatu hal yang penting lagi. Menurut mereka, berkomunikasi orang tua dengan anak tidak lagi dianggap perlu, cukup dengan memberi uang yang memadai dan HP mutakhir. Di samping alasan tersebut, juga perlu diperhatikan tentang berbagai tuntutan yang keras dan kaku dalam pembinaan serta pendidikan anak yang dilakukan orang tua. Akibatnya, anak akan kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri. Anak akan sering melakukan kebohongan dalam mewujudkan segala keinginan orang tuanya.
Barangkali hal itu akan membuat anak tidak betah tinggal di rumah dan suka melakukan hal-hal yang tidak disukai orang tuanya sebagai suatu bentuk protes atas ketidaksenangannya. Jika yang terakhir ini terjadi, orang tua telah menyiapkan dan mendidik anak-anak untuk berdusta. Anak-anak dalam keluarga yang menggunakan aturan ketat dan hukuman keras, kebanyakan menyandang sifat suka berdusta karena takut sanksi.
”Bapakku sangat keras. Kalau aku melakukan kesalahan, Bapak tidak segan-segan memukul dan memarahiku. Sedangkan, Bunda sangat lemah, tidak pernah membelaku. Bahkan, jika aku melakukan sesuatu yang membuatnya jengkel, Bunda selalu mengancam akan mengadukanku kepada ayah agar aku dihukum.”
Dari perlakuan orang tuanya, anak itu dalam perkembangan jiwanya menjadi menderita. Dia menjadi nakal dan suka menyimpangkan perilakunya. Ini semua merupakan bentuk protes sang anak.
Perhatian pada anak tidak harus melepaskan kesibukan mencari nafkah hidup, tetapi kesibukan juga tidak berarti harus menghilangkan kasih sayang terhadap anak-anak sebab bagaimanapun rumitnya persoalan kehidupan, tidak dapat diselesaikan dengan materi. Pembagian waktu yang bijaksana perlu dilakukan orang tua setidaknya untuk dialog dengan sang anak agar mereka merasa diperhatikan orang tua terhadap persoalan yang mereka hadapi.
Sebagai orang tua yang bijaksana-jika menghadapi anak yang nakal, suka berbohong, dan melakukan tindakan salah lainnya-sebaiknya menyelidiki sampai jelas penyebab kenakalan anak itu: apakah karena memang nakal, faktor usia, atau ada faktor pendorongnya.
Orang tua harus berusaha memahami bahwa kenakalan itu kadang-kadang merupakan sifat yang muncul belakangan, kadang-kadang pula disertai sifat-sifat penyerta yang lain seperti mencuri, membangkang, suka berkelahi, dan tidak peduli. Oleh sebab itu, pendekatan kejiwaanyan harus dilakukan dengan mencari faktor penyebab dan kebutuhan jiwanya yang menyebabkan munculnya sifat atau berbagai penyimpangan perilaku.
Sebaiknya orang tua tidak menanggapi kenakalan anak dengan menghukum, mengancam, dan mencelanya. Karena hukuman, ancaman, dan celaan tidak akan membuat anak menjadi lebih baik.
Pendekatan yang perlu dilakukan oleh orang tua pada anak-anaknya yang memiliki masalah harus diawali dengan memperbaiki lingkungan keluarga tempat anak tinggal. Hubungan komunikasi orang tua dan anak diusahakan berlangsung dengan serasi sehingga kebutuhan kejiwaan anak terpenuhi. Jika hal itu terwujud, anak akan merasa bahwa dia dicintai, disayangi, dan rasa percaya diri menjadi lebih besar. Tercukupinya kebutuhan kasih sayang dan cinta kasih dalam keluarga akan membantu mereka utuk berbuat baik, sopan, jujur, dan tidak nakal.
Orang tua perlu memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk menikmati berbagai kesenangan yang wajar dan kehidupan yang didambakan. Karena penjagaan yang berlebihan terhadap anak dan melaranganya untuk berbaur, bermain dalam kegiatan bermasyarakat, akan membahayakan kepribadiannya dan mendorongnya untuk nakal.
Anak-anak harus merasa hidup dalam lingkungan yang harmonis, toleran, penuh tenggang rasa, dan hendaklah kita membiasakan saling mencintai. Pemberian nasihat dan pengajaran dilakukan secara baik dan memberikan teladan yang baik. Sebagaimana hadis Rasulullah saw., Bantulah anak-anakmu untuk berbakti. Siapa yang menghendaki, dia dapat melahirkan kedurhakaan melalui anaknya.
(Penulis, tinggal di Bandung)
Menyelami Jagat Fiksi Anak
Pola Asuh Anak dan Kisah Tagore
Adakah Tayangan Sehat untuk Anak?
Nilai Kepahlawanan untuk Anak
Demam Anak dan Cara Mengobatinya di Rumah