Sejarah Kolak dan Resep Dasar Kolak Pisang

Kolak merupakan simbolisasi ajaran Islam, yang mana ajaran Islam disimbolkan ke dalam budaya Jawa. Tumbuh pada saat pemerintahan Kesultanan Mataram.

7 Juni 2022, 20:54 WIB

Nusantarapedia.net, Jurnal | Puspawarna — Sejarah Kolak dan Resep Dasar Kolak Pisang

“Kolak adalah makanan yang berkuah. Kolak tidak seratus persen tergolong sebagai makanan, tetapi juga bukan minuman. Dalam penyajiannya, kolak bukan sebagai makanan inti atau main course, tetapi tergolong makanan pembuka atau penutup, yakni appetizer dan dessert.”

Ibuk mboten siyam kok ndamel kolak?
(Tidak puasa kok buat kolak)

Begitu komen anakku saat tahu aku membuat kolak.

Memang membuat kolak identik pas puasa Ramadan. Bahkan, menjadi menu favorit saat buka puasa.

Tapi, sebelum menuju ke resep kolak pisang yang sederhana ini, berikut sejarah singkat dan makna filosofi dari makanan (berkuah) kolak ini.

Kolak adalah makanan yang berkuah. Kolak tidak seratus persen tergolong sebagai makanan, tetapi juga bukan minuman. Dalam penyajiannya, kolak bukan sebagai makanan inti atau main course, tetapi tergolong makanan pembuka atau penutup, yakni appetizer dan dessert.

Kolak merupakan makanan asli khas Nusantara, terutama dari masyarakat Jawa, khususnya budaya Mataraman. Sejarah kolak lahir dari masa peralihan ke Islam. Terutama pada masa Kerajaan Demak hingga Mataram Islam.

Kolak merupakan simbolisasi ajaran Islam, yang mana ajaran Islam disimbolkan ke dalam budaya Jawa. Tumbuh pada saat pemerintahan Kesultanan Mataram.

Dengan demikian, tradisi memasak dan menghidangkan kolak, erat dengan tradisi Islam di Nusantara, terutama pada saat bulan Ramadan sebagai hidangan buka puasa.

Makanan kolak yang pakem sebenarnya terdiri dari bahan dasar berupa pisang kepok, ubi dan santan. Tiga bahan tersebut yang digunakan untuk simbolisasi. Namun saat ini kolak sudah berkembang dengan aneka bahan dan varian rasa. Yang paling utama adanya bahan pisang dan santan.

Kolak adalah Anjuran Mengosongkan Dosa

Etimologi “Kolak” berasal dari kata khala yang artinya kosong. Harapannya, manusia harus selalu kosong dari segala dosa. Hidup harus di isi dengan aneka kebaikan dan menjauhkan hal-hal yang membuat dosa. Maka, manusia harus selalu berusaha dalam keadaan kosong atau terhindar dari keburukan hidup.

Kolak Simbol Pendekatan Diri Pada Tuhan

Selain etimologi kolak dari kata khala, juga dari asal kata kholaqo. Kholaqo adalah kata turunan dari kholiq atau khaliq yang artinya adalah mencipta. Dengan demikian, kewajiban manusia hidup harus selalu mendekatkan diri kepada sang pencipta (Tuhan), agar hidupnya di dunia selalu mendapatkan keselamatan dan keberkahan hidup.

Ubi Mengingatkan Pada Kematian

Dalam kebudayaan Jawa, bahan makanan ubi atau ketela termasuk dalam kategori jenis makanan polo pendem, yang artinya tumbuh di bawah tanah (terpendam). Selain kategori polo gumandul, buah yang menggantung, seperti pepaya, durian, dsb.

Makna filosofinya bahwa, kematian tidak bisa dihindari, sudah menjadi ketetapan-Nya. Hendaknya, selama manusia hidup harus selalu menjalankan kebaikan hidup. Apabila masih banyak dosa-dosa dan berjalan di atas keburukan tindakan, maka secepatnya manusia harus menjalani pertaubatan, mumpung masih diberi kesempatan hidup.

Pisang Kepok Mengajarkan Untuk Tidak Berbuat Dosa

Kata kepok (jawa) merupak idiom dari kata kapok, dari kapok menjadi kepok. Secara filosofi, manusia yang telah berlumur dosa berkubang dalam tindakan yang tidak terpuji dan beradab, harus cepat-cepat untuk insaf atau kapok. Manusia harus selalu introspeksi diri dengan apa yang telah dilakukan. Manusia harus selalu kapok, tobat dan insaf. Hal tersebut semata untuk menjaga derajat keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan.

Santan Simbol Meminta Maaf

Santan atau santen dalam bahasa Jawa merupakan idiom dari kata pangapunten. Santen:pangapunten:meminta maaf.

Dengan demikian, rasa kolak yang manis dan bersantan gurih ketika kita memakannya, harus dimaknai sebagai pengingat akan kesalahan-kesalahan kita pada seseorang yang telah kita dustai atau kita sakiti.

Jadi, kita harus secepatnya untuk nyuwun pangapunten, meminta maaf kepada yang bersangkutan.

Nah, sejarah dan makna simbolisasi dari makanan kolak demikian Nuspedian. Berikut ini resep kolak dariku yang sangat sederhana, tetapi tanpa bahan ketela, karena belum pergi ke pasar.

Kebetulan, kemarin ada yang ngasih pisang jenis ‘rojo temen‘. Kebetulan juga masih ada sisa kelapa. Jadi, aku berkeinginan buat kolak.

Alhamdulillah, bahan sudah ada tinggal eksekusinya aja.

Simak yuk, resep simpel dan mudah, tapi banyak yang suka.

Resep Dasar Kolak Pisang

Bahan :
• Pisang diiris-iris
• Santan
• Gula merah
• Daun pandan/vanili

Cara Membuat :
• Rebus santan. Tingkat ke_kentalannya bisa disesuaikan dengan selera. Aku lebih suka yang tidak begitu kental.
• Bersamaan dengan itu masukkan gula merah. Aduk sampai gula bercampur dengan santan dan tunggu hingga mendidih. Aduk terus agar santan tidak pecah
• Masukkan pisang dan cek rasa, diamkan sejenak lalu angkat.
• Siap disajikan. Boleh tambahkan susu/roti.

Selamat Mencoba

)* penggunaan daun pandan untuk menambah aroma masakan menjadi wangi. Jika tidak ada daun pandan ganti dengan vanili. Kalaupun tidak menggunakan dua-duanya juga nggak masalah.

Olahan Jagung Manis
Pecel, Sejarah dan Jenis-jenisnya
Aku Hanya Remahan Peyek
12 Kuliner Nusantara yang Mulai Langka
Nasi Liwet, Kuliner Legend Siap Jadi Ikon Kota Solo
Nastar Kue Favorit Lebaran 2022

Terkait

Terkini