Samenan
Nah, lantas apakah itu samenan? Samenan adalah sebuah tradisi yang umumnya dilakukan oleh masyarakat Sunda (Jawa Barat). Samenan merupakan tradisi atau kebiasaan yang dilakukan di lingkungan institusi pendidikan.
Nusantarapedia.net, Jurnal | Sosial Budaya — Samenan
“Acara Samenan bagi masyarakat Sunda juga dimaknai sebagai adab. Adab yang baik untuk mengucapkan rasa terima kasih kepada para guru yang telah mendidik dan mengajar para siswa.”
Indonesia kaya akan tradisi berupa adat istiadat maupun seni budayanya. Indonesia yang terdiri dari wilayah kepulauan ini menjadikan ragam tradisinya beraneka ragam di setiap daerah.
Ragam kultural pada suku-suku bangsa di Indonesia terbagi ke dalam wilayah kebudayaan masing-masing yang mempunyai kesamaan budaya. Ragam kebudayaan yang berbeda-beda tersebut banyak dipengaruhi oleh banyak faktor, hingga perbedaan tersebut dapat dibedakan menjadi ciri khas atau kekhasan suatu daerah.
Budaya yang di dalamnya terdapat banyak unsur, seperti; sistem pengetahuan, pertanian, ekonomi, bahasa, alat pertanian, sistem adat/norma dan religi, di setiap daerah terbentuk karena faktor geografi dan dinamika sosial yang berbeda dan berkembang.
Ada masyarakat pegunungan, pesisiran, perkotaan, dlsb. Ada masyarakat bermata pencaharian petani, pedagang, pelaut. Ada arus kepindahan penduduk dengan kolonialisme, urbanisasi, migrasi, dlsb. Bahkan ada entitas masyarakat yang perlahan musnah atau menghilang akibat dampak peperangan, pandemi penyakit, dlsb.
Hal tersebut yang akhirnya membentuk menjadi kebudayaan baru oleh entitas masyarakat tertentu atas dasar kesamaan geografi dan sosial (kultural). Dalam hal kesehariannya muncul tata laksana yang menjadi kebiasaan hidup sehari-hari bagi suku atau daerah atau kelompok masyarakat tertentu. Selanjutnya disebut dengan tradisi.
Definisi tradisi menurut wikipedia adalah, kebiasaan (latin: traditio, “diteruskan”) adalah sebuah bentuk perbuatan yang dilakukan berulang-ulang dengan cara yang sama. Kebiasaan yang diulang-ulang ini dilakukan secara terus menerus karena dinilai bermanfaat bagi sekelompok orang, sehingga sekelompok orang tersebut melestarikannya.
Kata “tradisi” diambil dari bahasa latin ”Tradere” yang bermakna mentransmisikan dari satu tangan ke tangan lain untuk dilestarikan. Tradisi secara umum dikenal sebagai suatu bentuk kebiasaan yang memiliki rangkaian peristiwa sejarah kuno. Setiap tradisi dikembangkan untuk beberapa tujuan, seperti tujuan politis atau tujuan budaya dalam beberapa masa.


Nah, lantas apakah itu samenan? Samenan adalah sebuah tradisi yang umumnya dilakukan oleh masyarakat Sunda (Jawa Barat). Samenan merupakan tradisi atau kebiasaan yang dilakukan di lingkungan institusi pendidikan.
Samenan sebuah istilah untuk merayakan kenaikan kelas dan kelulusan siswa madrasah. Samenan pada awalnya berkembang di madrasah-madrasah, namun dalam perkembangannya, praktik samenan untuk menunjuk acara pesta kenaikan atau kelulusan sekolah (wisuda).
Kata “samenan” bukan asli berasal dari bahasa Sunda, meski sekarang sudah menjadi kosa kata bahasa Sunda. Kata “samenan” berasal dari bahasa Belanda yang berarti “bersama atau berkumpul” (Samenan = Kebersamaan).
Acara Samenan bagi masyarakat Sunda juga dimaknai sebagai adab. Adab yang baik untuk mengucapkan rasa terima kasih kepada para guru yang telah mendidik dan mengajar para siswa.
Nah, di atas adalah definisi dan asal usul istilah “samen:samenan” secara umum.
Acara kelulusan di setiap sekolah atau bisa disebut dengan acara samen ini, mungkin sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Sunda khususnya dan Indonesia umumnya. Hampir setiap tahun acara ini selalu diadakan di setiap sekolah, baik di sekolah SMA, SMP, SD, MI ataupun sekolah Madrasah Diniyah.




Samenan di SMA Al-atiqiyah Sukabumi
SMA Al-atiqiyah beralamatkan di Desa Cipanengah, Kecamatan Bojonggenteng, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Acara ini diadakan sebagai bentuk terima kasih murid kepada guru yang sudah mengajar murid-murid selama ini hingga mereka lulus.
Semenjak adanya pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak tahun 2019, acara samenan tidak diperbolehkan untuk dilaksanakan. Nah, setelah masa pandemi seperti tahun kemarin, akhirnya acara samenan atau kelulusan siswa bisa dilaksanakan kembali pada tahun ini.
Hampir semua sekolah SMA SMP SD, serentak mengadakan acara kelulusan pada tanggal 19 Juni kemarin.
Apa saja sih acara-acara atau penampilan yang ada dalam acara kelulusan? Seperti acara kemarin yang berlangsung di sekolah SMA Al-atiqiyah, banyak sekali acara yang ditampilkan di sana. Acara diawali dengan pembukaan marching band oleh siswa, dilanjutkan sambutan dari kepala sekolah tersebut.
Selain itu, ada juga penampilan dari ekskul paskibra yang selalu memukau para penonton yang hadir. Di samping acara-acara yang ditampilkan tersebut, banyak sekali masyarakat ataupun wali murid yang datang untuk melihat acara kelulusan yang berlangsung di sekolah SMA Al-atiqiyah, mulai dari anak kecil hingga dewasa dan orang tua.
Banyak yang datang untuk mengucapkan selamat atas kelulusan ataupun penghargaan yang didapatkan oleh siswa. Tak banyak juga alumni yang bertemu dengan alumni lainnya ataupun bertemu dengan guru tersayang sewaktu masih sekolah disana.
Selain itu, juga ada acara atau penyerahan penghargaan kepada guru yang berprestasi dari pihak sekolah sebagai motivasi dan semangat agar lebih amanah dalam mengemban tugas dalam mendidik dan mengajar murid atau siswa.
Tak hanya itu, siswa yang berprestasi pun mendapatkan penghargaan dari pihak sekolah sebagai murid lulusan terbaik dan ranking satu sampai tiga. Itupun sebagai wujud apresiasi agar murid lebih semangat dan lebih giat lagi dalam belajar, dan mengajarkan kepada murid bahwa usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil.
Selain itu, ada juga penampilan dari upacara adat yang dilakukan oleh murid-murid. Acara demi acara terus berlangsung, seperti yang ditampilkan dari ekskul pencak silat. Penampilan yang ditampilkan dengan diiringi musik dan gerakan-gerakan silat yang sangat bagus.


Sebelum acara selesai, ada lagi penampilan dari siswa yaitu drama dari anak-anak Pramuka. Drama yang bertema kemerdekaan Indonesia dan kolonial Belanda ini, ditampilkan dengan begitu baik. Selain itu, drama ini juga diselingi dengan komedi sehingga sangat menghibur masyarakat yang menonton termasuk saya sendiri. Setelah acara selesai, acara ditutup dengan doa.
Foto: ©2022/Npj/Zha
Mengenal Sejarah dan Trend Henna di Indonesia
Tips Diet Alami
Kemuning
Curug Manglid, Pesona Alam Asri
Bullying, Pengertian dan Dampaknya (1)
Spirit Menjaga Trah, di Tengah Hasrat Individualistik
Belanda Bagian Leluhur Nusantara, namun Harga Mati Penghapusan Penjajahan
Rekomendasi
-
32 Daftar Timnas Piala Dunia 2022 Qatar, Grup E dan H Bagai Neraka
16 Juni 2022, 09:35 WIB -
Per-Tahunnya Tersedia 400 Ribu Lapangan Pekerjaan, Sementara 1,2 Juta Lulusan Perguruan Tinggi
10 Juni 2022, 12:30 WIB -
Harga Pangan Update, Cek Harga di Semua Jenis Pasar Sekitarmu Sampai Hari Raya Idul Adha
10 Juni 2022, 10:29 WIB -
Mobil Listrik, Kelebihan dan Kekurangan Menyambut Transformasi Energi
4 Juni 2022, 10:12 WIB -
Aktualisasi Semangat Kebangkitan Nasional Indonesia Sebagai Substansi Bukan Sensasi
20 Mei 2022, 23:35 WIB -
Anggaran Pemilu 2024 Rp.76 Triliun
18 Mei 2022, 08:54 WIB -
Yang ber-Otak Tak Bakal Mengekor
9 Mei 2022, 12:40 WIB -
Kemunduran Attitude, di Tengah Masifnya Pendidikan Karakter
8 Mei 2022, 14:37 WIB -
Moral Clarity dan Etika Politik Poros Intelektual
6 Mei 2022, 21:52 WIB -
Zinidin Zidan, Kena Mental dan Dramaturgi
3 Mei 2022, 22:45 WIB -
Konstruksi Kerajaan di Jawa, Bangun-Hancur-Pindah (1)
16 April 2022, 20:31 WIB -
PKL, Warung dan Nelayan Se-Kabupaten Tolitoli Terima Bantuan Tunai
8 April 2022, 12:47 WIB -
Jelang Ramadhan Polres Tolitoli Gelar Patroli Dialogis
29 Maret 2022, 07:41 WIB -
Mural, Kajian Semiotik dan Sosiologis
7 Februari 2022, 09:43 WIB -
Mukena Untuk Emak
4 Juni 2022, 02:35 WIB