Tentang Jodoh
_๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฌ๐ถ_ _๐๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ต ๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ณ๐ข๐ฉ_ _๐๐ช๐ญ๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ด๐ข๐ฌ๐ช๐ต ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ฏ๐ช_
Nusantarapedia.net, Jurnal | Sastra, Songfict — Tentang Jodoh
Siang itu, matahari bersinar terik. Saat sebagian orang beristirahat melepas lelah, tampak seorang lelaki dan seorang gadis sedang bertemu di bawah rindangnya pohon Akasia. Pertemuan tersembunyi yang biasa mereka lakukan. Tak ada jabatan tangan, apalagi sekadar pelukan pelepas rindu. Mereka tahu batasan itu. Entah hubungan apa yang mereka jalani.
Kesedihan tampak menggelayut di wajah Kang Jaja, lelaki berpostur tinggi dengan rambut ikal berwarna hitam legam. . Ada rasa yang berkecamuk di hatinya. Dia gelisah juga bingung, bagaimana harus memulai obrolannya dengan Fuka. Gadis manis yang sudah hampir dua tahun ini mengisi relung hatinya.
“Maafkan aku, Fuka. Hubungan kita cukup sampai di sini. Aku nggak bisa nepatin janji untuk menikahi kamu tahun depan.”
Akhirnya meluncur juga kata-kata itu dari dari mulut Kang Jaja. Meski pelan tapi sangat menikam.
Fuka tersentak mendengar apa yang dikatakan Kang Jaja, hal yang ditakutkan selama ini terjadi.
“Jadi, untuk ngomong ini Kang Jaja menyuruhku ke sini. Emang kenapa, Kang? Apa kamu sudah nggak cinta sama aku?”
“Bukan, Fuka. Rasa cinta ini masih sama seperti yang dulu, bahkan lebih besar. Tapiโฆ,”
“Tapi apa, Kang?”
“Kemarin Abah Yai ndawuhi untuk akang menikah dengan salah satu mbak ndalem. Namanya Mbak Anna, dia santriwati yang sudah lima tahun ikut Abah Yai. Maafkan Akang jika โฆ.”
Fuka segera memotong kalimat dari Kang Jaja.
“Memangnya Kang Jaja nggak bisa nolak dawuh Abah Yai, kalo sudah ada aku di hati Akang.”
Kang Jaja menggeleng lemah. Membuktikan ketidakberdayaannya untuk menolak dawuh Abah Yai Hamid.
Tugasnya santri itu nderek dawuhe Kyai. Sudah sepuluh tahun Kang Jaja mengabdi di ndalem Abah Yai. Mulai dulu masih berstatus santri hingga kini menjadi sopir pribadi keluarga Pesantren Atthohir. Dan menjadi bagian dari keluarga besar pesantren. Baginya, Abah Yai tak sekadar Kyai yang memberinya ilmu, tetapi juga sekaligus Ayah ke dua, sepeninggal bapaknya.
Air mata mulai menggenang, dalam sekali kerjapan luruh sudah tangis yang ditahan Fuka, gadis berpostur tubuh sedang dan berkulit hitam manis itu.
“Kang Jaja tega sama Fuka. Dua tahun sudah penantian ini. Menunggu Akang datang ke rumah, dan memintaku kepada bapak dan emak. Tapi apa? Hiks โฆ.”
Fuka sesenggukan, gadis itu menunduk, disekanya air mata yang turun dengan ujung jilbab warna krem yang dipakai. Dia sadar, dia bukan santriwati yang pantas bersanding dengan seorang santri. Hatinya kini remuk redam. Nelangsa.
Sementara Kang Jaja bergeming, tak tahu apa yang harus diperbuatnya. Dia sudah membuat luka di hati Fuka, gadis yang dicintainya. Kalau boleh jujur, dia juga merasakan sakit yang sama. Namun, tidak ada pilihan lain baginya selain mengikuti dawuh Abah Yai Hamid. Mungkin itu sebagai salah satu bentuk pengabdiannya sebagai seorang santri.
“Sekali lagi, maafkan aku. Mungkin kita memang belum berjodoh. Akang yakin, akan ada lelaki yang lebih baik yang kelak menjadi jodoh kamu, Fuka. Bukalah hatimu untuk lelaki lain setelah ini.”
“Nggak semudah itu, Kang. Hati bukanlah permainan puzzle yang bisa dibongkar, kemudian dipasang lagi untuk mendapatkan gambar yang utuh dan pas.”
Dunia gelap seketika menyelimuti hati Fuka. Serasa ada sembilu yang mengiris hatinya. Sakit dan perih. Merasa tak dianggap selama ini. Dia mundur beberapa langkah, seketika dia merasa benci pada Kang Jaja. Lelaki itu yang telah membuatnya mengenal indah cinta. Namun, tak disangka lelaki itu pula yang kini membuatnya terluka.
“Tuhan, kalau bisa waktu diputar mundur, lebih baik aku tidak pernah kenal dengan Kang Jaja. Sehingga tidak pernah ada rasa cinta ini.” Fuka bermonolog dalam hati.
Menit berikutnya, dia berlari menjauh. Tujuannya adalah segera pulang ke rumah. Tak dihiraukan lagi panggilan dari Kang Jaja, yang menyuruhnya untuk tinggal sekejap. Buat apa, toh Kang Jaja tidak merasakan sakit yang menjalari dadanya.
Sampai di rumah, Fuka segera mengempaskan tubuhnya di atas kasur bersprei bunga mawar. Sebuah bantal diambil untuk menutupi wajahnya yang sembab dan menyamarkan suara tangisan. Sepuasnya dia menumpahkan air mata.
Perjalanan cinta yang dia jalani selama ini berputar bak film di memori otaknya. Dari pertemuan yang tidak disengaja, hingga akhirnya tumbuh cinta. Namun, segala rasa tetap dipendamnya, tanpa berani menyatakan. Sebagai seorang wanita, Fuka memilih mencintai dalam diam. Sampai pada hadirnya sepucuk surat dari Kang Jaja, yang menyatakan kalau dia menyukainya. Dan terang saja membuat hatinya berbunga-bunga. Berarti cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Sampai suatu hari Kang Jaja merencanakan pertemuan yang tersembunyi. Secara dia santri sementara Fuka bukan. Rumahnya tidak jauh dari Pesantren.
Semua kisah mengalir begitu saja, tanpa ada yang tahu tentang hubungan keduanya. Baik keluarga pesantren maupun orang tua Fuka. Mereka bisa menyimpannya dengan rapat atas hubungan yang terjalin.
Sebenarnya selama menjalani hubungan dengan Kang Jaja, sudah ada beberapa lelaki yang datang untuk melamar Fuka melalui Bapaknya. Akan tetapi, ditolak dengan halus oleh Fuka karena dipikirannya hanya ada Kang Jaja. Bahkan, dia sangat berharap bisa membina rumah tangga dengan lelaki pilihannya itu.
Alasan yang Fuka kemukakan pada bapaknya adalah belum siap menikah. Dan orang tua pun memaklumi, tanpa tahu apa yang ada di hatinya. Fuka memilih tidak bercerita pada orang tuanya karena belum adanya kepastian dari Kang Jaja. Jadi, jika sekarang harus seperti ini, pada siapa dia harus mengadu.
“Ya Allah, berikan kekuatan untukku menghadapi semuanya,” bisik Hati Fuka.
Dia pun bangkit menuju jendela dan membukanya lebar-lebar. Berharap hembusan angin yang masuk bisa mengurangi sesak yang ada. Alih-alih kesegaran yang dia rasa, justru malah terdengar jelas alunan lagu dangdut dari rumah sebelah yang berjarak lima meteran. Lagu berjudul Sakit Gigi milik Meggy Z bergema. Liriknya cukup mewakili apa yang ada dia rasakan saat ini.
๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฌ๐ถ
๐๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ต ๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ณ๐ข๐ฉ
๐๐ช๐ญ๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ด๐ข๐ฌ๐ช๐ต ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ฏ๐ช
๐๐ข๐ณ๐ช๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ด๐ข๐ฌ๐ช๐ต ๐ฉ๐ข๐ต๐ช
๐๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ ๐ด๐ข๐ฌ๐ช๐ต ๐จ๐ช๐จ๐ช ๐ช๐ฏ๐ช
๐๐ช๐ข๐ณ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฑ๐ข
๐๐ฆ๐ญ๐ข ๐ณ๐ฆ๐ญ๐ข ๐ณ๐ฆ๐ญ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ณ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ
๐๐ฆ๐ญ๐ข ๐ณ๐ฆ๐ญ๐ข ๐ณ๐ฆ๐ญ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ณ๐ฆ๐ญ๐ข
๐๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ข๐ฌ๐ข๐ณ ๐ข๐ฑ๐ช
๐๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ต๐ถ๐ด๐ถ๐ฌ ๐ฅ๐ถ๐ณ๐ช
๐๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฌ๐ถ๐ต๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ
๐๐ข๐ฑ๐ช ๐ช๐ฏ๐ช ๐ด๐ข๐ฌ๐ช๐ต ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ด๐ข๐ฌ๐ช๐ต
๐๐ฆ๐ค๐ฆ๐ธ๐ข ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข
Tahu aja Bang Shyhan-penghuni rumah sebelah- dengan kondisi hati Fuka. Bisa dipastikan dia yang menyetel lagu itu, secara Bang Shyhan seorang dangduters.
“Eh, tunggu. Kalau nggak salah, Bang Shyhan pernah meminta aku pada Bapak setahun yang lalu. Kenapa sampai sekarang masih sendiri aja. Apa jangan-jangan dia masih menungguku, ya?” tanya hati Fuka yang nggak butuh jawaban.
“Kalau bukan Kang Jaja jodohku, mungkin aja Bang Shyhan yang ditakdirkan untukku.”
Tanpa disadari, ada senyum tipis yang terukir dari bibir Fuka. Dia buka pikiran lebar-lebar, tak mau terkungkung dalam kesedihan yang berlarut-larut. Tak perlu menangisi apa yang memang bukan ditakdirkan untuknya.
Fuka percaya, semua sudah dipersiapkan Allah untuknya. Termasuk tentang siapa yang akan menjadi pendampingnya kelak.
Tentang jodoh, siapa yang tahu???

Magelang, 4 Desember 2021 | Mundy Sae
Pesan Rindu
Rum si Gadis Istimewa
Resep Soto Ayam Rumahan
Masihkah Ada Jodoh untuk Abang Baso?
Nestapa Kehilangan
Rekomendasi
-
Presiden Sri Lanka Kabur ke Maladewa, Setibanya Disambut Protes
14 Juli 2022, 08:05 WIB -
Cara Belajar Efektif dan Efisien
14 Juli 2022, 00:58 WIB -
Sejarah Jalan Braga Paris Van Java, hingga Kebangkitan Pasca Pandemi Melalui Kolaborasi
10 Juli 2022, 10:10 WIB -
Sementara Gugatan PT 0% Berakhir, Akankah Muncul Gugatan Baru Selanjutnya
9 Juli 2022, 17:42 WIB -
14 Isu Krusial RUU KUHP, “Matinya” Fungsi Kontrol Kekuasaan dari Narasi Feodalisme
7 Juli 2022, 13:53 WIB -
32 Daftar Timnas Piala Dunia 2022 Qatar, Grup E dan H Bagai Neraka
16 Juni 2022, 09:35 WIB -
Mobil Listrik, Kelebihan dan Kekurangan Menyambut Transformasi Energi
4 Juni 2022, 10:12 WIB -
Kemunduran Attitude, di Tengah Masifnya Pendidikan Karakter
8 Mei 2022, 14:37 WIB -
Ratusan Warga Telah Pergi, Randu Alas Tetap Kokoh Berdiri
28 Maret 2022, 21:59 WIB -
Sebuah Pengharapan
27 April 2022, 06:06 WIB -
Pemda Kabupaten Tolitoli melakukan Sosialisasi Implementasi Perizinan Berusaha Berbasis Resiko
30 Maret 2022, 21:30 WIB -
18 Penguasa Wanita, Ratu Legendaris di Asia Tenggara, 8 dari Nusantara (1)
28 Juni 2022, 17:55 WIB -
Resep Tumis Genjer
26 Mei 2022, 06:23 WIB