Mengomel Itu Menyehatkan Mental, Lho!

Lampu Kuning: Jika seseorang bicara lebih dari 30 detik dan mulai membosankan untuk pendengar, ia memasuki lampu kuning. Di sini ia mulai dianggap banyak bicara.

26 Juni 2022, 16:02 WIB

Nusantarapedia.net, Jurnal | Kemanusiaan — Mengomel Itu Menyehatkan Mental, Lho!

“Hingga abad ke-19, undang-undang Inggris, Amerika, dan Eropa mengizinkan kepada seorang suami untuk mengadukan kepada hakim tentang omelan atau “cercaan” istrinya. Bila kasusnya terbukti, istrinya akan dihukum dengan ‘Ducking Stool’.”

Aktivitas mengomel itu identik dengan perempuan. Banyak sebab mengapa perempuan menjadi lebih sering mengomel. Bisa jadi faktor rentannya perempuan terhadap perubahan hormonal, persoalan intern, stress hingga depresi. Sebenarnya aktivitas mengomel tidaklah selalu berdampak buruk.

Banyak hal baik kemudian tumbuh dari omelan perempuan. Seorang ibu yang rajin mengomel kepada anaknya untuk menaruh tas sekolah pada tempatnya, seorang istri yang mengomel kepada suaminya untuk menjemputnya tepat waktu, kebiasaan mengomel untuk hal-hal tersebut akan melahirkan kebiasaan baik yang akhirnya menjadi karakter baik pula. Anak dan suami menjadi disiplin terhadap tanggung jawabnya masing-masing.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Mengomel berasal dari kata “omel” yang berarti marah dengan banyak mengeluarkan kata-kata. Arti lainnya dari mengomel adalah mencomel. Mengomel memuat aktivitas bicara dengan konten yang diulang-ulang. Jadi, mengomel terkesan menjadi hal yang menyebalkan, membosankan dan mungkin juga berisik.

Riset psikologis yang ditulis oleh Jen Kim dalam “Is There Ever an End to Nagging?” dalam Psychologytoday memberi tahu kita bahwa, wanita lebih cenderung menjadi cerewet daripada pria.

Sebagian besar karena perempuan dikondisikan untuk merasa lebih bertanggung jawab untuk mengelola kehidupan rumah dan keluarga. Dan mereka cenderung lebih peka terhadap tanda-tanda awal masalah dalam suatu hubungan. Ketika wanita meminta sesuatu dan tidak mendapatkan respons, mereka lebih cepat menyadari ada sesuatu yang salah. Masalahnya adalah dengan bertanya berulang kali, mereka membuat segalanya lebih buruk (terlihat cerewet).

Fakta Sejarah ‘Mengomel’ yang Mengerikan

Mengomel atau dalam bahasa Inggrisnya “to nag” berasal dari bahasa Skandinavia untuk “to gnaw, nibble atau pick at something.” Di dalam sebagian besar kamus, “nag” adalah kata kerja feminin dengan tidak ada padanan maskulinnya.

Hingga abad ke-19, undang-undang Inggris, Amerika, dan Eropa mengizinkan kepada seorang suami untuk mengadukan kepada hakim tentang omelan atau “cercaan” istrinya. Bila kasusnya terbukti, istrinya akan dihukum dengan “Ducking Stool”. Ducking Stool terkenal digunakan di AS dan Inggris untuk menghukum para tukang sihir wanita, pelacur, pengumpat dan orang yang suka mencaci-maki. Wanita yang suka mencerca akan diikat pada sebuah bangku, yang tergantung pada ujung sebuah busur yang bisa digerakkan dengan bebas, dan dibenamkan ke dalam sungai atau danau terdekat untuk suatu jangka waktu tertentu. Berapa kali dia dibenamkan tergantung pada tingkat kata-kata cacian dan/atau jumlah tindak pidana ringan sebelumnya.

Dikutip dari laman 123dok, Sebuah catatan pengadilan Inggris dari tahun 1592 berbunyi— … istri Walter Hycocks dan istri Peter Phillips terkenal suka mencaci. Dengan demikian diperintahkan agar pihak gereja memberi tahu kepada mereka supaya menghentikan kelakuan suka mencacinya. Namun, bila suami-suami mereka atau para tetangga mengeluh lagi untuk yang kedua kalinya, mereka akan dihukum dengan “ducking stool.”

Bila “ducking stool” masih dipandang belum cukup untuk menghukum, masih ada yang lebih buruk lagi. Beberapa orang wanita nasibnya berakhir dengan diarak keliling kota, untuk menjadi peringatan bagi para wanita lainnya, dengan dipakaikan sebuah topeng besi, “the branks,” yang dikempitkan ke kepala mereka dengan sebatang logam yang masuk ke dalam mulut mereka untuk menahan agar lidahnya tetap di bawah. Wanita terakhir yang mengalami hukuman dengan ”ducking stool” setelah dipidana sebagai “pencaci” adalah Jenny Pipes dari Leominster, Inggris, pada tahun 1809.

Fimela.com menyebutkan berdasarkan sebuah penelitian yang dimuat di Harvard Business Review, ada alasan ilmiah mengapa beberapa orang banyak bicara, yaitu pelepasan hormon kebahagiaan bernama dopamin. Ketika orang bicara, terutama tentang dirinya sendiri, hal itu mampu merangsang pelepasan stres dan pelepasan hormon dopamin yang membuatnya rileks.

Alasan lain orang banyak bicara adalah, manusia merupakan makhluk yang haus perhatian dan selalu ingin didengar. Penulis penelitian, Mark Goulston, mengungkapkan bahwa ada cara mengetahui apakah seseorang termasuk banyak bicara atau tidak, yaitu dari lama waktu bicara, yang ia sebut dengan “aturan lampu lintas”.

Dalam hal ini dijelaskan,

Lampu Hijau: Seseorang berada di lampu hijau jika hanya bicara selama 20 detik. Orang yang mendengarkan menyukainya, selama apa yang dikatakan relevan dengan topik pembicaraan.

Lampu Kuning: Jika seseorang bicara lebih dari 30 detik dan mulai membosankan untuk pendengar, ia memasuki lampu kuning. Di sini ia mulai dianggap banyak bicara.

Lampu Merah: Seseorang memasuki tanda lampu merah jika terus bicara lebih dari 40 detik. Ketika pendengar benar-benar kehilangan ketertarikan dengan apa yang sedang dibicarakan. Di sini, orang tersebut dianggap mulai menyebalkan, bahkan egois.

Penelitian yang dilakukan terhadap 304 perempuan menikah yang hampir mendekati menopause atau setelah menopause ini menemukan bahwa sikap diam justru membuat tubuh stres karena cenderung menahan emosi negatif di dalam diri.

Diam adalah sikap yang menunjukkan tak berani mengungkapkan perasaan. Tak banyak bicara karena menahan perasaan ternyata bisa meningkatkan risiko konstipasi, menaikkan kadar kolesterol, depresi dan obesitas.

Itulah mengapa mengungkapkan perasaan dengan jujur dan bicara dengan keras atau tertawa keras sangat baik untuk menjaga kesehatan mental.

Candikala dan Lingkaran Mitosnya
Bullying, Pengertian dan Dampaknya (1)
Kali Talang, Potensi Wisata Alam yang Menunggu ‘Sentuhan’
Rapor Pendidikan, Terobosan Baru Model Evaluasi Belajar
Ternyata, Marah Tidak Sama dengan Emosi, Lho!
Spirit Menjaga Trah, di Tengah Hasrat Individualistik
Mengkaji Kembali Full Day School (FDS)
Memilihkan Sekolah Untuk Anak di Awal Usia Sekolah
Tradisi Nyumbang dan Pergeseran Nilainya

Terkait

Rekomendasi

Terkini