Bullying, Pengertian dan Dampaknya (1)
Kasus bullying dapat terjadi pada siapapun. Namun, kasus yang paling sering terjadi menimpa anaka-anak usia sekolah.
Nusantarapedia.net — Jurnal | Pendidikan — Bullying, Pengertian dan Dampaknya
“Keduanya bertemu dalam benturan ego, kekuasaan dan kekuatan yang tidak seimbang, sehingga si inferior menjadi korban yang berada dalam keadaan tidak mampu membela diri secara efektif terhadap tindakan negatif yang mereka terima.”

Beberapa hari terakhir, beredar pemberitaan di media masa tentang siswa belia Madrasah Tsanawiyah (MTs) Kotamobagu, Sulawesi Tengah, Bintang Tungkagi, 13 tahun, yang di-bully 9 orang temannya hingga tewas. Miris, saat anak-anak seusianya berjuang mengukir prestasi, mereka, para pelaku bullying, malah asik menyaksikan temannya meregang nyawa akibat ulah tangannya. Entah, generasi itu lahir dari orang tua yang bagaimana, hingga mereka menjadi biasa membantai nyawa beramai-ramai.
Lingkungan berpengaruh besar terhadap perilaku sosial seseorang. Lingkungan keluarga dan lingkungan sosialnya, tentunya. Pola asuh keluarga membentuk karakter seseorang. Lingkungan pun memiliki andil yang tak kalah krusial. Anak-anak yang dominan sifat inferioritasnya (minderan) bukan lahir serta merta menjadi seperti itu. Ada perjalanan pengasuhan hingga ia menjadi inferior, minderan, mudah down. Ada hal-hal traumatis yang tak mudah dilupakan. Pun juga karakter superior, terbentuk karena proses pengasuhan tertentu dari lingkungannya.
Bullying adalah suatu tindakan atau perilaku yang dilakukan dengan cara melukai secara fisik, verbal atau emosional / psikologis oleh seseorang atau kelompok yang merasa lebih kuat kepada korban yang secara fisik atau mental lemah berulang kali tanpa perlawanan untuk membuat korban menderita.
Kemunculannya tak terlepas dari dua fenomena di atas. Ada si inferior dan si superior. Keduanya bertemu dalam benturan ego, kekuasaan dan kekuatan yang tidak seimbang, sehingga si inferior menjadi korban yang berada dalam keadaan tidak mampu membela diri secara efektif terhadap tindakan negatif yang mereka terima.
Menurut Berthold dan Hoover (2000), bullying memiliki pengaruh jangka panjang dan jangka pendek pada korban bullying. Efek jangka pendek yang disebabkan oleh perilaku bullying tertekan karena penindasan, penurunan minat dalam melakukan tugas sekolah yang diberikan oleh guru, dan menurunnya minat untuk berpartisipasi dalam kegiatan sekolah. Sementara konsekuensi jangka panjang dari penindasan ini seperti mengalami kesulitan dalam membangun hubungan baik dengan lawan jenis, selalu mengalami kecemasan akan mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari rekan-rekan mereka.
Kasus bullying dapat terjadi pada siapapun. Namun, kasus yang paling sering terjadi menimpa anaka-anak usia sekolah. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat ada 1.138 kasus kekerasan fisik dan psikis pada anak selama tahun 2021, dan angka ini tentu sudah bertambah di tahun 2022 ini. Terkuak fakta, ternyata sebelum Bintang, korban bullying di sekolah yang sama sudah terjadi dan korbannya selamat.
Artinya apa? Sekolah berbasis agama pun belum cukup kuat menjadi benteng anak untuk tak melakukan tindakan bullying. Selain itu, pihak sekolah dinilai sangat lalai dalam fungsinya mengawasi anak didiknya. Data menyebutkan, bintang adalah korban ke-5 dari empat korban selamat sebelumnya.
Kasus bullying adalah kasus yang tumbuh dari kecilnya persoalan, kemudian berkembang menjadi besar karena miskinnya pengawasan. Gejala-gejala bullying itu sangat nampak pada perilaku korban dan pelaku. Jika ini lolos dari pengawasan, terlebih sudah lebih dari satu kasus, maka sensitivitas para pendidik madrasah tersebut sangat dipertanyakan.
Ini tentu, seharusnya menjadi alarm keras bagi para orang tua, pendidik, pegiat anak agar lebih peka mengawasi pergaulan anak-anak. Mengingat, bullying terjadi justru oleh orang-orang terdekat atau teman-teman sepermainan anak-anak.
Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Sesditjen Bimas) Islam Kemenag, Muhammad Fuad Nasar, menyampaikan, kasus bullying atau perundungan di dunia pendidikan masih sering terjadi.
Maraknya kasus bullying menyadarkan betapa pentingnya pembinaan jiwa anak dimulai sejak dari lingkungan keluarga. Supaya terhindar dari perilaku kejam dan brutal. Ia mengingatkan, Islam mengajarkan setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah atau suci dan bersih.
Oleh karena itu orang tua dan lingkungan memiliki andil memberi corak dan warna terhadap perkembangan jiwa serta kepribadian seorang anak sampai dewasa.
Menurut Fuad, agama tidak cukup hanya diketahui dan dipahami sebagai ilmu atau pola ritual semata. Melainkan sebagai pengisi dan pengarah jiwa manusia agar menjadi orang baik dan berakhlak mulia.

Dikutip dari laman doktersehat.com, penyebab bullying dari Sisi Korban penyebab bully dapat datang dari faktor korban maupun pelaku. Jika melihat dari sisi korban, berikut adalah beberapa faktor yang mungkin menyebabkan anak menjadi korban:
1) Penampilan fisik
Penyebab bullying pertama yang paling umum adalah akibat dari penampilan fisik. Ketika seorang anak memiliki penampilan fisik yang dianggap berbeda dengan anak lain pada umumnya, para bully dapat menjadikannya bahan untuk mengintimidasi anak tersebut. Penampilan fisik berbeda dapat meliputi kelebihan atau kekurangan berat badan, menggunakan kaca mata, menggunakan behel, menggunakan pakaian yang dianggap tidak keren seperti anak-anak lainnya.
2) Ras
Perbedaan ras juga sering kali menyebabkan seorang anak terkena bully. Hal ini umumnya terjadi ketika seorang anak dengan ras berbeda memasuki satu lingkungan dan dianggap sebagai minoritas. Beberapa survei dan penelitian juga telah menunjukkan bahwa bullying akibat ras yang berbeda memang cukup sering terjadi.
3) Orientasi seksual
Orientasi seksual seseorang berbeda-beda dan umumnya seorang anak baru menyadari orientasi seksual yang berbeda memasuki usia remaja. Bahkan di beberapa negara yang sudah tidak asing dengan isu LGBT, seseorang yang teridentifikasi sebagai lesbian, gay, dan transgender sering kali mendapatkan perilaku bully. Hal ini yang membuat seseorang cenderung menyembunyikan orientasi seksualnya.
4) Terlihat lemah
Penyebab bullying lainnya adalah ketika seorang anak dianggap lebih lemah dan terlihat tidak suka melawan. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa bullying melibatkan ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan juga korban. Pelaku tentunya merasa sebagai pihak yang lebih kuat dan dapat mendominasi korban yang lebih lemah.
5) Terlihat tidak mudah bergaul
Selain karena lemah, terlihat tidak mudah bergaul dan memiliki sedikit teman juga menjadi salah satu penyebab menjadi korban bullying. Individu yang terlihat tidak mudah bergaul dan memiliki sedikit teman juga dapat terlihat lebih lemah dan membuat bully berpikir dapat mendominasi mereka. Sekelompok bully juga berpotensi melakukan bully pada kelompok yang dianggap lebih lemah dari kelompok mereka.
Meskipun karakteristik di atas dapat menjadi penyebab bullying, tapi tentu tidak semua anak dengan karakteristik tersebut menjadi korban bully. Kondisi tersebut hanyalah merupakan beberapa gambaran umum.

Penyebab bullying dari Sisi Pelaku Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa anak yang memiliki salah satu kriteria yang dapat memicu bully tidak selalu menjadi korban. Hal ini disebabkan juga karena terdapat faktor penyebab bullying juga dapat berasal dari sisi pelaku. berikut adalah beberapa penyebab bully dari sisi pelaku:
1) Memiliki masalah pribadi
Salah satu pemicu seseorang menjadi bully adalah karena memiliki masalah pribadi yang membuatnya tidak berdaya di hidupnya sendiri. Pada anak-anak, penyebab seperti perkelahian berlebihan di rumah, perceraian orang tua, atau adanya anggota keluarga yang menjadi pecandu narkoba dan alkohol dapat memicu hal ini.
Sedangkan pada orang dewasa, masalah dengan pasangan juga bisa menjadi salah satu pemicu munculnya perasaan tidak berdaya. Bullying baik verbal ataupun fisik yang dilakukan bertujuan untuk menunjukkan individu tersebut memiliki kekuatan. Sehingga rasa tidak berdaya tersebut dapat ditutupi.
2) Pernah menjadi korban bullying
Beberapa kasus menunjukkan bahwa pelaku sebenarnya juga merupakan korban. Contohnya seperti anak yang merasa di-bully oleh saudaranya di rumah, kemudian anak tersebut membalas dengan cara mem-bully temannya di sekolah yang ia anggap lebih lemah dari dirinya. Contoh lainnya adalah orang yang tertekan akibat bullying di kehidupan nyata dan menggunakan internet serta dunia maya untuk menunjukkan bahwa dirinya juga memiliki kekuatan dengan cara menyerang orang lain.
3) Rasa iri pada korban
Penyebab bullying selanjutnya adalah karena rasa iri pelaku pada korban. Rasa iri ini bisa muncul akibat korban memiliki hal yang sebenarnya sama istimewanya dengan sang pelaku. Pelaku mengintimidasi korban agar korban tidak akan lebih menonjol dari dirinya sendiri. Selain tidak ingin orang lain menonjol, seseorang juga mungkin melakukan bully untuk menutupi jati dirinya sendiri. Contohnya seperti anak pintar yang tidak ingin disebut ‘kutu buku’, sehingga ia lebih dulu menyebut temannya yang pintar sebagai kutu buku.
4) Kurangnya pemahaman
Kurangnya pemahaman dan empati juga dapat menimbulkan perilaku bullying. Ketika seorang anak melihat anak lain berbeda dalam hal seperti ras, agama, dan orientasi seksual, karena kurangnya pemahaman, maka mereka beranggapan bahwa perbedaan tersebut adalah hal yang salah. Mereka juga beranggapan bahwa menjadikan anak yang berbeda tersebut sebagai sasaran adalah hal yang benar.
5) Mencari perhatian
Terkadang pelaku tidak menyadari bahwa yang dilakukannya termasuk ke dalam penindasan, karena sebenarnya apa yang dilakukannya adalah mencari perhatian. Jenis yang satu ini paling mudah untuk diatasi.
Caranya adalah dengan memberikannya perhatian yang positif sebelum pelaku mencari perhatian dalam dengan cara yang negatif.
6) Kesulitan mengendalikan emosi
Anak yang kesulitan untuk mengatur emosi dapat berpotensi menjadi pelaku. Ketika seseorang merasa marah dan frustasi, perbuatan menyakiti dan mengintimidasi orang lain bisa saja dilakukan. Jika sulit untuk mengendalikan emosi, maka masalah kecil saja dapat membuat seseorang terprovokasi dan meluapkan emosinya secara berlebihan.
7) Berasal dari keluarga yang disfungsional
Tidak semua anak dari keluarga disfungsional akan menjadi pelaku bullying, namun hal ini kerap terjadi. Sebagian besar pelaku adalah anak yang merasa kurang kasih sayang dan keterbukaan dalam keluarganya. Mereka kemungkinan juga sering melihat orang tuanya bersikap agresif terhadap orang-orang di sekitarnya.
8) Merasa bahwa bullying menguntungkan
Pelaku bully akan tanpa sengaja bisa terus melanjutkan aksinya karena merasa perbuatannya menguntungkan. Hal ini bisa terjadi pada anak yang mendapatkan uang atau makanan dengan cara meminta secara paksa pada temannya. Contoh lain adalah ketika pelaku merasa popularitas dan perhatian dari setiap orang padanya naik berkat tindakannya tersebut.
9) Kurangnya empati
Penyebab selanjutnya adalah karena kurangnya rasa empati. Ketika melihat korban, pelakunya tidak merasa empati pada apa yang dirasakan korban, sebagian mungkin justru merasa senang ketika melihat orang lain rasa kesakitan. Semakin mendapatkan reaksi yang diinginkan, semakin pelaku bully senang melakukan aksinya.
(bersambung bagian 2)
Bullying, Pengertian dan Dampaknya (2)
Kemunduran Attitude, di Tengah Masifnya Pendidikan Karakter
Kualitas Orang Tua dan Maraknya Perundungan Anak
Tinjauan Kritis Beban Perempuan dengan Anak Penyandang Disabilitas
Merdeka Belajar, Antara Idealisme dan Angan-angan
10 Pemetaan Wilayah Kebudayaan Jawa Timur (1)
Zinidin Zidan, Kena Mental dan Dramaturgi
Rekomendasi
-
Program Gaduh Sapi di Klaten, Baznas: Tingkatkan Pengetahuan Peternak Tentang Konsep Komunal
11 Juli 2022, 15:03 WIB -
Sejarah Jalan Braga Paris Van Java, hingga Kebangkitan Pasca Pandemi Melalui Kolaborasi
10 Juli 2022, 10:10 WIB -
DOB Baru Papua Timur Layak Dipertimbangkan, Selain 3 DOB Sebelumnya
9 Juli 2022, 23:52 WIB -
Sementara Gugatan PT 0% Berakhir, Akankah Muncul Gugatan Baru Selanjutnya
9 Juli 2022, 17:42 WIB -
14 Isu Krusial RUU KUHP, “Matinya” Fungsi Kontrol Kekuasaan dari Narasi Feodalisme
7 Juli 2022, 13:53 WIB -
32 Daftar Timnas Piala Dunia 2022 Qatar, Grup E dan H Bagai Neraka
16 Juni 2022, 09:35 WIB -
Mobil Listrik, Kelebihan dan Kekurangan Menyambut Transformasi Energi
4 Juni 2022, 10:12 WIB -
Kemunduran Attitude, di Tengah Masifnya Pendidikan Karakter
8 Mei 2022, 14:37 WIB -
Bukit Sidoguro, Gardens by The Bay-nya Klaten
24 Mei 2022, 21:14 WIB -
DKI Jakarta Tuan Rumah IPA World Congress
20 Mei 2022, 07:34 WIB -
Legislator: Bantu dan Dorong UMKM Agar Berkembang, Keharusan Pemerintah
9 Juni 2022, 08:38 WIB -
Sejarah Masjid “Tiban” Baitur Riyadloh Keposong, Tamansari Boyolali (2)
1 Juni 2022, 20:58 WIB -
Jokowi dan Prabowo Beli Blangkon (Udheng) Madura
21 April 2022, 12:30 WIB