Beda Jailangkung dan “Wartawan Bodrek” Tapi Sama Mengerikan
Tapi, hebatnya! Kendati tak punya tempat di hati masyarakat, gerombolan ini tak pernah punah. Selalu saja punya cara mendapat celah untuk mengais keuntungan agar tetap eksis.
Nusantarapedia.net, Jurnal | Polhukam — Beda Jailangkung dan “Wartawan Bodrek” Tapi Sama Mengerikan
“Lahannya diserobot orang. Wakakak..” Pada postingan itu disertakan link portal berita berjudul “Sejumlah Kepala Sekolah dan Kepala Desa Resah Dengan Ulah Oknum Wartawan.”

Keberadaannya tak diterima masyarakat. Kehadirannya meresahkan orang. Kemunculannya menakutkan pihak yang disatroni. Kebiasannya seperti salah satu sosok makhluk halus: ia datang tak diundang, pergi tak tahu diri, keperluannya juga tak jelas, dengan penampilannya mengintimidasi. Segala sesuatunya beraroma “misteri,” selalu saja membawa pesan yang abu-abu. Tujuannya tak lain hanya untuk menakut-menakuti.
Ini bukan cerita _jailangkung_ yang selalu saja menjadi pengalaman menakutkan bocah. Ini tentang segerombolan orang, oknum yang lebih dikenal “wartawan bodrek.”
Belum diketahui kapan pertama kali wartawan bodrek mulai dilirik orang tak bermoral sebagai profesi yang menguntungkan untuk mendulang pundi-pundi. Tapi yang pasti komplotan ini sudah ada sejak puluhan tahun silam.
Bodrek sendiri adalah nama salah satu obat untuk pereda sakit kepala. Berbeda dengan obat itu. Wartawan bodrek, walau sama-sama ada embel-embel bodrek, tapi keberadaan entitas ini bukan diciptakan untuk mengobati sakit kepala. Justru, menurut pengakuan beberapa orang yang pernah disatroni wartawan bodrek, malah menambah pusing.
Tapi, hebatnya! Kendati tak punya tempat di hati masyarakat, gerombolan ini tak pernah punah. Selalu saja punya cara mendapat celah untuk mengais keuntungan agar tetap eksis.
Tidak seperti _jailangkung_ , _tuyul_ , dan _demit_ yang hanya menakuti bocah. Wartawan bodrek bagai momok mengerikan bagi sebagain orang. Orang yang ketakutan menghadapi mereka juga bukan orang sembarangan; ada Kepala Desa, Kepala Sekolah, dan tak sedikit pejabat pemerintahan di lingkungan pemerintah daerah yang ketar-ketir bila kedatangan wartawan bodrek. Masih menjadi misteri apa alasan mereka ketakutan berhadapan wartawan bodrek.
Menurut beberapa sumber, ciri-ciri wartawan bodrek mudah dikenali. Mereka selalu datang bergerombol dengan jumlah personil yang tak sedikit, hal itu yang membuat siapa saja yang didatangi bakal puyeng. Gerombolan ini juga tak paham kode etik jurnalis dan 9 prinsip jurnalistik. Bukan hanya itu, masih ada ciri lainnya. (Untuk melengkapi informasi ciri wartawan bodrek, silakan googling)
Kendati ciri mereka mudah dikenali. Tapi bukan perkara gampang memperkarakan komplotan makhluk ini. Jangankan hendak membantu menyanggong. Melaporkan perbuatan mereka saja butuh tenaga ekstra. Bisa-bisa jadi berbalik menjadi korban aduan mereka. Misal sangkaan fitnah, menghalangi tugas wartawan atau apalah yang bisa berakibat menyerang balik pelapor.
Wartawan bodrek tak hanya meresahkan kades, kasek. Tapi juga menganggu kenyamanan wartawan profesional yang dengan sungguh-sungguh dan penuh amanat menjalankan tanggung jawabnya sebagai wartawan yang selalu menjung tinggi Kode Etik Jurnalis dan berpegang teguh pada amanat 9 Prinsip Jurnalistik.

Oh ya, sebelum merampungkan tulisan ini. Kebetulan punulis mendapati FB Mathur mengunggah di akun miliknya, “Lahannya diserobot orang. Wakakak..” Pada postingan itu disertakan link portal berita berjudul “Sejumlah Kepala Sekolah dan Kepala Desa Resah Dengan Ulah Oknum Wartawan.” Menurut keterangan dalam berita, kejadian meresahkan itu terjadi di Bangkalan, Madura.
Tak dapat disanggah, sudah ada puluhan atau bahkan ratusan kejadian yang meresahkan akibat ulah oknum wartawan atau wartawan bodrek yang pernah terjadi di berbagai daerah nusantara.
Keberadaan wabah bisa dihindari dengan usaha-usaha pencegahan dengan cara menjaga kebersihan dan kesehatan. Pejabat atau siapa pun tak usah resah dengan wartawan bodrek asal dalam menjalankan tugasnya sudah dikerjakan dengan cara sehat dan bersih dari niat buruk.

Hasan Hasir, Bangkalan 28-Juni-2022
Masihkah Ada Jodoh untuk Abang Baso?
Bukan Sultan, Tak Usah Gaya-gaya – Sederhana Saja, Bahagia Sepanjang Masa
Yang ber-Otak Tak Bakal Mengekor
Belajar Tak Oleng Dari Boger si “Penari Oleng”
Dua Pisang, Uang, dan Topeng
The Mask “Orang Baik” Dari Dunia Sampah
Sanjungan Batu Sandungan
Rekomendasi
-
32 Daftar Timnas Piala Dunia 2022 Qatar, Grup E dan H Bagai Neraka
16 Juni 2022, 09:35 WIB -
Mobil Listrik, Kelebihan dan Kekurangan Menyambut Transformasi Energi
4 Juni 2022, 10:12 WIB -
Kemunduran Attitude, di Tengah Masifnya Pendidikan Karakter
8 Mei 2022, 14:37 WIB -
Mataram Pleret, Penaja Perang Suksesi Monarki Jawa
2 Februari 2022, 20:11 WIB -
Lalu, kenapa … kalau aku Odapus?
17 Maret 2022, 02:08 WIB -
Membajak Sawah dengan Kerbau
10 Juni 2022, 07:52 WIB -
Tempe Goreng Sambel Kencur
28 Mei 2022, 08:30 WIB -
Manajemen Rutan Kelas II B Pemalang (Hidup Di Bui — Nikmat Segelas Kopi)
31 Maret 2022, 23:32 WIB