Lagu “Joko Tingkir Ngombe Dhawet”, Simbol Semangat Kerja versus Pelecehan Sejarah
Joko Tingkir ngombe dawet - Jo dipikir, marai mumet
Nusantarapedia.net, Jurnal | Seni — Lagu “Joko Tingkir Ngombe Dhawet“, Simbol Semangat Kerja versus Pelecehan Sejarah
“Awan-awan ngombe dhawet, Jo dipikir marai mumet,”
Joko Tingkir Ngombe Dhawet. Lagu dangdut koplo Jawa ini belakangan viral di media sosial karena liriknya yang ngebits dan asik. Dinyanyikan oleh Difarina Indra Adella namun ada juga versi yang dibawakan oleh penyanyi Yeni Inka ft Farel Prayoga, juga viral dinyanyikan oleh Cak Precil yang banyak digunakan netizen untuk backsound aneka sosial media.
Dari official music video lagu ‘Joko Tingkir Ngombe Dhawet‘ versi Yeni Inka yang diunggah pada 4 Juli 2022 melalui kanal Aneka Safari Records, lagu ini menjadi populer dan bahkan viral di media sosial TikTok.
Lagu ini banyak digunakan sebagai back sound video di TikTok dan telah ditonton sebanyak 6.532.650 kali dan disukai lebih dari 60 ribu penonton.
Meskipun ngoplo dan ngebits, lagu ini memiliki pesan moral yang sangat baik. Menceritakan kehidupan pasangan yang terpisah jarak karena salah satu pasangan bekerja di luar kota (merantau) namun tetap semangat bekerja dan setia kepada pasangan demi cita-cita masa depan.
Data mencatat per tanggal 20 Juli 2022 lagu yang memiliki panjang durasi 4 menit 38 detik, yang dibawakan Yeni Inka ini telah masuk ke posisi 4 trending musik di platform Youtube.
Lagu ini awalnya populer dibawakan oleh Cak Percil, seorang seniman asal Jawa Timur dengan iringan band lokal yang di unggah ke kanal YouTube April 2002 lalu.
Di beberapa deskripsi, penulis lagu ini adalah NN atau tidak diketahui, terutama pada notasinya. Namun, sangat kaya akan keindahan bahasa karena lagu ini ditulis serupa parikan atau pantun.
Untuk lirik lagunya sendiri ada beberapa versi modifikasi yang dibawakan oleh masing-masing penyanyi covernya.


Berikut lirik lagu “Joko Tingkir Ngombe Dhawet“;
Joko Tingkir ngombe dhawet
Jo dipikir, marai mumet
Ngopek jamur nggone Mbah Wage
Pantang mundur, terus nyambut gawe
Pantang mundur, terus nyambut gawe
Ning Purwokerto tuku ketan
Iki crito anak rantauan
Lombok rawit, pedes tenan
Golek duit kanggo masa depan
Golek duit kanggo masa depan
Rokok klobot ning ngisor wit mlinjo
Paling abot ninggal anak-bojo
Tuku donat ning Kalimantan
Tetep s’mangat kanggo masa depan
Tetep s’mangat kanggo masa depan
Godong kenikir, godong koro
Jo dipikir aku arep ngeliyo
Mangan jamur, mangan koro
Aku jujur, kowe ra percoyo
Aku jujur, kowe ra percoyo (hok a, hok e)
Joko Tingkir ngombe dhawet
Jo dipikir, marai mumet
Ngopek jamur nggone Mbah Wage
Pantang mundur, terus nyambut gawe
Pantang mundur, terus nyambut gawe

Sementara itu, budayawan asal Klaten, Bhre Ari Koeswanto ASM, saat dihubungi penulis, bagaimana pendapatnya tentang lagu tersebut yang viral, justru dengan pendapat lain yang kontradiktif.
Berikut pendapatnya, dari pesan suara WhatsApp, Minggu (24/7/2022).
“Sekilas saya cermati bahwa lagu tersebut tidak diketahui penciptanya atau no name/NN, yaitu pada notasinya. Melodi di dalamnya seperti lagu-lagu islami lainnya, yakni lagu Ilir-ilir, dengan notasi minor ada rasa arabian-nya campur dengan nada-nada pentatonis minor Jawa.”
“Untuk liriknya adalah ciptaan kreasi seniman-seniman saat ini, seperti lirik yang dibawakan oleh Cak Precil atau Yeni Inka, adalah lirik yang segar untuk merepresentasikan semangat dalam bekerja mencari nafkah demi pujaannya atau istrinya.”
“Lirik tersebut sebenarnya berasal dari kaidah sastra seperti pantun, yang mana terdiri dari empat baris atau larik, pada baris satu dan dua adalah sampiran, sedangkan baris ketiga dan keempat adalah isi. Atau dengan format sampiran-isi-sampiran-isi. Untuk lagu ini baris kelima hanya pengulangan dari baris keempat saja. Kemudian dari keempat baris tersebut menggunakan rima, bisa berstruktur a-a-a-a, b-b-b-b, a-a-b-b, a-b-a-b.”
“Namun sangat disayangkan, dan saya bisa memahami para pencipta lirik tersebut (seniman), yang sebenarnya tidak ada motifasi apapun untuk melakukan hal pelecehan pada sejarah.”
“Kalimat: ‘Joko Tingkir ngombe dhawet,’ itu adalah sampiran, kemudian isinya ‘jo dipikir marai mumet,‘ itu adalah isi. Nah, pada kalimat ‘Joko Tingkir ngombe dhawet,’ sebaiknya diganti dengan kalimat lain yang kemudian bunyi rimanya sama. Contoh: ‘Awan-awan ngombe dhawet, Jo dipikir marai mumet,’ begitu seharusnya.”
“Mengapa demikian, Joko Tingkir atau Mas Karebet adalah nama mudanya Prabu Adiwijaya atau Sultan Adiwijaya raja di kerajaan Kesultanan Pajang (Surakarta). Berkuasa pada tahun 1568-1582 M di Kesultanan Pajang (didefinisikan sebagai kesultanan). Joko Tingkir berhasil memindahkan Kesultanan Demak ke Pajang, dan kemudian lahir Mataram Islam hingga Mataram Anyar Solo dan Yogya.”
“Melihat peran sertanya dalam perkembangan peradaban Jawa dalam perspektif nasional, tidak sepantasnya figur Joko Tingkir digunakan sebagai lirik lagu yang derajatnya tidak pas untuk seorang raja besar dengan guyonan atau bercandaan dengan meminum minuman dawet. Selain itu, penggunaan bahasa Jawa yang bertingkat, seperti jawa ngoko, krama alus atau krama inggil, kata “ngombe” tidak pas digunakan kepada seseorang yang lebih tua, terlebih raja. Seharusnya bahasa “ngombe” atau minum kepada orang yang lebih tua dengan kata “ngunjuk“. Harusnya menjadi; Joko Tingkir ngunjuk dhawet.”
“Meskipun telah diubah dengan kalimat ‘Joko Tingkir ngujuk dhawet‘ pun, itu tetap kurang pas, mengingat seorang raja yang harusnya dihormati terlebih sudah menjadi bagian penting dari peradaban jawa, tidak pantas digunakan sebagai bahan guyonan atau candaan. Berbeda kalau bedah sejarah mengenai keburukan sang raja dari sisi ilmu pengetahuan sejarah, itu sudah lain lagi.”
“Dengan demikian itu termasuk pelecehan sejarah, dan dari sisi diksi penggunaan dan pemilihan kata bahasa jawa juga kurang tepat. Saran saya, kalimat Joko Tingkir diubah menjadi ‘awan-awan‘. Jadinya, ‘Joko Tingkir ngombe dhawet,’ menjadi ‘Awan-awan ngombe dhawet.’ Jadi ketika kita melagukan terasa ‘loss’ tidak ragu-ragu, tetapi kalau masih dengan kalimat ‘Joko Tingkir ngombe dhawet,’ hati ini, perasaan ini tidak tega, tidak enak. Yang mana ini soal adab, etika atau attitude. Dan bukan pula ini bermaksud feodal.”
“Dengan demikian, maksud melucu, membuat viral, membuat heboh, itu boleh-boleh saja, tetapi aneka perspektif dan dimensi semua unsur harus dalam satu kesatuan pandang, hingga tidak ada ‘rasa’ yang absurd, berisi pelecehan, dsb.”
Demikian pendapat B Ari Koeswanto ASM terkait dengan fenomena viralnya lagu “Joko Tingkir Ngombe Dhawet.”
Lirik Lagu Sucat Pelay Boog, Kocak!
Mat Ordul, Representasi Masyarakat Marjinal
Lirik Lagu Tak Ingin Pisah, Polemik Nada Tinggi
Gloomy Sunday, Lagu Kematian hingga Bunga Terakhir Bebi Romeo
Gambang Rancag Pantun Betawi, Si Jali-jali Abang Jampang, …