Ibu dan Masa Depan Keluarga

Itulah dilemanya. Kian maju zaman, wanita dituntut emansipasi. Dahulu konotasi emansipasi hanya di bidang sosial, politik, dan budaya. Tidak terelakkan emansipasi kudu mengimbas pada bidang ekonomi dan kesempatan kerja serta pendidikan pula.

9 Agustus 2022, 07:33 WIB

Nusantarapedia.net, Jurnal | Kemanusiaan — Ibu dan Masa Depan Keluarga

DI mata Acah, meneteki anaknya bukanlah aktivitas kejuangan. Biasa saja, alami, kodrati, dan mungkin juga naluri. Karena itu, ia tidak terheran-heran saat menonton televisi, ada acara urusan menyusui bayi menjadi perkara yang perlu dikampanyekan. Kalau ada tips yang mewajibkan suaminya membantu ia meneteki anaknya, itu baru kejuangan. Begitu juga ihwal keutuhan dan kerukunan rumah tangga. Acah merasakan keluarganya kelewat utuh sehingga terkadang ia kepingin libur barang sehari jadi istri atau ibu dari anak-anaknya. Kepingin juga sekali-kali jadi dirinya sendiri; menjadi subjek mandiri. Bukan sekadar predikat, sebagai ibunya si Ujang atau bini-nya si Odoy. Ia kadang-kadang mimpi kapan bisa ke pasar/mal sebagai diri sendiri, jajan kesukaannya, dan ke puseur dayeuh menemui sohib-sohib lamanya. Tapi, mana mungkin? Demi keluarga, Acah melebur dirinya menjadi Nyonya Odoy dan emak-nya si Ujang. Tetapi, kini dibuat undang-undang tentang keluarga sega,la. Bukankah itu wawasan yang mundur? Subjek hukumnya ingin sedikit plong dari tetek-bengek keharusan keluarga, untuk memperoleh peluang menjadi diri sendiri. Tetapi, tiba-tiba harus mengabdi kembali pada keutuhan keluarga, yang praktiknya menghilangkan jati diri wanita itu.

Bukankah teknologi, susu buatan, makanan bayi, dan peluang wanita masuk angkatan kerja itu merupakan antisipasi kebutuhan keluarga masa depan? Bagaimana kalau nanti wanita sudah sudah balans dengan pria rata-rata tingkat pendidikannya? Bagaimana jika nanti angkatan kerja wanita sudah terserap di lapangan kerja yang ada? Masa depan keluarga dicirii oleh kian banyaknya wanita yang harus menghabiskan waktunya di luar rumah.

Itulah dilemanya. Kian maju zaman, wanita dituntut emansipasi. Dahulu konotasi emansipasi hanya di bidang sosial, politik, dan budaya. Tidak terelakkan emansipasi kudu mengimbas pada bidang ekonomi dan kesempatan kerja serta pendidikan pula. Kini, banyak wanita yang berpendidikan menengah dan tinggi. Tentu investasi itu tidak hendak disia-siakan oleh masyarakat sehingga wanita pun masuk angkatan kerja dan aspirasi bekerja di berbagai sektor. Bahkan, bersaing dengan pria. Wanita tidak lagi menghabiskan waktunya hanya di rumah mengurus anak, caroge, dan rumah tangga. Tetapi, wanita juga bekerja untuk menyambang pendapatan keluarga. Karena emansipasi, ekonomi keluarga juga mendorong untuk meningkatkan taraf hidup dan pola konsumsi. Pada gilirannya, wanita menjadi penyumbang penting pada pendapatan keluarga, apalagi sekarang pekerjaan wanita di sektor pertanian kian sempit peluangnya.

Lahan kian sempit. Penduduk desa bertambah padat. Alat pertanian ditemukan orang untuk menebas peluang kerja yang dahulu menjadi wilayah garapan wanita. Menumbuk gabah hilang, diganti mesin heleur padi yang ada di mana-mana. Memanen padi dengan ani-ani, kini diganti dengan arit serta tidak lagi butuh banyak tenaga dan waktu. Apalagi tatkala kaum ibu desa itu banyak yang selesai pendidikan menengahnya. Niscaya aspirasi sosial ekonominya pun meningkat pula.

Yang mereka butuhkan bukan hanya upah dalam bentuk natura seperti dahulu karena ekonomi desa juga kian diuangkan. Wanita butuh gaji setiap minggu, butuh pegang uang setiap bulan. Dengan terpaksa, wanita desa itu menyalurkan hasrat dan aspirasi sosial ekonominya dengan ngumbara ke kota, bahkan ke luar negeri. Mereka siap bekerja di sektor bukan pertanian; industri, jasa, dan bahkan sektor informal.

Maka berbondong-bondonglah ’laskar ibu’ dari desa menuju kota. Mobilitas sosial wanita Indonesia memang diperhitungkan akan berjalan sangat cepat. Partisipasi angkatan kerja wanita melonjak pesat. Begitu pula dengan pendidikannya. Kian banyak wanita Indonesia yang meraih pendidikan tinggi yang langsung diserap oleh lapangan kerja kerah putih.

Tidak mengherankan jika kemudian pekerja wanita memperhitungkan karier, pendapatan, dan kesesuaian tempat kerja dengan kecenderungan sosialnya. Dampak langsung dalam proyeksi keluarga Indonesia masa depan, yakni penundaan usia perkawinan sebab mereka mempertimbangkan pekerjaan, pendapatan, dan taraf hidupnya kelak, dalam urusan pernikahan. Penundaan dan perencanaan kapan serta berapa banyak anak yang sanggup ia besarkan. Jodoh dan karier kalau bisa saling mengakomodasikan.

Implikasi dari mobilitas wanita ini akan makin luas di kemudian hari. Umpamanya, bagaimana kalau kesempatan kerja menuntut seseorang harus tinggal terpisah dari pasangannya? Di kota dan di desa, dalam kasus pekerja sektor jasa dan informal bagi wanita, misalnya pembantu rumah tangga, pedagang sayur, dan buruh pabrik di kota.

Atau di kota berbeda dan terkadang kian jauh satu sama lain. Suami tetap di Cianjur, istri dipromosikan oleh kantor tempat kerjanya ke Jakarta. Suami bekerja di pabrik yang berlokasi di Tangerang, istri memimpin usaha di Bandung. Istri menjadi insinyur kimia yang bekerja di Bogor, suami manajer produksi suatu industri pipa di Cilegon. Bahkan, istri menjadi TKW di Jeddah atau Malaysia, suami tetap tinggal bersama anak-anaknya di Majalengka.

Lalu, bagaimana antisipasi bentuk keluarga masa depan kita? Nilai keluarga yang selama ini sebagai sesuatu yang sudah semestinya, menjadi barang yang musykil untuk diterapkan. Umpamanya, kalau ada suami yang hanya bisa makan kalau sajiannya dimasak dan dihidangkan oleh istri sendiri, ia harus kembali ke zaman kalabendu. Sekarang hampir semua orang bekerja mesti makan siang di kantor atau di mal. Kalau ada anak-istri dalam ketenangan dan ketentraman seperi zaman dahulu, niscaya impian itu akan ada hanya di dalam dongeng. Malahan soal meneteki bayi, menyetrika baju suami, bakal menjadi cerita aneh dan langka belaka, ketika anak cucu kita memasuki ikatan keluarga masa depan kelak.

Cilaka-nya di Barat, kerenggangan, ikatan keluarga itu berjalan makin jauh. Kalau istri karena karier harus tinggal di Paris tiga tahun, sedangkan suami menunggui usahanya di New York untuk waktu yang entah sampai kapan, bagaimana kehidupan seksualnya? Ikut siapa anak-anak mereka? Kapan kehangatan kasih sayang orang tua mendapat peluang aktualisasi bagi anak-anak mereka? Kalau istri bekerja dan berkarier, bagaimana jalan keluarnya? Masa depan keluarga Indonesia memang butuh siasat baru untuk mempertahankan harmoni dan keutuhannya.

(Penulis, tinggal di Bandung)

Perempuan, Sosok Penanggung Hutang
Pentingnya Amanah
Merindu Suara Kehidupan
Pergeseran Fungsi Teknologi Digital untuk Misi Kemanusiaan
Mereka-reka Cerita tentang Ibu
Pola Asuh Anak dan Kisah Tagore

Terkait

Terkini