Rum si Gadis Istimewa
Nusantarapedia.net, Jurnal | Sastra, Cerpen — Rum si Gadis Istimewa
Rumiati, gadis kecil bertubuh kurus dengan mata bulat, hidung minimalis dan rambut keriting itu membolak-balik kalender yang tertempel di dinding ruang tamu.
“Mak, sebentar lagi Rum ulang tahun. Rum ingin acara ulang tahun seperti teman-teman yang lain, bisa kan, Mak?” tanya Rum penuh harap. Dia menatap manik mata Mamaknya, untuk mencari sebuah kepastian.
Mamaknya memalingkan muka, menghindari tatapan putri semata wayangnya. Ada rasa bersalah yang meraja di hati, ketika sudah tiga tahun berlalu, belum pernah memenuhi permintaan anaknya di hari ulang tahun.
“Maafkan Mamak, Rum. Kalau besok ada rejeki, in sha Allah kita buat acara kecil-kecilan di hari ulang tahunmu.”
“Benar ya, Mak! Jangan seperti tahun-tahun kemarin, tak pernah terbukti, padahal Mak udah janji,” kata Rum sambil memajukan sedikit bibirnya.
“Mak bukannya mau ingkar janji, tapi memang belum ada rejeki untuk merayakannya, Rum.”
Rum pun mengangguk, mencoba menerima alasan dari Mamaknya.
“Ya Allah, semoga Engkau mendengar dan mengabulkan doaku kali ini. Semoga ada rejeki untuk Mamak dan Bapak. Aamiin.”
Rumiati pun mengusapkan kedua telapak tangan pada muka, sebagai tanda penutup doanya.
Mamak yang melihatnya pun menitikkan air mata. Namun, di sembunyikan dalam senyuman yang dia bingkai di wajahnya.
“Mas, hari ini beras tinggal satu muk?”
“Iya, Dek, masak aja yang ada, nanti siang aku belikan kalau dapat rejeki,”
Aminah_mamaknya Rum, biasanya masak nasi dua sampai tiga muk setiap harinya, untuk pagi ini satu dulu aja yang penting buat sarapan. Tinggal itu beras yang ada, sementara duit hanya cukup untuk beli lauknya. Tahu atau tempe plus sayuran.
Aminah berdeham, dia mendekat ke arah suaminya dan berkata lirih.
“Mas, Rum minta sesuatu untuk memperingati hari lahirnya?”
“Oh, ya. Memangnya kapan? Usia berapa dia sekarang? Aku sampai lupa… .”
“Tiga hari lagi, Mas. Besok dia berusia sepuluh tahun. Aku nggak sanggup melihat dia merengek kali ini, terhitung dua tahun berlalu tanpa ada yang bisa kita berikan pas hari lahirnya, Mas.”
“Tidak usah terlalu dipikirkan, toh itu bukan sebuah kewajiban, kan?”
“Iya, Mas, tapi…,”
“Berdoa saja, semoga rejeki hari ini dilebihkan oleh Allah.”
“Amin, Mas.”
Rum adalah anak semata wayang, ditengah keterbatasan materi yang dimiliki Bapak dan Mamaknya. Sebenarya Rum adalah anak ke tiga, tetapi dua kakaknya meninggal saat masih dalam kandungan. Semua dikarenakan ada masalah dalam rahim Aminah.
Masih teringat perjuangannya melahirkan Rumiati ke dunia sepuluh tahun yang lalu. Proses kelahiran yang dirasanya cukup dramatis. Waktu itu Rum terlahir saat usia kandungan baru tujuh bulan, jadi lahir prematur. Setelah lahir harus dimasukkan dalam inkubator karena berat badan yang belum memenuhi standar minimal. Sementara Aminah harus dilarikan ke ICU karena mengalami pendarahan hebat. Sebanyak tiga kantong darah dia terima waktu itu. Tak cukup sampai di situ. Ternyata ada robekan dalam rahimnya, dan terpaksa dokter mengambil keputusan untuk operasi pengangkatan rahim. Itu salah satu jalan untuk menyelamatkan nyawa Aminah. Itulah mengapa, dia begitu menyayangi Rum.
Beruntung, waktu itu suaminya masih bekerja di sebuah pabrik yang cukup bonafit. Ada uang jamsostek yang dia terima. Jadi, masalah biaya sudah tidak perlu dipikirkan.
Siangnya, Pak Prambudi_Ayah Rum, pulang dengan membawa kejutan untuk Aminah. Sejak di rumahkan oleh pimpinan karena pandemi, Pak Pram bekerja sebagai kuli di toko bangunan yang ada di kota. Dia tak mempermasalahkan dengan gaji yang kecil, yang penting ada uang masuk, meski hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
“Dek, ini ada rejeki sedikit, terimalah.”
“Iya, Mas, terima kasih.” Dengan berbinar, Aminah menerima beberapa lembar uang berwarna merah dari suaminya.
Saking senangnya, Aminah sampai tak memikirkan dari mana suaminya mendapatkan uang. Baginya, uang itu cukup untuk mengadakan syukuran besok tepat di hari lahir Rum.
“Oh, iya, dari mana Mas dapat uang cukup banyak hari ini?” Aminah akhirnya bertanya karena penasaran.
“Tenang saja, aku tidak utang kok, Dek. Mungkin itu rejeki untuk Rum. Tadi pas melayani pembeli, tiba-tiba aku ketemu teman pas waktu kerja di pabrik dulu. Dia belanja bahan bangunan untuk membuat rumah. Tak berapa lama, dia mengangsurkan uang itu. Aku tertegun sejenak, setelah dipikir-pikir, ternyata dulu dia pernah pinjam uang sama aku.”
“Alhamdulillah, Mas.”
“Iya, bahkan aku sudah tak berharap uang itu kembali, eh ternyata Allah kasih rejeki lewat itu.”
“Masyaallah. Rejeki yang tak terduga.”
Aminah pun tersenyum bahagia dan segera belanja untuk kebutuhan besok. Rencananya akan membuatkan nasi kuning, untuk teman-teman yang ada di TPA tempat Rum mengaji.
Rumiati tampak berbinar bahagia. Saat sore hari, tepat di hari kelahirannya, Mamak bisa memenuhi permintaannya.
Seporsi nasi kuning lengkap dan sebungkus plastik berisi berbagai macam snack telah siap, untuk dibagikan pada teman-teman mengajinya yang ada sekitar tiga puluh orang. Sesederhana itu keinginannya, dan baru di tahun ini terpenuhi.
“Terima kasih, Mak,” ucap Rum hampir menitikkan air mata.
“Iya, Rum, semuanya ini rejeki dari Allah, untuk kamu.”
“Iya, Mak. Ternyata Allah mendengar doa Rum.”
“Selamat hari Milad, ya, Rum. Semoga Allah memberi umur yang berkah. Tetaplah menjadi anak yang kuat dan percaya diri, ya.”
Rum_pun mengangguk dan melabuhkan kepalanya dalam dada Mamak. Ada sesak yang menjalar. Mengingat kondisi fisiknya yang tidak sempurna.
Selama ini Rum harus berjalan dengan dua tongkat penyangga. Semua disebabkan karena kakinya tidak tumbuh normal. Menurut penjelasan dokter, ada saraf yang berkembang tidak sempurna, diakibatkan kelahirannya yang prematur, sepuluh tahun lalu.
Dengan kondisi fisiknya, dia tetap mencoba percaya diri dan mencari sebuah kelebihan di balik kelemahannya. Terbukti, selama duduk di bangku SD, dia selalu mendapat rangking satu. Dan dia menjadi satu murid penyumbang piala terbanyak untuk sekolahnya karena memenangkan lomba deklamasi puisi yang diikuti.
“Bagi Mamak, kamu istimewa, Rum. Dan memilikimu adalah anugrah terindah. Bersyukur sekali Mamak memilikimu, Rum.”
Aminah mencium lembut puncak kepala Rum. Dia selalu bersyukur pada Allah karena masih diberi kesempatan untuk melahirkan, di tengah kondisi rahimnya yang bermasalah.
“Terima kasih, ya Allah. Semoga aku bisa membersamai Rum hingga dia dewasa nanti. Amin.”

Magelang, 20 Juni 2022 | Mundy Sae
Fatamorgana
Menulislah
Betty dan Cokky
Rintihan Hati Petani
Sejarah Kolak dan Resep Dasar Kolak Pisang
Resep Rempeyek dan Sejarahnya
Samenan
Rekomendasi
-
Kedaulatan Digital Adalah Keniscayaan, Bukan Hanya Drama
19 Juli 2022, 10:27 WIB -
Nuklir Membawa Harapan Baru untuk Kehidupan di Planet Bumi
17 Juli 2022, 18:52 WIB -
Cara Belajar Efektif dan Efisien
14 Juli 2022, 00:58 WIB -
Sementara Gugatan PT 0% Berakhir, Akankah Muncul Gugatan Baru Selanjutnya
9 Juli 2022, 17:42 WIB -
14 Isu Krusial RUU KUHP, “Matinya” Fungsi Kontrol Kekuasaan dari Narasi Feodalisme
7 Juli 2022, 13:53 WIB -
32 Daftar Timnas Piala Dunia 2022 Qatar, Grup E dan H Bagai Neraka
16 Juni 2022, 09:35 WIB -
Mobil Listrik, Kelebihan dan Kekurangan Menyambut Transformasi Energi
4 Juni 2022, 10:12 WIB -
Kemunduran Attitude, di Tengah Masifnya Pendidikan Karakter
8 Mei 2022, 14:37 WIB -
Penjual Sapu Yang Menyesal Tak Bersekolah
12 Mei 2022, 00:49 WIB -
Tim Transisi IKN Resmi Dibentuk, Ini Daftar Susunannya
5 Mei 2022, 19:59 WIB -
Gentan Geopark Village, Satu Tujuan Lima Destinasi (2)
19 April 2022, 12:15 WIB -
Buya Syafii Telah Berpulang, Pembaharu Pemikiran Intelektual Muslim Indonesia (2)
28 Mei 2022, 17:12 WIB -
Ketika musim gugur tiba
12 Maret 2022, 18:52 WIB