Sluku-Sluku Bathok
Mak jenthit lolo lo bah : Kematian itu datangnya tiba-tiba, tak ada yang tahu, tak dapat diprediksi dan tak bisa juga dikira-kira. Tak bisa dimajukan dan tak bisa pula dimundurkan.
Nusantarapedia.net, Jurnal | Religi — Sluku-Sluku Bathok
“Wong mati ora obah (jasad orang mati tidak bergerak). Berasal dari kalimat ‘hayun wal mauta innalillah’, artinya: dari hidup hingga mati adalah milik Allah.”
Halo Nuspedian. Masih ingatkah dengan syair Sluku-Sluku Bathok? Ini adalah sebuah syair karangan Kanjeng Sunan Kalijaga. Cara dakwah beliau dengan memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam seni budaya yang pada saat itu lekat dalam kultur Jawa dengan kepahaman peralihan dari Hindu-Buddha ke Islam, dari Majapahit ke Demak.
Sluku-Sluku Bathok sebenarnya adalah tembang dakwah pada era per-Walian untuk siar Islam. Termasuk ke dalam tembang dolanan atau lagu dolanan (folk song) yang erat kaitannya dengan folklor atau cerita-cerita dan legenda.
Sluku-Sluku Bathok pada awalnya tumbuh dan berkembang di pesisir utara Jawa dalam peta hegemoni Islam era Jawa pertengahan, sebelum kemudian menyebar ke seluruh Jawa di daerah pedalaman selatan eks budaya Mataraman. Lagu dolanan Sluku-Sluku Bathok ini sejaman dengan lagu Gundul-Gundul Pacul.
Anak-anak jaman sekarang mungkin sudah asing dengan syair ini.
Sluku-sluku bathok
Bathoke ela elo
Si Rama menyang Sala
Oleh-olehe payung mutha
Mak jenthit lolo lo bah
Yen mati ora obah
Yen obah medeni bocah
Yen urip goleka duwit
Nuspedian, ternyata makna yang ingin disampaikan dari tiap-tiap bait syairnya sangat mendalam. Yuk, kita simak.
Sluku-Sluku Bathok versi I
Sluku-sluku bathok
Artinya: hidup tidak boleh dihabiskan hanya untuk bekerja. Waktunya istirahat ya istirahat, untuk menjaga jiwa dan raga agar selalu dalam kondisi yang seimbang.
Bathok (tempurung kelapa) sebagai simbolisasi kepala manusia yang ber-Otak, perlu beristirahat untuk memaksimalkan kemampuannya.
Bathoke ela elo
Artinya: dengan berdzikir (ela elo/geleng-geleng= Laa ilaaha ilalloh) mengingat Allah. Syaraf neuron di otak akan mengendur. Ingatlah Allah karena dengan mengingat-Nya hati menjadi tentram.
Si Rama menyang Sala
Artinya: Siram (mandilah, bersucilah), menyang (menuju) Sala (Solat) lalu bersuci dan dirikanlah Salat.
Oleh-olehe payung mutha
Artinya: maka kita akan mendapatkan perlindungan (payung) dari Allah.
Mak jenthit lolo lo bah
Artinya: Kematian itu datangnya tiba-tiba, tak ada yang tahu, tak dapat diprediksi dan tak bisa juga dikira-kira. Tak bisa dimajukan dan tak bisa pula dimundurkan.
Wong mati ora obah
Artinya: saat kematian datang, semua sudah terhenti. Kesempatan beramal hilang.
Yen obah medeni bocah
Artinya: banyak jiwa yang rindu untuk kembali pada Allah ingin minta dihidupkan, tetapi, Allah tak mengijinkan. Jika mayat hidup lagi, maka bentuknya pasti menakutkan dan madhorot-nya lebih besar.
Yen urip goleko duwit
Artinya: kesempatan beramal hanya ada di saat sekarang saat masih hidup
(selagi mampu dan ada waktu). Bukan nanti (ketidakmampuan dan hilangnya kesempatan).
Tempat beramal hanya di sini (dunia). Bukan di sana (akherat). Akhirat bukan tempat menanam, tetapi tempat berhasil/panen dengan apa yang kita tanam.

Sluku-Sluku Bathok versi II
Sluku-sluku bathok, bathoke ela-elo (sluku-sluku bathok, bathoknya geleng-geleng). Asal kalimat dari bahasa arab: ‘Usluk fa usluka bathnaka, bathnaka ila Allah’, yang artinya: masuk, masuklah bathinmu, bathinmu kepada Tuhan.
Si Rama menyang Sala
(bapak pergi ke sala). Dari kalimat ‘Sharimi Yasluka’, yang artinya: petik dan ambillah satu jalan masuk.
Oleh-olehe payung mutha
(oleh-olehnya payung mutha). Dari kalimat ‘Laailaha illaallah hayun wal mauta’, artinya: meng-Esakan Allah dari hidup sampai maut.
Mak jenthit lolo lo bah.
(bergerak tiba-tiba). Asal kalimat ‘mandzalik muqarabah’, artinya: maka siapa yang dekat pada Allah.
Wong mati ora obah
(jasad orang mati tidak bergerak). Berasal dari kalimat ‘hayun wal mauta innalillah’, artinya: dari hidup hingga mati adalah milik Allah.
Yen obah medeni bocah
(kalau bergerak (mayat) akan membuat takut anak-anak). Dari kalimat ‘mahabbatan mahrajuhu taubah’, yang artinya: kecintaan yang menuju pada taubat.
Yen urip goleka duwit
(semasa hidup carilah uang). Berasal dari kalimat ‘yasrifu innal khalaqna insana min dhafiq‘, artinya: sesungguhnya manusia diciptakan dari air yang memancar.
Itulah makna secara garis besarnya. Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran atau hikmah dari syair lagu tersebut. Wallahu’alam.
Kisah Nabi Ismail As
Rukun, Syarat dan Tata Cara Penyembelihan Kurban
Road Map Sastra Jawa
Rekomendasi
-
Program Gaduh Sapi di Klaten, Baznas: Tingkatkan Pengetahuan Peternak Tentang Konsep Komunal
11 Juli 2022, 15:03 WIB -
Sejarah Jalan Braga Paris Van Java, hingga Kebangkitan Pasca Pandemi Melalui Kolaborasi
10 Juli 2022, 10:10 WIB -
DOB Baru Papua Timur Layak Dipertimbangkan, Selain 3 DOB Sebelumnya
9 Juli 2022, 23:52 WIB -
Sementara Gugatan PT 0% Berakhir, Akankah Muncul Gugatan Baru Selanjutnya
9 Juli 2022, 17:42 WIB -
14 Isu Krusial RUU KUHP, “Matinya” Fungsi Kontrol Kekuasaan dari Narasi Feodalisme
7 Juli 2022, 13:53 WIB -
32 Daftar Timnas Piala Dunia 2022 Qatar, Grup E dan H Bagai Neraka
16 Juni 2022, 09:35 WIB -
Mobil Listrik, Kelebihan dan Kekurangan Menyambut Transformasi Energi
4 Juni 2022, 10:12 WIB -
Kemunduran Attitude, di Tengah Masifnya Pendidikan Karakter
8 Mei 2022, 14:37 WIB -
Mataram Kartasura, Lahir dan Tumbuh dengan Pecah Belah (1)
8 Maret 2022, 17:02 WIB -
Polres Tolitoli Membuka Gudang Distributor Dugaan Penimbunan Minyak Goreng
19 Maret 2022, 13:49 WIB -
Formula E Sirkuit Otomotif, Politik dan Kampanye Emisi (1)
4 Juni 2022, 22:30 WIB -
Pergeseran Fungsi Teknologi Digital untuk Misi Kemanusiaan
12 Februari 2022, 22:03 WIB -
Pantai Joko Tingkir, Di Bawah Pohon Cemara Ada Teh Poci dan Mendoan
22 Juni 2022, 00:02 WIB