Anak Aktif adalah Anak dengan Kecerdasan Kinestetik

Orang tua perlu edukasi lanjut untuk mengenali keistimewaan pada anak-anaknya agar tidak serta merta men-judge sepihak tanpa memperhatikan diagnosa.

3 Juli 2022, 22:47 WIB

Nusantarapedia.net, Jurnal | Kemanusiaan — Anak Aktif adalah Anak dengan Kecerdasan Kinestetik

“Anak-anak memiliki pos kecerdasannya masing-masing. Orang tua yang bijak akan membantu buah hatinya mestimulasi agar kecerdasan itu menjadi optimal sehingga anak tumbuh sesuai dengan passion dan preferensinya.”

Sering kita saksikan anak-anak yang aktif dan tidak bisa diam di tempat umum. Berlari, melompat hingga semua benda tak luput dari sentuhan tangannya. Orang awam yang melihat biasanya merasa risih dan kesal. Kemudian, ber-konklusi sendiri bahwa orang tuanya tidak mendidiknya dengan benar. Sesungguhnya pandangan itu tidak selalu benar. Ada banyak anak yang sangat aktif justru menandakan kecerdasan kinestetiknya. Kecenderungan aktif tersebut bukan karena pola didikan orang tua.

Menurut Howard Gardner, pakar perkembangan anak, ada delapan jenis kecerdasan, linguistik (bahasa), matematika, visual spasial, musik, interpersonal, intrapersonal, kinestetik, dan naturalis.

Kecerdasan kinestetik adalah kemampuan anak menggunakan ketangkasan tubuh untuk mengekspresikan ide dan perasaan dan menggunakan keterampilan tangan untuk mengubah atau menciptakan sesuatu. Kecerdasan kinestetik lebih kepada kemampuan fisik seperti koordinasi, keseimbangan, keterampilan, kekuatan, kelenturan dan kecepatan.

Anak dengan kemampuan fisik lebih, cenderung tidak bisa diam dan suka bereksperimen tidak cocok di dalam kelompok atau kelas yang dirancang untuk anak yang memiliki tingkat pergerakan motorik yang kurang, pendiam dan suka berkonsentrasi. Namun, sayangnya anak-anak dengan ciri seperti di atas sering distigma sebagai anak hyperaktif atau ADHD tanpa melihat diagnosa dokter.

Apa saja ciri-ciri anak yang aktif dan memiliki kecerdasan kinestetik yang tinggi itu?

1) Aktif bergerak
Anak dengan kecerdasan kinestetik sangat menikmati aktivitas yang mengharuskan mereka banyak bergerak, berolahraga, menari atau gerakan gerakan kreatif lainnya, sudah pasti menjadi aktivitas favoritnya. Saat sedang mengobservasi lingkungannya, anak dengan kecerdasan kinestetik tidak ragu menyentuh objek yang membuatnya penasaran.

2) Kemampuan motorik kasar baik
Anak dengan kemampuan kecerdasan kinestetik motorik kasar juga sangat baik. Anak anak dengan motorik kasar dalam proses belajar mengajar tidak akan ragu berkontak langsung dengan lingkungan sekitarnya.

3) Tidak betah diam dan membaca
Ada anak yang betah membaca buku berjam-jam, namun ada juga yang tidak. Anak dengan kecerdasan kinestetik juga lebih memilih mencoba hal baru secara langsung ketimbang menyimaknya hanya lewat buku. Selain itu, anak anak dengan kecerdasan kinestetik juga tertarik dengan interaksi bersama komputer atau keyboard ketimbang sekadar membaca.

4) Suka melakukan eksperimen
Ciri-ciri lain anak dengan kecerdasan kinestetik adalah gemar bereksperimen, berakting melakukan demonstrasi, hingga bermain adu peran atau role play. Eksperimen dan penelitian di laboratorium bisa jadi aktivitas yang sangat menarik bagi mereka.

Bagaimana mendukung dan mengembangkan anak-anak yang memiliki tingkat keaktifan motorik yang tinggi?

Anak-anak memiliki pos kecerdasannya masing-masing. Orang tua yang bijak akan membantu buah hatinya mestimulasi agar kecerdasan itu menjadi optimal sehingga anak tumbuh sesuai dengan passion dan preferensinya.

Melansir Public School Review, anak-anak dengan kecerdasan kinestetik cenderung menggambarkan bahwa pikiran mereka bekerja lebih efektif ketika mereka terlibat dalam aktivitas fisik. Menurut para ahli, setiap anak cenderung menunjukkan bentuk bentuk gaya belajar tertentu.

Berikut beberapa cara mendukung agar anak aktif optimal kecerdasannya.

1) Aktivitas fisik
Jika orang tua memiliki anak dengan kecerdasan kinestetik maka jangan ragu mengikutkan mereka pada aktivitas fisik yang menyenangkan. Dibandingkan anak lain yang masih ragu mencoba sesuatu yang baru, anak kinestetik akan dengan senang hati mencoba apapun, bahkan yang menantang sekalipun. Jadi, orang tua bisa memanfaatkan banyaknya organisasi atau kegiatan yang berbau fisik seperti camping, hiking, bersepeda, berenang, dan banyak lagi.

2) Ajak eksperimen
Menurut para ahli, selain aktivitas fisik anak dengan kecerdasan kinestetik juga sangat menikmati eksperimen membuat hal baru. Mereka bisa betah melakukan eksperimen selama berjam-jam tanpa kekurangan antusiasmenya. Perkenalkan ilmu baru kepada mereka lewat eksperimen yang menarik.

3) Cari sekolah yang mendukung
Kalau bisa cari sekolah yang mendukung aktivitas anak dengan kecerdasan kinestetik. Contohnya sekolah alam yang mengakomodasi aktivitas fisik anak dengan rangkaian pelajaran yang tidak membosankan.

4) Membuat permainan
Jangan kehabisan ide untuk membuat permainan kreatif untuk anak anak dengan kecerdasan kinestetik. Perbanyak permainan yang melibatkan karpet, sandpaper, balok, cubes atau tanah liat yang mengharuskan anak menyentuh langsung permainan yang digunakan.

5) Berpartisipasi dalam aktivitas fisik
Cara mengembangkan kecerdasan kinestetik yang dapat orang tua lakukan adalah mengikutsertakan anak dalam aktivitas fisik. Ketimbang anak lain yang masih ragu mencoba sesuatu yang baru, anak kinestetik akan dengan senang hati mencoba apapun, bahkan yang menantang sekalipun.

Sekolah juga berpengaruh terhadap perkembangan kecerdasan kinestetik karena berperan mendukung aktivitas fisiknya. Contohnya sekolah alam yang mengakomodasi aktivitas fisik anak dengan rangkaian pelajaran yang tidak membosankan. Sebisa mungkin, anak juga perlu pelajaran dengan jeda sehingga ia tidak merasa jenuh.

Ajarkan konsep yang konkret dengan contoh yang bisa mereka lihat atau sentuh langsung sehingga anak bisa memahaminya dengan cepat. Hanya dengan sedikit dukungan atau bantuan dari orang sekitar, anak dengan kecerdasan kinestetik bisa menemukan ritme mereka sendiri dalam mengikuti sistem yang belum tentu seirama dengan gaya mereka, seperti sistem sekolah yang mengharuskan duduk di kelas berjam jam. Pekerjaan yang cocok untuk anak dengan kecerdasan kinestetik

6) Saat anak tidak bisa diam biarkan anak bergerak sesuka hati.
Beberapa anak bisa lebih baik dalam belajar jika ia lakukan sambil berjalan-jalan atau menggerakkan kaki. Ajak ia bermain engklek untuk melatih gerakannya. Sedangkan di sekolah, orang tua bisa memberi pengertian kepada guru agar memperbolehkan si anak menggoyangkan kaki, berdiri sesekali atau ditugaskan untuk menghapus papan tulis misalnya, selama kegiatannya tidak mengganggu murid lain.

7) Berikan istirahat saat anak mudah kehilangan minat dengan cepat
Jika anak sedang mengerjakan pekerjaan rumah, bagi-bagilah waktunya dalam rentang waktu yang singkat, selipkan waktu istirahat di antaranya. Misalnya, saat mengerjakan PR matematika, beri ia istirahat untuk berjalan-jalan di halaman atau bermain lompat-lompatan di dalam rumah atau aktivitas fisik apapun yang menjadi pilihannya.

Untuk memaksimalkannya di sekolah jika memungkinkan, pilihlah sekolah yang membiarkan muridnya belajar dengan berganti-ganti tempat selain di kelas, seperti halaman atau duduk di lantai atau yang membiarkan muridnya menggambar dalam memahami apa yang dipelajari.

8) Dukung hobi anak yang memiliki kecerdasan kinestetik.
Jika anak memiliki passion yang mendukung kecerdasan kinestetiknya, dukung dan fasilitasi. Agar ia mendapat ruang yang tepat untuk mengembangkan hobinya.

9) Libatkan anak dengan alam
Sering-sering mengajak anak keluar rumah, menikmati alam, misalnya bersepeda, kemping, atau sekadar jalan-jalan ke pematang sawah.

10) Ajak anak dalam aktivitas memperbaiki barang atau membuat sesuatu
Ini merangsang kemampuan teknis juga matematisnya. Biasanya anak dengan kecerdasan kinestetik senang melakukan eksperimen. Mengoptimalkan kecerdasannya itu dengan mengajaknya memperbaiki atau menciptakan sesuatu.

Itulah beberapa pengertian, ciri-ciri dan cara mengembangkan kecerdasan kinestetik anak. Orang tua perlu edukasi lanjut untuk mengenali keistimewaan pada anak-anaknya agar tidak serta merta men-judge sepihak tanpa memperhatikan diagnosa.

Tips Menerima dan Memberi Kritik
Lirik Lagu Pesawat Kertas 365 Hari dan Maknanya
Ayah Antar-Jemput Anak Sekolah? Mengapa Tidak!
ETLE Statis dan ETLE Mobile, Apa Bedanya, Ya?
Mengenal Keterlambatan Bicara Pada Anak dan Cara Mengatasinya
PPDB Jalur Prestasi, Cetak Generasi Unggulan
Bisnis Minuman Kekinian? Mengapa Tidak!
Sejarah Panjang Pembangunan Jalan Tol di Indonesia
Photorium Bukit Patrum, Bekas Tambang Gamping Kolonial Belanda

Terkait

Rekomendasi

Terkini