Sejarah Lagu Lingsir Wengi, bermula dari Kidung

- Suasana jauh tersebut yang dalam praktiknya digunakan untuk membangkitkan kepekaan batin sewaktu berdoa -

21 Desember 2022, 18:00 WIB

Versi Asli Sunan Kalijaga

Lingsir Wengi
(menjelang tengah malam)
Sepi durung bisa nendra
(sepi tidak bisa tidur)
Kagodha mring wewayang
(tergoda bayanganmu)
Kang ngerindhu ati
(di dalam hatiku)

Kawitane
(permulaanya)
Mung sembrana njur kulina
(hanya bercanda kemudian terbiasa)
Ra ngira yen bakal nuwuhke tresna
(tidak mengira akan jadi cinta)

Nanging duh tibane aku dewe kang nemahi (kalau sudah saatnya akan terjadi pada diriku)
Nandang branta
(menderita sakit cinta/jatuh cinta)
Kadung lara
(terlanjur sakit(cinta)
Sambat-sambat sapa
(aku harus mengeluh kepada siapa)

Rino wengi
(siang dan malam)
Sing tak puji aja lali
(yang saya cinta jangan lupakan ku)
Janjine muga bisa
tak ugemi
(janjinya kuharap tak diingkari)

Nah, itu tadi lirik lagu Lingsir Wengi yang asli. Kalau dilihat dari artinya tidak seram bukan, maknanya tersirat dengan rasa cinta. Sekarang, coba bandingkan dengan lagu Lingsir Wengi yang telah diganti liriknya.

Versi Film Kuntilanak

Lingsir wengi
(Menjelang malam)
sliramu tumeking sirna
(dirimu akan lenyap)
Aja tangi nggonmu guling
(Jangan bangun dari tempat tidurmu)
Awas jo ngetara
(Awas jangan menampakkan diri)

Aku lagi bang winga-winga
(Aku sedang dalam kemarahan besar)
Jin setan kang tak utusi
(Jin dan setan yang kuperintah)
Dadya sebarang
(Menjadi perantara)
Waja lelayu sebet
(Untuk mencabut nyawamu)

Kalau melihat artinya, memang ada unsur seramnya. Penggunaan lagu Lingsir Wengi yang diganti liriknya sebagai lagu latar dari film Kuntilanak Indonesia, menjadikan lagu ini dipandang negatif dan disalahartikan meskipun liriknya berbeda, tapi dianggap sama oleh masyarakat. Sehingga membuat para pendengar lagu tersebut menjadi ketakutan karena akan kedatangan makhluk gaib ketika mendengar lagu ini.

Padahal dulunya, lagu Lingsir Wengi ini biasa dinyanyikan oleh ibu-ibu untuk menidurkan anaknya di kala malam yang sunyi, yang berfungsi agar si anak diberikan perlindungan oleh Tuhan yang Maha Pelindung. Tak heran lagu ini pun memiliki nama lain yaitu kidung Rumekso Ing Wengi.

Dari semua penjelasan di atas, ditegaskan bahwa, lagu Lingsir Wengi itu bukanlah lagu pemanggil makhluk ghaib, setan, ataupun kuntilanak. Melainkan, lagu yang berisi pesan tersirat untuk kebaikan.

Namun begitu, menurut budayawan B Ari Koeswanto ASM, lagu Lingsir Wengi dari tinjauan etnomusikologi, melodi dari lagu ini memang unik, melodinya sebenarnya sederhana, namun kekuatan dari susunan melodinya tersebut terasa berat, dapat mengantarkan ke dalam suasana yang jauh, tenang, menghanyutkan dalam kesunyian batin yang mendalam.

Suasana jauh tersebut yang dalam praktiknya digunakan untuk membangkitkan kepekaan batin sewaktu berdoa. Atau bisa ditafsirkan seseorang mudah terbangkit mendengar susunan melodi tersebut menuju keadaan “trance“. Dengan demikian, memang ada benarnya bila melodi Lingsir Wengi dapat dijadikan medium untuk memanggil makhluk astral. Semoga berkenan, ya, Nuspedian.

)* disarikan dari beberapa sumber

Mundy Sae | Hobi membaca dan menulis. Menulis untuk media NPJ. Seorang ibu rumah tangga yang sehari-harinya dekat dengan dunia memasak dan pertanian.

Wali Songo
Syair Tembang Selawat ‘Turi Putih’ dan Maknanya
Gloomy Sunday, Lagu Kematian hingga Bunga Terakhir Bebi Romeo
Sluku-Sluku Bathok
Nasab Joko Tingkir Versi NU

Terkait

Terkini