Mengomel Itu Menyehatkan Mental, Lho!
Lampu Kuning: Jika seseorang bicara lebih dari 30 detik dan mulai membosankan untuk pendengar, ia memasuki lampu kuning. Di sini ia mulai dianggap banyak bicara.
Nusantarapedia.net, Jurnal | Kemanusiaan — Mengomel Itu Menyehatkan Mental, Lho!
“Hingga abad ke-19, undang-undang Inggris, Amerika, dan Eropa mengizinkan kepada seorang suami untuk mengadukan kepada hakim tentang omelan atau “cercaan” istrinya. Bila kasusnya terbukti, istrinya akan dihukum dengan ‘Ducking Stool’.”
Aktivitas mengomel itu identik dengan perempuan. Banyak sebab mengapa perempuan menjadi lebih sering mengomel. Bisa jadi faktor rentannya perempuan terhadap perubahan hormonal, persoalan intern, stress hingga depresi. Sebenarnya aktivitas mengomel tidaklah selalu berdampak buruk.
Banyak hal baik kemudian tumbuh dari omelan perempuan. Seorang ibu yang rajin mengomel kepada anaknya untuk menaruh tas sekolah pada tempatnya, seorang istri yang mengomel kepada suaminya untuk menjemputnya tepat waktu, kebiasaan mengomel untuk hal-hal tersebut akan melahirkan kebiasaan baik yang akhirnya menjadi karakter baik pula. Anak dan suami menjadi disiplin terhadap tanggung jawabnya masing-masing.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Mengomel berasal dari kata “omel” yang berarti marah dengan banyak mengeluarkan kata-kata. Arti lainnya dari mengomel adalah mencomel. Mengomel memuat aktivitas bicara dengan konten yang diulang-ulang. Jadi, mengomel terkesan menjadi hal yang menyebalkan, membosankan dan mungkin juga berisik.
Riset psikologis yang ditulis oleh Jen Kim dalam “Is There Ever an End to Nagging?” dalam Psychologytoday memberi tahu kita bahwa, wanita lebih cenderung menjadi cerewet daripada pria.
Sebagian besar karena perempuan dikondisikan untuk merasa lebih bertanggung jawab untuk mengelola kehidupan rumah dan keluarga. Dan mereka cenderung lebih peka terhadap tanda-tanda awal masalah dalam suatu hubungan. Ketika wanita meminta sesuatu dan tidak mendapatkan respons, mereka lebih cepat menyadari ada sesuatu yang salah. Masalahnya adalah dengan bertanya berulang kali, mereka membuat segalanya lebih buruk (terlihat cerewet).

Fakta Sejarah ‘Mengomel’ yang Mengerikan
Mengomel atau dalam bahasa Inggrisnya “to nag” berasal dari bahasa Skandinavia untuk “to gnaw, nibble atau pick at something.” Di dalam sebagian besar kamus, “nag” adalah kata kerja feminin dengan tidak ada padanan maskulinnya.

Candikala dan Lingkaran Mitosnya
Bullying, Pengertian dan Dampaknya (1)
Kali Talang, Potensi Wisata Alam yang Menunggu ‘Sentuhan’
Rapor Pendidikan, Terobosan Baru Model Evaluasi Belajar
Ternyata, Marah Tidak Sama dengan Emosi, Lho!
Spirit Menjaga Trah, di Tengah Hasrat Individualistik
Mengkaji Kembali Full Day School (FDS)
Memilihkan Sekolah Untuk Anak di Awal Usia Sekolah
Tradisi Nyumbang dan Pergeseran Nilainya
Rekomendasi
-
Presiden Sri Lanka Kabur ke Maladewa, Setibanya Disambut Protes
14 Juli 2022, 08:05 WIB -
Cara Belajar Efektif dan Efisien
14 Juli 2022, 00:58 WIB -
Sejarah Jalan Braga Paris Van Java, hingga Kebangkitan Pasca Pandemi Melalui Kolaborasi
10 Juli 2022, 10:10 WIB -
Sementara Gugatan PT 0% Berakhir, Akankah Muncul Gugatan Baru Selanjutnya
9 Juli 2022, 17:42 WIB -
14 Isu Krusial RUU KUHP, “Matinya” Fungsi Kontrol Kekuasaan dari Narasi Feodalisme
7 Juli 2022, 13:53 WIB -
32 Daftar Timnas Piala Dunia 2022 Qatar, Grup E dan H Bagai Neraka
16 Juni 2022, 09:35 WIB -
Mobil Listrik, Kelebihan dan Kekurangan Menyambut Transformasi Energi
4 Juni 2022, 10:12 WIB -
Kemunduran Attitude, di Tengah Masifnya Pendidikan Karakter
8 Mei 2022, 14:37 WIB -
Soneta Tatengkeng, ”Berikan Aku Belukar” Kekayaan Semesta yang Terabaikan dalam Proses Pembelajaran
27 April 2022, 15:34 WIB -
Sejarah dan Perkembangan Ponsel Hingga Smartphone
24 November 2021, 08:52 WIB -
Satbrimob Polda Sulsel dan Petani Bagi Sayur Gratis ke 100 Panti Asuhan
16 Maret 2022, 10:24 WIB -
Marquez Doyan Rempeyek, Apa Betul?
22 Maret 2022, 16:59 WIB -
Memaknai ”Indonesia Pusaka” di Tengah Wabah
27 April 2022, 13:17 WIB