Pentingkah Musik untuk Anak?

Begitu pula musik. Pada usia di bawah enam tahun, Sina berpendapat bahwa anak penting belajar untuk merasakan harmoni dan musik yang sumbang, suara tinggi dan rendah, serta bagaimana semua itu bisa terjadi.

14 Agustus 2022, 09:28 WIB

Nusantarapedia.net, Jurnal | Seni — Pentingkah Musik untuk Anak?

ADAKAH kaitan musik dengan pendidikan anak? Ilmuwan Muslim, Ibnu Sina sudah hampir seribu tahun lalu melihat penting musik untuk pertumbuhan anak. Ia melihatnya tidak saja sebagai hiburan, tetapi berpengaruh pada perilaku halus anak kelak.
Janganlah heran mendengar pendapat itu. Orang selalu membicarakan Ibnu Sina berkaitan dengan ilmu kedokteran. Akan tetapi, sebenarnya sang ilmuwan kelahiran Bukhara pada 980 M ini memiliki kepedulian pada pengasuhan anak. Seperti pengasuhan modern, tokoh yang dijuluki ‘Pangeran para Dokter’ ini tidak menekankan pada kecerdasan intelektual semata.

Di mata Sina, kesehatan moral, fisik, dan perilaku sama pentingnya bagi anak. Sebagai prinsip dasar, filsuf yang hidup di zaman Dinasti Abbasiyah ini berpendapat, kekuatan mental menjadi motivator tubuh, perilaku manusia. Dalam pandangan ia, moral yang menjadi bagian dari perilaku manusia itu diperoleh dari proses ‘pembiasaan’, ‘imitasi’, ‘rasa takut’ atau ‘kebijaksanaan’. Itulah sebabnya, seperti para ahli pengasuhan modern, ia berpendapat keterampilan sosial yaitu anak harus belajar bermain dalam kelompok dan juga proses belajar pun sebaiknya demikian.

Ibnu Sina memperhatikan perkembangan anak sejak kelahirannya. Secara garis besar, tokoh yang sejak usia 18 tahun sudah berpraktik sebagai dokter ini membagi anak dalam empat tahap. Pertama, tahap bayi, mulai lahir sampai berumur dua tahun. Kedua, usia 3-5 tahun. Ketiga, usia 6-14 tahun, dan keempat usia 14 tahun ke atas. Ibnu Sina melihat tiga hal yang penting dalam perkembangan anak, yakni pendidikan moral, pengembangan fisik, dan citarasa serta perilakunya.

Untuk pendidikan moral, menurut Sina, penting menjauhkan anak dari pengaruh buruk yang akan memengaruhi jiwa dan moralnya. Sementara pengembangan kesehatan fisik anak dilakukan dengan memberi anak kesempatan untuk bermain dan berolahraga. ”Ketika anak bangun dari tidur, yang terbaik untuknya adalah dimandikan, lalu biarkan dia bermain selama satu jam, lalu berikan sedikit makanan … anak tidak diizinkan minum langsung sesudah makan …,” ujar Sina.

Sina melihat anak usia 3-5 tahun sedang banyak-banyaknya membutuhkan kegiatan fisik ini. Permainan membentuk sebuah unsur penting dalam kehidupan anak pada tahap ini, yaitu ia memerlukan beragam keterampilan fisik dan motorik. Anak juga belajar cara hidup dalam kelompok dan mengambil keuntungan di dalamnya. Pada bagian lain, Ibnu Sina berpendapat, cita rasa anak dipupuk sejak bayi. Sebagai ahli musik, ia menganggap penting bagi anak untuk mendengarkan musik sejak dalam ayunan hingga tidurnya. Begitu juga puisi sederhana dengan rima sederhana. Semua ini tidak hanya menghibur anak, tetapi sekaligus mendorongnya untuk menghargai kebajikan.

Menurut Sina, begitu memasuki usia 6 tahun, anak mulai beralih dari permainan bersifat fisik kepada pelajaran yang terorganisasi. ‘Sampai (anak) berumur 14 tahun, mereka harus secara bertahap mengurangi kegiatan fisiknya. Saat belajar terstruktur itu, ia menyarankan anak belajar bersama anak-anak lain. Dengan begitu, anak akan saling belajar di antara mereka. Apabila seorang anak berduaan saja dengan gurunya, akan kurang memuaskan bagi mereka berdua. Jika pendidik bergerak dari satu murid ke murid lain, risiko kebosanan berkurang, kecepatan aktivitas bertambah, dan anak menjadi lebih bersemangat belajar dan berhasil.

Begitu anak melewati usia 14 tahun, Sina melihat pentingnya belajar yang terspesialisasi. Dalam spesialisasi ini, anak sudah mengarah pada pendidikan yang menuju pekerjaannya atau pilihan profesinya di masa mendatang. Tentu saja, spesialisasi itu sesuai dengan kecenderungan dan minat anak. Arah spesialisasi itu dapat diamati dari bukti langsung perilaku anak. Ibnu Sina mengakui sulitnya pengamatan ini. ‘Pilihan ini dan ketepatannya tidaklah jelas. Dan, terlalu tipis untuk ditimbang atau diidentifikasi, jadi hanya Yang Mahakuasalah yang mengetahuinya.

Untuk anak-anak di bawah usia enam tahun, menurut Ibnu Sina, amat memerlukan permainan. Olahraga dan musik merupakan komponen terpenting pada tahap ini. Menurut Sina, ada beragam jenis olah raga yang membutuhkan kekuatan fisik, bisa juga ringan, lambat, bisa cepat, memadukan kekuatan dan kecepatan. Yang penting dari olah raga, bisa membuat anak menjadi rileks. Tiap-tiap jenis olah raga ini memiliki tempatnya sendiri dan ada manfaatnya dalam kehidupan anak-anak.

Begitu pula musik. Pada usia di bawah enam tahun, Sina berpendapat bahwa anak penting belajar untuk merasakan harmoni dan musik yang sumbang, suara tinggi dan rendah, serta bagaimana semua itu bisa terjadi.

Untuk tahap primer usia 6-14 tahun, menurut Sina, sampai pada pelajaran Alquran, belajar membaca dan menulis, mempelajari garis besar agama, serta belajar beberapa puisi Arab. Akan tetapi, pakar ini juga tidak mengesampingkan kebutuhan fisik anak untuk bermain dan berolahraga. Jikaa sendi-sendi anak menguat, lidahnya fasih, dan ia siap untuk instruksi, pendengarannya penuh perhatian, ia mulai belajar Alquran, dan dipertunjukkan huruf alfabet dan diajarkan garis besar agama.

Anak diajarkan untuk membawakan syair dan ayat yang puitis karena lebih mudah diingat. Syair-syair itu menjelaskan perilaku baik dan berisi pelajaran, mencela kemalasan dan kebodohan, mendorong rasa hormat kepada orang tua, perilaku yang bisa diterima, keramahan terahdap tamu, maupun standar moral yang tinggi. Ini artinya, puisi yang menurut Ibnu Sina diperkenalkan pada anak-anak usia ini adalah sastra dengan sebuah pesan pendidikan moral ssebab di sanalah, menurut Sina, sumber kebahagiaan manusia.

Begitu anak lewat usia 14 tahun, saatnya ia diarahkan untuk penjurusan pada prospek pekerjaannya di masa mendatang. Pendidikan ini bersifat terbuka, berlangsung seumur hidup. ‘Begitu ia selesai belajar Alquran dan memahami bahasa, saat itu ia harus melihat pekerjaan yang cocok untuknya, dan ia harus diarahkan ke jalur ini. Saat itu merupakan saat anak memilih: apakah ia ingin jalur teoretis atau teknis dan praktis dalam jalan hidupnya atau menjadi ilmuwan atau menjadi praktisi.

Penulis, tinggal di Bandung

Mengenalkan Uang pada Anak-anak
Menyelami Jagat Fiksi Anak
Memaknai ”Indonesia Pusaka” di Tengah Wabah
Nilai Kepahlawanan untuk Anak
Gudeg Djokdja Amat Enak Banyak (F)itamin C-nya, Fajar Bandung Elok Amat Dari Garut Center (1)

Terkait

Terkini