Reog Ponorogo, Simbol Ketundukan Laki-laki Terhadap Perempuan
Akhirnya, pada 18 Februari 2022 kesenian Reog Ponorogo diusulkan Pemerintah Jawa Timur menjadi warisan budaya tak benda (WBTb) kepada UNESCO.
Nusantarapedia.net, Jurnal | Seni — Reog Ponorogo, Simbol Ketundukan Laki-laki Terhadap Perempuan
“Beberapa waktu lalu Pemerintah Indonesia dikejutkan dengan klaim dari Pemerintah Malaysia yang berencana untuk mengajukan kesenian reog tersebut ke UNESCO”
REOG adalah seni budaya yang terkenal berasal dari Ponorogo, Jawa Timur. Sehingga akhirnya populer dengan sebutan Reog Ponorogo. Reog Ponorogo memiliki sejarah panjang yang begitu herois. Para seniman asli pengusung reog Ponorogo telah tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Bahkan hingga mancanegara. Inilah sebab reog Ponorogo mengalami perebutan status kebudayaan milik siapa.
Pentas seni yang dipercantik penampilannya dengan kemunculan tokoh-tokoh jathil, warok, rampak gedrug, barongan, dadak merak hingga bujang ganong ini sebenarnya secara historis memiliki simbol satiris yang diciptakan oleh Ki Ageng Kutu.
Reog diciptakan untuk menyindir Raja Brawijaya V yang tunduk kepada permaisurinya, Putri Champa.
Saat itu, Raja Brawijaya disimbolkan sebagai kepala harimau. Sedangkan burung merak cantik yang menunggangi kepala harimau adalah simbol sang permaisuri, Putri Champa. Hal ini melambangkan ketundukan laki-laki (Raja Brawijaya V) kepada perempuan (Putri Champa)



Mengutip dari buku Mengenal Kesenian Nasional 5 Reog karya Kustopo, awal mulanya Reog Ponorogo merupakan cerita tentang raja dari Kerajaan Bantarangin yang sekarang dikenal sebagai kota Ponorogo. Raja tersebut bernama Kelana Suwandana.
Ia berniat melamar putri Kerajaan Kediri yang bernama Dewi Ragil Kuning yang dijuluki Putri Sanggalangit. Namun, saat di perjalanan ia dicegat oleh Raja Kediri bernama Singabarong. Singabarong datang dengan membawa bala tentaranya yang terdiri dari burung dan singa.
Sedangkan Raja Kelana dan Wakilnya, Bujanganom dikawal oleh warok. Warok merupakan pengawal raja yang memiliki kekuatan ilmu hitam yang mampu mematikan lawan-lawannya.
Kemudian terjadi perang tanding antara kedua kerajaan. Kedua kubu memiliki kekuatan yang besar, sehingga pertarungan terjadi beberapa hari dan tidak ada yang menang maupun kalah. Mereka akhirnya berdamai karena kekuatannya habis.
Akhirnya Raja Kediri menerima lamaran Raja Bantarangin yang ingin meminang putrinya. Pada saat kedua mempelai menikah, pasukan merak dan singa, serta warok mengadakan atraksi sebagai sebuah tontonan.
Selanjutnya perang-perangan antara merak dan singa melawan warok dijadikan sebuah pertunjukan tarian bernama reog. Tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Bantarangin.

Beberapa waktu lalu Pemerintah Indonesia dikejutkan dengan klaim dari Pemerintah Malaysia yang berencana untuk mengajukan kesenian reog tersebut ke United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai warisan budaya dari negara Malaysia.
Akhirnya, pada 18 Februari 2022 kesenian Reog Ponorogo diusulkan Pemerintah Jawa Timur menjadi warisan budaya tak benda (WBTb) kepada UNESCO.
Demikian sejarah Reog Ponorogo, kesenian tradisional yang akhirnya berkembang di seluruh wilayah negeri dan mancanegara.
Macapat dalam Medium Garap Penyajian Karawitan
10 Pemetaan Wilayah Kebudayaan Jawa Timur (1)
Bunga Rampai Kata Langgam dalam Konteks Kultural Indonesia (1)
Road Map Sastra Jawa
Budaya Katuranggan para Pria Jawa